
Kehampaan yang selama ini Zeasy rasakan. Merasa hanya hidup sendiri walau gadis itu punya segalanya. Materi yang kedua orng tuanya berikan tak mampu membuat Zeasy merasakan bahagia. Bukan itu yang Zeasy mau. Zeasy hanya ingin orang tuanya memberikan sebuah perhatian padanya, walau itu hanya secuil saja.
Memiliki kehidupan sempurna merupakan salah satu impian Zeasy. Tapi mimpi itu mungkin hanya sebuah angan yang tak akan sanggup Zeasy gapai.
Disebuah rumah besar. Zeasy selalu terbiasa menghabiskan waktunya dikamar atau di rooftop. Tempat yang membuat Zeasy merasa nyaman.
Kesendirian sudah terbiasa baginya. Walau itu bukan yang diharapkan. Tapi mau tak mau Zeasy harus menerima sebuah kenyataan yang menyakitkan.
"Non, ini sudah malam. Jangan terlalu lama di luarnya! Nanti non Zeasy bisa sakit" Bi May, pembantu yang selalu menemani Zeasy. Bukan hanya menemani. Tetapi Bi May lah yang selalu merawat Zeasy. Bahkan Bi May bagaikan ibu kedua bagi Zeasy.
"Biarkan Zeasy sakit, bi. Kalau itu bisa membuat Dady sama Momy bisa memperhatikan Zeasy" Miris mendengar apa yang Zeasy tuturkan. Hanya ingin sekedar perhatian saja apa Zeasy harus sakit dulu? Tapi jika sakit juga percuma. Karna itu tak akan merubah keadaan dan kenyataan.
"Non Zeasy jangan ngomong seperti itu. Mungkin bapak sama ibu lagi ada banyak kerjaan." usapan tangan dari seorang pembantu yang hanya bisa Zeasy rasakan. Disaat seperti ini Zeasy butuh sesosok usapan ibu yang dapat menenangkan hatinya.
"Kapan kerjaan Dady sama Momy selesai, Bi? Zeasy tak butuh waktu lama untuk Dady sama Momy meluangkan waktunya. Walau cuma lima menit saja Zeasy ingin, Bi. Tapi boro-boro lima menit, lima detik saja bagi mereka itu sangat penting. Hanya uang yang penting bagi mereka, Bi." Zeasy hanya bisa menyadari itu semua.
Buliran-buliran air mata yang kini telah lolos terjun membasahi pipi Zeasy. Tak sanggup rasanya Zeasy menahan semua beban yang memberati kehidupannya. Sungguh Zeasy sangat ingin berteriak untuk saat ini. Ingin meluapkan segala beban yang serasa ia pikul sendiri.
**
Sementara dikediaman Rosy, keharmonisan itu terjalin. Sangat berbeda dari kehidupan seorang Zeasy Virnafasha Collin. Walau Rosy sudah tak punya seorang ayah. Tapi itu tak membuat Rosy merasa kalut. Karena Rosy mempunyai seorang Bunda yang begitu sempurna.
Terkadang Zeasy pun sangat merasa iri dengan kehidupan Rosy, sahabatnya. Walau hanya mempunyai seorang Bunda. Tapi itu tak membuat Rosy merasa sedih. Mungkin Rosy sadar jika Tuhan memilih kebahagiaan dalam bentuk seperti itu untuk Rosy.
Ayah Rosy meninggal sejak Rosy berumur 12 tahun. Rosy anak tunggal. Tapi Rosy punya seorang sepupu laki-laki yang sangat menyayanginya. Jadi Rosy bisa merasakan kasih sayang dari sepupu dan keluarganya. Walau gadis itu sudah tak lagi punya seorang ayah.
"Bun, Kak Reza mau pulang ke Jakarta" Rosy yang baru saja mendapat telpon dari Reza. Berlari menuruni anak-anak tangga. Berteriak heboh memanggil Bundanya.
"Jangan teriak-teriak, Cy!"
"Rosy seneng, Bund. Sudah lama banget Rosy gak ketemu Kak Reza." Saking senangnya Rosy sampai memeluk Bundanya yang sedang memasak.
"Kapan Kak Reza pulangnya?" tanya Ana yang tak mengalihkan pandangannya dari sayuran yang tengah ditumis. Tangannya sibuk mengaduk-ngaduk tumisan itu.
"Bulan depan, Bun" tangan Rosy masih melingkar di lengan Ana. Walau Rosy gadis tomboy. Tapi gadis itu sangat manja jika bersama dengan Ana.
