
Di ruangan BK, seorang murid yang sering bertamu, dan pagi-pagi ini pun ia bertamu kembali. Menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, Davin hanya memainkan jari jemarinya tanpa ada niatan untuk mendengarkan ceramah sang guru.
Brakk..
"Sans, Bu. Gak usah marah-marah, nanti keriputan lho." Davin bukannya merasa takut pada Bu Asih yang menggebrak meja, dia justru menantangnya. Membuat guru BK itu menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya.
"Astaga Davin, Ibu sudah tidak tahu lagi harus gimana ngomong sama kamu," sahutnya memijat pelipis penuh dengan frustasi.
"Ngomong apa, Bu?" tanya Davin menarik satu alisnya. Membuat Bu Asih semakin geram saja.
"Davin.." sedikit berteriak hingga Davin menutup kedua telinga dengan tangannya sambil mata yang berputar jengah.
"Iya bu, iya. Saya ada di sini. Gak perlu keras-keras manggilnya, saya dengar kok, Bu."
"Keluar!" sergah Bu Asih yang mendadak jantungan menghadapi tingkah Davin. Murid badung itu.
"Dari tadi dong, bu, nyuruh saya keluarnya!" Beranjak, Davin membalikan tumit.
"Pintunya tutup gak, Bu?" tanyanya setengah bercanda ketika sudah di ambang pintu dan hendak ke luar ruangan yang bertuliskan BK di pintunya itu.
"Tutup!" sahut Bu Asih jengkel.
Pagi ini Davin sang idola para hawa kembali berhasil mengerjai gurunya lagi. Membuat semua guru angkat tangan menegur Davin yang bangornya kelewat batas.
Setelah keluar dari ruang BK, Davin tidak langsung ke kelasnya, melainkan pemuda itu pergi ke kantin sambil memasang headset ke telinganya. Musik menyala di aplikasi ponselnya.
Berjalan dengan langkah santai, kedua tangan ia masukan ke dalam saku celana abunya. Terlihat keren memang, tapi sayang bangornya yang gak ketulungan.
"Teh manis, Bi!" sahut Davin pada Bi Siti yang mempunyai warung di kantin sekolah itu.
Duduk di salah satu kursi plastik begitu saja, sambil menjetik-jetikan jemarinya karena terlalu menikmati lagunya.
"Gak masuk kelas, Den?" tanya Bi Siti menyimpan gelas jangkung yang berisi es teh manis di atas meja panjang dengan kursi plastik yang berjejer.
"Bi Siti lihatnya kek gimana?" tanya Davin balik, membuat Bi Siti mengerjapkan matanya pelan.
"Aden ada di sini," sahutnya.
"Berarti?"
"Aden gak masuk kelas," jawab Bi Siti lugas.
__ADS_1
"Kalau udah tahu ngapain nanya?" Davin dengan santai menyedot es teh manisnya.
"Iya ya, ngapain Bibi tanya?" Bi Siti sampai garuk-garuk kepala bingung dan berlalu dari hadapan Davin.
**
Di sekolah lain, hari ini kelas Zeasy free, karena guru yang tengah mengadakan rapat dadakan. Entah apalah yang akan menjadi pembahasan rapat.
Berkali-kali Zeasy membolak balikkan wajahnya yang sedang menelungkup di atas meja, dan kedua tangan sebagai bantalnya.
Mengerjapkan mata dengan kasar, masih mencerna apa yang dibicarakan Elang ketika di telpon sesaat sebelum gadis itu berangkat sekolah.
"Nanti aku jemput lagi, ya pulangnya!" decaknya Elang.
Tak ada yang special memang dari ucapan Elang di telepon itu. Lantas apa yang menjadi Zeasy seperti sedang dilanda kegundahan?
Mengingat akan satu hal bersama Elang. Yaitu ciuman Elang yang masih terasa di bibir Zeasy. Bagaimana bisa gadis itu bertemu Elang dengan keadaan pipi yang memanas. Oh tidak-tidak, Zeasy harus menolak dulu untuk saat ini.
"Astaga Zeasy, keknya loe musti ke THT deh!" Entah panggilan Rossy itu sudah yang keberapa kalinya memanggil Zeasy. Sampai Rossy di dekat gadis itu pun, Zeasy hanya acuh tak acuh saja.
"Berisik deh loe, Cy," sahutnya masih menelungkupkan wajah di atas meja.
