
"Kamu cantik Za?"
tiba-tiba kalimat pujian itu muncul begitu saja dari bibir Juni yang terpukau memandang kecantikan Zalika di bawah cahaya rembulan.
"Semua wanita itu cantik Jun, karena kalau ganteng itu cowok," jawab Zalika membuat Juno tertawa
"Iya kau benar Za, sorry!"
"Sorry untuk apa??" tanya Zalika
"Sorry karena aku sudah membiarkanmu sendirian memesan jus, sehingga kamu jadi seperti ini. Maafkan aku karena aku gagal menjagamu, Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada ibumu saat me ngantarmu nanti apalagi jika ia melihat luka lebam di pipimu," jawab Juno dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Jangan khawatir, biarkan aku yang menjelaskan semuanya." jawab Zalika kemudian mengajak Juno kembali masuk ke kafe.
Saat melihat pria yang berusaha melecehkannya mulai sadar, Zalika pun melepaskan kemarahannya dengan menghajarnya menggunakan sepatunya.
"Rasakan itu, dasar pria mesum!" seru Zalika setelah puas memukulinya
"Sepertinya kau mabuk Za, memangnya kau minum berapa banyak?" tanya Juno
"Hanya satu gelas cocktail saja bisa mabuk?" jawab Zalika balik bertanya
"Itu bukan cocktail biasa Za, itu minuman beralkohol," jawab Juno
Kini keduanya sudah tiba di meja mereka. Wibi dan Marsel tampak menganga melihat Zalika yang terlihat berbeda.
"Cantik!" ucap mereka berdua berbarengan
Juno segera membuka jaketnya dan memakainya kepada Zalika saat kedua temannya terus memandangi belahan Zalika yang menyembul jelas.
"Ah sialan Lo Jun!" gerutu Wibi
"Apaan sih kalian, dasar mesum!" hardik Juno
"Memangnya lo gak Mesum Jun, jangan. Munafik dari tadi lo udah puas kan liatin itu," ucap Marsel
"Aku tidak munafik, aku juga sama seperti kalian. Tapi apa aku tega melihat milik adikku sendiri. Dan apa aku membiarkan orang lain menikmati milik adikku, tentu saja tidak!" sahut Juno
Zalika tampak memandangi Juno dengan tatapan mata sayu.
"Jadi selama ini kau memperlakukan aku dengan baik, karena kau menganggap ku sebagai adikmu," ucap Zalika tampak kecewa.
Ia kemudian duduk dan menyambar minuman Marsel dan meneguknya hingga habis. Juno berusaha menghentikannya saat Za hendak meminum minuman Wibi.
"Kenapa, kau tidak mau adikmu menjadi dewasa?" tanya Za menatap nanar kearah Juno
"Bukan begitu Za, tapi bukankah kau sendiri yang bilang, kau tidak boleh minum-minuman beralkohol karena tak baik untuk kesehatan," jawab Juno
"Kamu sama saja seperti mamahku yang selalu melarang ku melakukan sesuatu yang belum pernah aku lakukan, kau jahat!" seru Zalika kemudian memukuli Juno
"Tentu saja semua itu aku lakukan karena aku sayang sama kamu," jawab Juno
"Sayang sebagai Adik??" jawab Zalika menatapnya sinis
__ADS_1
"Tentu saja, karena kau mengingatku kepada adikku,"
"Tapi aku tidak mau, aku tidak mau jadi adikmu," jawab Za mendorong Juno
"Kenapa Za?"
"Karena aku menyukaimu!" seru Zalika membuat ketiga pria di depannya ternganga di buatnya
"Ehemm, sepertinya ada yang mulai terjerat cilok, eh Cinlok!" seru Wibi
"Sebaiknya kamu pulang Za, sekarang kamu mabuk berat!" ucap Juno kemudian menggandeng lengan gadis itu
"Aku gak mau pulang, aku masih mau di sini," tolak Zalika
"Udah pulang aja Za, cuci kaki, terus bobo, jangan lupa minum susu," goda Marsel
Zalika yang tak suka dengan candaan Marsel langsung melirik sinis kearahnya.
"Ups sorry," ucap Marsel meralat ucapannya.
"Yaudah kalau gitu kita juga cabut," ucap Wibi kemudian menyambar jacket kulitnya. Pria itu kemudian memakai jaketnya dan mengemasi barang-barangnya.
