
Pagi harinya Semua orang dibuat panik dengan menghilangnya Zalika. Dirga tak habis pikir bagaimana gadis kecil itu bisa kabur dan berani memanjat pintu gerbang rumahnya yang tingginya mencapai dua meter.
Ia menduga jika putrinya tidak benar-benar pergi. Ia segera pergi ke belakang rumahnya untuk menemui seorang penjaga rumahnya.
Seketika Dirga merasa jantungnya berhenti berdetak saat mendengar ucapan pria yang menjadi tenaga keamanan rumahnya menyatakan jika putrinya tidak bersamanya.
"Mati aku, kalau zahra tahu putrinya menghilang saat bersamaku, ia bisa membunuhku!"
Dirga kemudian memberitahu ayahnya jika Zalika pergi dari Rumah. Bukannya marah Bahri malah senang mendengar berita itu.
Ia sengaja ingin memanfaatkan situasi itu untuk mengambil hak asuh Zalika dari Zahra.
Bahri segera memerintahkan pengacaranya untuk menyampaikan gugatan hak asuh anak kepada Zahra.
Hari itu juga Zahra terkejut saat mendapatkan pemberitahuan dari pihak pengadilan bahwa suaminya menuntut hak asuh Zalika.
Polisi langsung menggeledah kediaman Zahra untuk mencari keberadaan Zalika. Namun sayangnya mereka tak menemukan gadis kecil itu di sana.
Zahra yang kebingungan kenapa para polisi mencari keberadaan Zalika di rumahnya segera menghubungi Dirga untuk menanyakan apa yang terjadi.
"Zalika kabur semalam, apa dia benar-benar tidak ada bersamamu?" jawab Dirga
"Kau pikir aku menyembunyikan Zalika, asal kau tahu semalam Zalika menelpon ku dan meminta ku menjemputnya tapi aku menyuruhnya untuk tetap di rumahmu, aku sudah berjanji akan menjemputnya hari ini, tapi kenapa kau malah kehilangan dia. Ayah macam apa kamu, bagaimana bisa kamu kehilangan Zalika di rumahmu sendiri!!" seru Zahra begitu emosi saat mengetahui putrinya menghilang
Ia kemudian menghubungi Gading dan memberitahu tentang Zalika yang kabur dari rumah mantan suaminya.
Zahra segera menghubungi teman-teman Zalika berharap putrinya ada di rumah mereka. Namun ia harus kecewa saat semua temannya mengatakan jika Zalika tidak ada di rumahnya.
Wanita itu seperti kehilangan separuh nyawanya saat kehilangan putri semata wayangnya.
"Kenapa tidak melaporkan kejadian ini kepada polisi?" ujar Gading
"Tapi belum ada 24 jam Zalika menghilang,"
"Untuk apa harus menunggu sampai 24 jam, sekarang ayo kita ke kantor Polisi," ucap Gading kemudian mengajak Zahra ke kantor polisi terdekat
"Apa kau yakin dia benar-benar kabur dari rumah Dirga?" tanya Gading
"Dirga sendiri yang mengatakan hal itu, bahkan ia sengaja membawa polisi untuk memeriksa apa Lika ada di rumah atau tidak," terang Zahra
"Apa kau tidak curiga jika mereka sengaja menyembunyikan Zalika agar bisa mendapatkan hak asuh putrimu. Kau bilang hari ini kamu mendapatkan surat gugatan hak asuh anak?"
"Benar juga, Zalika hilang di hari dimana Dirga mencoba mendapatkan hak asuhnya. Apa ini bukan suatu kebetulan??" ujar Zahra
Gading kemudian mengajak Zahra menemui pengacaranya. Ia kemudian memberitahukan kepada pengacaranya tentang masalah hak asuh Zalika.
__ADS_1
Zahra terkejut saat mendengar peluang untuk mendapatkan hak asuh Zalika sangat kecil.
"Satu-satunya cara agar kamu bisa mendapatkan hak asuh Zalika adalah dengan menikahi mas Gading," ucap sang pengacara
"Kenapa harus menikah dengan Gading, memangnya siapa dia?" jawab Zahra
"Sulit bagi orang biasa untuk menang melawan keluarga Bahri saat dipersidangan nanti. Hanya keluarga kaya yang memiliki kekayaan sepadan dengannya yang bisa mengalahkan keluarga Bahri di pengadilan nanti," sahut Sang pengacara
"Dengan kata lain Gading adalah anak konglomerat?" tanya Zahra tak percaya
"Bagaimana kau bisa membohongi aku selama ini," imbuh Zahra
"Apa kau kesal padaku karena aku tidak pernah jujur tentang jatidiri ku?" ujar Gading
"Entahlah, harusnya aku tidak boleh marah karena itu adalah hak mu, maafkan aku yang terlalu baper ini," ucap Zahra
"Aku tidak pernah memaksa mu untuk segera menikah denganku. Jadi jangan terlalu diambil hati," jawab Gading
"Meskipun aku sebenarnya belum siap untuk menikah dalam waktu dekat, namun demi menyelamatkan Zalika aku pasti akan melakukannya. Jadi kapan kita akan menikah?" tantang Zahra
Tentu saja Gading dan pengacaranya seketika tertawa mendengar celoteh dari Zahra.