"Napa, leo? Kemaren bahagia banget perasaan, sekarang galau gitu. Kek bunglon aja deh berubah-ubah," decak Rossy kesal duduk dikursi samping Zeasy.
"Bodo," decak Rossy lagi mengubah posisinya menghadap papan tulis.
"Dasar!" Zeasy menoyor pelipis Rossy.
Siang itu sekolah sudah dibubarkan. Bersamaan dengan Zeasy yang keluar menuju parkiran, di sana, tepat di depan gerbang sekolah Elang sudah menunggunya. Bersandar pada pintu mobil, melambaikan tangan pada Zeasy dan tangan yang lain ia masukan ke dalam saku jeans-nya.
"Cie-cie yang dijemput pacar," cibir Rossy yang ada di belakang Zeasy.
Zeasy menoleh padanya kemudian mengernyit heran. "Sejak kapan loe ada di belakang gue?" tanyanya dengan tangan terlipat di dada.
"Sejak loe main pandang-pandang sama master," decaknya dengan menaik turunkan alisnya. Rossy memang sesuatu!
"Btw loe pacaran sama Kak Elang? Sejak kapan? Kok gue gak tahu?" Entah itu pertanyaan apa desakan, yang dilontarkan Rossy pada Zeasy. Hingga tidak bisa kalau Zeasy tidak memutar bola matanya jengah.
"Dari kemaren loe kepo mulu deh, Cy." Zeasy tidak suka, wajahnya beringsut kesal.
"Aelah, Neng, udah biasa kalee gue kepo. Lagian kalau loe jadian sama Kak Elang, gue ridho kok," sahutnya sambil menyender bahu Zeasy dengan bahu Rossy.
__ADS_1
Cek!
"Gue gak pacaran!" tegas Zeasy.
Dan memang benar tidak bukan? Zeasy dan Elang tuh tanpa status gak jelas. Gimana mau dibilang pacaran jika Elang saja tidak pernah mengungkapkan perasaanya. Ah kenapa menyebalkan ya digantung seperti gini?
"Masa." Lagi-lagi Rossy menyender bahu Zeasy hingga gadis itu hampir terhunyung jatuh. Kali ini cibirannya dengan satu kedipan mata Rossy.
"Iya bener, cius gue."
"Masa iya?"
"Cek! Nyebelin deh loe, Cy." Zeasy kemudian membalikan tumit. Bersamaan dengan melihatnya pada Elang, bersamaan itu pula Elang tengah di kerubungi siswi-siswi centil yang meminta tanda tangan dari Elang.
Seketika sorot mata Zeasy memancarkan ketidak sukaan. Dan hatinya meradang.
Rossy yang masih di samping Zeasy tidak lepas dari memandang wajah sahabatnya itu. Dan Rossy tahu sorot mata Zeasy memancarkan kecemburuan.
"Gue balik," sahutnya tiba-tiba merogoh kunci motor dan siap menghidupkan mesin motornya.
"Loe cemburu? Cie-cie yang-"
Rossy seketika langsung membungkam mulutnya dengan tangan kanannya. Saat mata Zeasy melayangkan tatapan horor pada Rossy. Kemudian Rossy mengangkat tangan dan membentuk jarinya seperti hurup V. Dengan cepat gadis itu berlari ke arah motor maticnya sambil cekikikan pelan.
"Kak Elang, ya ampun aku tuh kaya mimpi bisa punya tanda tangan Kak Elang. Makasih ya."
"Kak Elang kapan-kapan ngedate dong sama aku!"
"Kak Elang, nanti malam makan malam yuk sama aku!"
Dan masih banyak lagi buayan-buayan receh yang bikin Elang mual seketika dari ciwik-ciwik alay di depannya.
Elang pun hanya diam mematung tanpa ekspresi. Rahangnya tuh seperti kaku dan tidak bisa tersenyum.
Detik selanjutnya mata Elang mendapati Zeasy berlalu dengan motor trail-nya bersama dengan Rossy di belakang mengikuti motor Zeasy.
Elang buru-buru membuka pintu mobil dan menghidupkan mesin mobil itu, menyusul Zeasy yang sudah jauh dari pandangan matanya. Sampai Elang lupa jika sabuk pengaman tak ia pasang. Oh Zeasy membuat Elang tidak mengerti dengan tingkahnya itu.
TBC
Mending digantung apa menggantung gayss?
__ADS_1
Like-nya dong yang udah baca. Kasihan nih masih sepi jempolnya gengss... Ku menangissssssss