"Aku pulang sama Pak Wibi saja," ucap Za kemudian menggandeng lengan pria itu.
Juno tampak menghela nafas. Ia tahu Zalika sedang kesal dengannya sehingga percuma saja memaksanya. Toh itu hanya akan membuat gadis itu semakin menjauhinya.
"Ya sudah terserah kamu saja,"
Juno kemudian mengajak Wibi berbicara empat mata. Ia kemudian meminta kepada teman sekaligus atasannya itu untuk menjelaskan kepada orang tua Za apa yang terjadi.
"Ok bro, aku percaya, hati-hati ya," tukas Juno melepas kepergian Wibi dengan Zalika.
Marsel menepuk pundak Juno, "Santai aja bro, dia kan lagi mabok jadi ngelantur gitu ngomongnya. Pasti besok dia udah lupa dan balik lagi kaya biasa," hibur Marsel
"Tetap saja aku gak enak sama dia, aku ngerasa bersalah karena kejadian yang tidak mengenakan hari ini," timpal Juno
"Apa aku perlu pesen Bir lagi?"
"Gak usah Sel, kita pulang aja,"
"Kuy,"
Kedua pria itu kemudian menuju ke parkiran.
"Eh lupa kita gak bawa kendaraan, terus mau naik apa Bro?" tanya Marsel
"Gojek ajalah,"
"Yaudah kalau gitu aku pesenin ya,"
"Gak usah Sel, aku sendiri saja, aku mau jenguk adek ku dulu sebelum pulang,"
"Sip,"
__ADS_1
Tak lama sebuah motor menghampiri Juno.
"Gue duluan Sel,"
Juno melambaikan tangannya kearah Marsel. Bukannya pulang atau menjenguk adiknya di panti asuhan Juno justru meminta sang driver ojek untuk mengikuti mobil Wibi.
Sementara itu Zalika terlelap di dalam mobil Wibi.
"Yah kok tidur sih Za, rumah lo dimana!" seru Wibi ia kemudian menghentikan mobilnya dan berusaha membangunkannya.
"Jangan tidur dulu, dimana rumah lo!" seru Wibi mencoba membangunkan Zalika
Kelopak mata Zalika mulai terbuka perlahan-lahan. Iris coklat bercampur kemerahan menandakan betapa ngantuknya gadis itu.
"Ada apa sih," jawab Zalika sambil mengucek-ngucek matanya
"Rumah lo dimana, gimana gue mau nganterin lo pulang kalau rumah lo aja gak tahu," jawab Wibi
"Jalan Kemuning 27 Jagakarsa," jawab Zalika
"Ok," jawab Wibi kemudian memasang GPSnya
"Berasa kaya driver ojol gue!" ucap pria itu menggaruk-garuk kepalanya
Ia kemudian melajukan kembali mobilnya menembus jalanan ibukota yang mulai lengang.
Wibi melirik kearah Zalika yang diam termangu.
"Kok gak tidur lagi Za?" tanya Wibi
"Udah gak ngantuk lagi," jawab Zalika dengan ketus
"Sorry," jawab Wibi kemudian menambah laju kendaraannya.
Ia menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah bercat hijau dengan bunga-bunga cantik menghiasi halaman rumahnya.
Seorang wanita paruh baya yang sedari tadi menunggu di beranda rumah segera berlari menghampirinya.
Wibi segera turun dan menyapa wanita itu.
"Selamat malam Tante?" sapanya ramah
"Malam, anda siapa ya, kok bukan Juno yang mengantar Lika pulang?" tanya Zahra
"Kebetulan Juno ada urusan Tante jadi ia meminta aku untuk mengantar Za pulang,"
Zahra mengamati luka lebam di wajah putrinya.
"Kamu kenapa nak, kok sampai lebam gini?" ucapnya sambil mengusap wajah Zalika
"Aku jatuh mah tadi,"
Indra penciuman Zahra langsung bergerak-gerak saat mengendus aroma alkohol dalam diri putrinya.
__ADS_1
"Kamu mabok Lika?" tanyanya membelalak
"Sedikit mah, maaf tadi Lika asal minum, ternyata malah minuman beralkohol," jawab Zalika dengan entengnya