
Zahra terus menyusuri kawasan kumuh yang di huni oleh para gelandangan dan tuna wisma.
Ia bahkan menanyakan kepada mereka tentang putrinya. Namun tak satupun yang pernah melihat putrinya di kawasan itu.
Karena tak berhasil menemukan Zalika, Zahra pun pulang dengan tangan hampa.
Ia kemudian menghampiri kamar Zalika dan mencoba mencari petunjuk di sana. Ia kembali harus kecewa saat tak menemukan apapun disana.
"Sebenarnya kamu dimana nak, apa kau tahu rasanya ibu seperti orang gila saat tak berhasil menemukan mu,"
Pagi harinya, Zahra sengaja tak menghadiri persidangan demi mencari putrinya. Meskipun ia sudah melaporkan kehilangan Zalika ke polisi tetap saja ia tak bisa tinggal diam saat putrinya menghilang.
"Sudahlah serahkan saja semuanya kepada polisi, yang terpenting sekarang adalah kau datang ke pengadilan untuk memenangkan hak asuh Zalika. Karena percuma saja jika kau mencari Zalika tapi setelah dia ketemu dia diasuh oleh orang lain," ucap Gading
"Kau benar, tapi setidaknya aku sudah berusaha mencari putriku dan memastikan dia baik-baik saja, itulah naluri seorang ibu," jawab Zahra
"Biarkan saja mereka berusaha merebut hak asuhnya, aku tidak peduli yang terpenting bagiku sekarang adalah menemukan putriku, kau tahu rasanya kehilangan satu-satunya buah hatimu?" tanya Zahra dengan raut wajah gusar
Gading hanya menggelengkan kepalanya, "Aku tahu itu pasti sangat menyakitkan," ucap Gading kemudian memeluk erat Zahra
"Kau bahkan sampai lupa makan karena terlalu memikirkan putrimu," imbuhnya
Gading kemudian mengajak Zahra ke sebuah restoran.
"Sekarang makanlah yang banyak. Ingat...kau butuh banyak tenaga untuk menemukan Zalika,"
Wanita itu mengangguk dan langsung menyantap hidangan di depannya.
Tidak lama ponselnya berdering, "Halo Bu Jessi, ada perlu apa?" tanya Zahra
"Sebaiknya Ibu segera datang ke sekolah, ada yang harus aku sampaikan kepada ibu tentang Lika,"
"Baik bu, sekarang juga aku akan kesana," Zahra segera mematikan ponselnya dan bersiap pergi. Namun Gading langsung menahannya.
"Habiskan dulu makannya, jangan sampai kau sakit hanya karena tidak makan, kau harus tetap sehat agar bisa menemukan putrimu,"
Mendengar ucapan Gading membuat Zahra kembali duduk dan menghabiskan makanannya.
Gading kemudian mengantar wanita itu ke sekolah Zalika. Setibanya di sana mereka segera menuju ke ruang guru untuk menemui Bu Jessi.
__ADS_1
Bu Jessi kemudian menunjukkan sebuah pesan yang di kirim oleh nomor tak di kenal yang mengaku sebagai Zalika.
"Jadi Lika berada di rumah temannya?" tanya Zahra
"Benar, tapi sepertinya teman yang dimaksud Lika bukan teman sekelasnya. Karena aku sudah menanyakan kepada semua anak kelas satu dan mereka bilang Lika tidak ada di rumahnya," jawab Bu Jessi
"Lalu teman yang mana?"
"Apa Lika punya teman dekat di lingkungan rumahnya atau di tempat terapinya?" tanya Bu Jessi
Zahra langsung menggelengkan kepalanya, "Ia tak punya teman dekat, Ibu tahu kan kalau dia itu seorang yang introvert dan susah bergaul, jadi mana mungkin ia punya teman," sahut Zahra
"Kalau begitu kenapa tidak kau hubungi saja nomor itu, aku yakin dengan begitu kau bisa mengetahui keberadaan Lika," ujar Gading
"Benar,"
Zahra segera menghubungi nomor tersebut, namun beberapa kali ia menghubunginya selalu di reject oleh pemilik nomor tersebut.