"Kalau kau sudah mengerti sebaiknya kau pulang saja, dan istirahat saja, biar aku yang menyelesaikan sisanya." ujar Gading
Malam harinya Zahra benar-benar tak bisa tidur. Ia tak tenang saat memikirkan putrinya.
Wanita itu segera bergegas pergi meninggalkan rumahnya ia memutuskan untuk ke rumah Dirga memastikan keberadaan putrinya.
"Apapun akan aku lakukan demi putriku,"
*Ciit!!
Zahra menghentikan mobilnya tepat di halaman rumah Dirga.
Meskipun ia sudah berjanji tidak menginjakkan kaki di rumah itu namun demi menyelamatkan putrinya ia terpaksa mendatangi kediaman mantan suaminya tersebut.
Saat mendengar suara bel rumahnya berbunyi seorang wanita paruh baya keluar membukakan pintu.
Dirga yang melihat kedatangan Zahra segera menyuruh asisten rumah tangganya untuk kembali ke belakang.
"Biar aku saja yang membukanya," ujar Dirga
Dirga segera menarik wanita itu ke luar dari beranda rumahnya.
"Dimana putriku!" seru Zahra melepaskan diri dari cengkraman Dirga
__ADS_1
"Dia tidak ada di sini, jadi pergilah!" sahut Dirga
"Apa ... kau bilang dia tidak ada di sini??, jangan bohong... aku yakin dia ada di sini, dimana dia katakan padaku dimana anakku sekarang!" seru Zahra
"Sudah ku bilang di tidak ada di sini, kenapa kau tak percaya padaku!" sahut Dirga kali ini dengan nada tinggi
Zahra tertawa mendengar jawaban Dirga,
"Kalau dia tidak ada di sini lalu dia ada di mana?, apa kalian sengaja menyembunyikannya untuk merebut hak asuhnya dari ku. Kau memang brengsek, ayah macam apa yang memanfaatkan Kemalangan putrinya untuk mendapatkan hak asuhnya, dasar biadab!" maki Zahra sambil memukul-mukul mantan suaminya
"Aku memang lelaki brengsek dan tak pantas mendapatkan hak asuh Zalika, untuk itu pergilah dari sini. Karena jika kau tetap ada di sini maka itu hanya akan merugikan dirimu," Dirga manarik Zahra keluar dari rumahnya
"Memangnya apa yang akan Kelian lakukan jika aku ada di sini!"
"Kau pasti lebih tahu apa yang akan di lakukan oleh keluarga ku bukan, jadi cepat masuk mobil dan pergilah dari sini sebelum ada yang melihatmu,"
"Aku tidak mau!" seru Zahra mendorong tubuh Dirga
Tiba-tiba terdengar suara orang bertepuk tangan.
Seorang wanita menyeringai saat melihat kedatangan mantan menantunya tersebut, "Lihat siapa yang datang hari ini?" ucapnya dengan senyum mengejek
"Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak datang ke rumah ini lagi tapi kenapa kau malah mengingkari janji mu sendiri. Jangan bilang kau datang ke sini demi menyelamatkan putrimu, jangan bilang kau tidak bisa tidur karena memikirkan anakmu yang hilang," imbuhnya
"Sepertinya kau lebih paham apa yang kurasakan karena sejahat apapun dirimu kau tetaplah seorang ibu," jawab Zahra menatap Merry dengan tatapan sinis
"Wah, semakin lama lidah mu semakin tajam saja. Kau memang satu-satunya menantuku yang selalu menentang ucapanku,"
Melihat adu mulut antara Zahra dan ibunya membuat Dirga mencoba melerai keduanya. Ia bahkan meminta ibunya untuk tidak mengganggu mantan istrinya itu karena ia sudah dua kali menolongnya.
"Ayolah Ibu, jika kau memang masih memiliki hati nurani sebaiknya biarkan Za pergi, jangan pernah lupa kalau ibu masih bisa berdiri di tempat ini karena pertolongan darinya, jadi ibu tolong biarkan Za pergi," pinta Dirga
Merry menatap nyalang kearah Zahra. Ia bisa merasakan kesedihan yang mendalam dalam hati mantan menantunya itu.
Meskipun tatap Matanya tajam namun bahasa tubuhnya mengisyaratkan jika ia sedang rapuh karena kehilangan putrinya.
Ia kemudian membiarkan Zahra pergi meninggalkan rumahnya.
Dirga yang khawatir dengan keadaan Zahra berinisiatif untuk mengantarnya pulang tapi wanita itu langsung menolaknya.
"Tidak perlu repot-repot, aku bisa pulang sendiri dengan selamat," tukas Zahra kemudian melesatkan mobilnya meninggalkan kediaman keluarga Bahri.
"Dimana kau sebenarnya nak??"
Zahra bahkan tak langsung pulang ke rumahnya, ia mencari putrinya di sepanjang jalan dan lingkungan kumuh yang ditinggali oleh para gelandangan.
__ADS_1
"Aku berjanji akan melakukan apapun untuk menemukan mu lagi sayang, dan aku akan membalas siapapun orangnya yang berusaha memisahkan kita," ucap Zahra mengepalkan tangannya