"Selalu di reject," ucap Zahra
"Fix, dia berusaha menyembunyikan keberadaan putrimu, aku yakin Lika berusaha memberitahu Bu Jessi karena ia tahu si penculik tak mau menghubungi dirimu," jawab Gading
Ia segera berpamitan dengan bu Jessi dan bergegas pergi. Zahra yakin jika orang yang menculik putrinya adalah Delia. Ia kemudian mengajak Gading untuk menemui Delia di kediamannya.
Setibanya di kediaman Delia, Zahra langsung menerobos masuk mencari keberadaan putrinya.
"Lika dimana kamu nak!" seru Zahra sambil memeriksa setiap ruangan rumah Delia.
Delia yang merasa kesal karena menganggap Zahra tak sopan dengan mengacak-acak rumahnya berusaha menghentikannya.
"Please berhenti mengacak-acak rumahku karena putrimu tidak ada di rumahku!" hardik Delia
Zahra segera membalikkan badannya dan menatap nanar kearah Delia.
"Kalau dia tidak ada di rumah ini lalu dimana kau menyembunyikan putriku?" tanya Zahra
"Jangan gila, meskipun gue benci sama lo tapi gue gak bakal menculik Zalika. Gue gak mau berurusan dengan keluarga Bahri," sahut Delia
"Kalau bukan kau yang menculik Zalika lalu siapa!"
__ADS_1
"Harusnya kau yang paling tahu, siapa orang yang paling membenci mu," jawab Delia
Zahra seketika lemas saat tak menemukan Zalika di kediaman Delia.
"Aku tahu kau pasti sangat frustasi sekarang, sebaiknya untuk saat ini kau fokus saja menghadapi sidang mu, aku yakin mereka sengaja menggunakan momen hilangnya Zalika untuk membuatmu lemah hingga mereka berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan darimu yaitu hak asuh Zalika. Aku tahu mereka sangat menginginkan cucunya yang selama ini di buangnya untuk mendongkrak harga saham perusahaan yang sedang turun. Mereka ingin mengambil simpati publik dengan mempublikasikan bahwa mereka mau menerima cucunya yang berkebutuhan khusus," terang Delia
"Kenapa kau memberitahukan ini padaku?" tanya Zahra
"Anggap saja itu sebagai permintaan maaf dariku karena dulu aku sudah mengkhianati mu," jawab Delia
"Bagaimana kau bisa tahu semua ini?" telisik Zahra
"Sebagai menantu keluarga Bahri, aku tahu posisi ku selalu terancam kapanpun itulah sebabnya aku selalu mawas diri dan menyadap semua yang mereka perbincangkan. Namun sayangnya setelah aku di usir dari rumah itu, mereka menemukan semua alat pengintai yang sudah ku pasang untuk mengetahui pergerakan mereka." papar Delia
"Dalam kasus ini aku akan berpihak padamu, aku akan membantumu sebisaku agar kau mendapatkan hak asuh Zalika," imbuhnya
"Kenapa??" tanya Zahra
"Karena aku tahu hanya kau yang sanggup melawan keangkuhan keluarga itu, jika kau berhasil memenangkan hak asuh Zalika maka aku pun turut senang karena berhasil melihat mereka hancur," jawab Delia
"Kalau begitu bantu aku menemukan putriku," ucap Zahra
"Hmmm, mustahil anak genius seperti Zalika diculik oleh seseorang, dia terlalu cerdik untuk bisa meloloskan diri dan kembali padamu, aku yakin ini bukan penculikan," jawab Delia membuat Zahra tercengang
"Benar, tidak mungkin Zalika memberi tahu kepada Bu Jessi kalau dia baik-baik saja. Tapi kalau dia tidak di culik lalu dimana dia berada?" tukas Zahra
Delia kemudian menceritakan tentang Zalika saat ia selalu menyuruhnya untuk makan cokelat karena ingin mengacaukan pameran lukisan seni waktu itu.
Ia kemudian menceritakan jika Zalika selalu mendatangi sebuah tempat dimana gadis kecil itu selalu memberikan sebagian bekalnya kepada seorang gadis kecil.
"Apa dia punya teman?" tanya Zahra membelakakan matanya
"Sepertinya begitu, tapi ia selalu melarang ku ikut saat dia masuk ke rumah itu,"
"Apa kau tahu dimana rumah itu?"
"Tentu saja," sahut Delia
"Kalau begitu antar aku kesana sekarang,"
__ADS_1