Berbeda dengan Zeasy. Kehidupan setiap insan memang tidaklah sama. Karena Tuhan telah menggariskan kehidupan masing-masing setiap manusia.
__ADS_1
"Masih lama. Kamu sudah heboh saja" Ana terkekeh melihat putrinya itu.
"Satu bulan itu sekarang bagai satu minggu, Bun" Rosy kini duduk dikursi yang ada didapur.
"Cy, Zeasy bagaimana?"
Ya, Zeasy yang sering mengeluh pada Ana. Membuat Ana mengerti akan keadaan gadis itu.
"Masih seperti itulah, Bun." Tak tau harus menjawab seperti apa lagi Rosy jika Ana bertanya tentang Zeasy.
Dua tahun bukan waktu yang sedikit, bagi Zeasy dan Rosy lebih mengenal satu sama lain. Persahabatan yang mereka jalani kurang lebih dua tahun itu membuat mereka menjalaninya lebih dari sekedar sahabat.
"Besok pulang sekolah ajak Zeasy ke butik ya!" Ana menatap Rosy. Rosy pun hanya mengangguk patuh.
**
"Dav, gue gak mau putus sama loe" Clara gadis yang waktu itu diputusin oleh Davin. Entah wanita yang keberapa seorang Clara diputusin Davin. Tak terhitung bagi Davin yang mempunyai mantan kekasih berapa biji.
"Dav," Clara mengguncang lengan kanan Davin. Tetapi Davin tak menggubrianya. Pemuda itu hanya sibuk dengan sebatang rokoknya saja.
"Apa?" bagaikan tak punya dosa, Davin masih bisa berbicara santuy. Menghisap rokok dan meniupkan kepulan rokok itu ke udara.
"Aku gak mau putus" Clara menundukan wajahnya. Tak sanggup lagi menahan cairan beningnya.
"Gue udah bosen sama loe" begitu gampang kah Davin berbicara kata bosan pada seorang gadis?
"Dav, tapi loe udah ngambil sesuatu yang berharga dari gue" tetesan demi tetesan lolos terjun membasahi pipi Clara.
"Cuma ciuman doang" Davin masih tak bergeming. Tiupan asap yang berasal dari rokok itu, membuat Clara menjadi terbatuk. Karena kepulan yang sangat mengitari udara.
"Dav, loe jahat. Walau cuma ciuman, itu ciuman pertama gue. Dan loe udah ambil itu dari gue." Clara terkekeh.
Davin beranjak dari duduknya.
Malam itu Clara sengaja mengajak Davin untuk bertemu disebuah cafe. Untuk mengajaknya menjalin hubungan kembali. Karena Clara tak bisa begitu saja diputuskan Davin. Siapa yang tak sesak, baru beberapa minggu menjalin hubungan. Dan hubungan itu harus kandas begitu saja.
Clara mengejar Davin yang sudah berada dipintu masuk cafe.
__ADS_1
"Davin" Clara berteriak memanggil Davin. Menghiraukan tatapan semua pasang mata yang kini tengah menatap ke arahnya.
"Davin" Clara berhasil mencekal tangan Davin yang akan membuka pintu mobilnya.
"Apa lagi?" Davin kembali menutup pintu mobil itu. Berbalik menghadap Clara.
"Aku gak mau putus." Clara masih kekeh dengan ucapannya. Sedangkan Davin sendiri hanya memutar bola matanya.
"Gue udah bosen. Gimana dong?" Davin masih dengan keputusannya.
"Aku gak peduli kamu udah bosen. Yang pasti aku gak mau putus." Clara kini justru berhambur memeluk Davin.
Davin mengangkat kedua tangannya untum memegangi kepalanya. Enggan membalas pelukan Clara. Pemuda itu menghela nafasnya kasar.
"O My God," saat mata Davin mendapati seseorang pengendara motor trail yang waktu itu sempat ia kejar berhenti tepat disamping mobilnya.
Pengendara itu membuka helmnya setelah mematikan mesin motornya. Mata Davin seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat. Seorang perempuan yang mengendarai motor itu.
"Ini gila!" Davin menatap tajam ke arah orang itu.
"Apanya yang gila, Dav?" Clara yang saat itu memeluk Davin. Melonggarkan pelukannya dan mendongakan wajahnya.
"Gue harus kejar dia" Davin melepaskan tangan Clara yang melingkar di pinggangnya. Berlari kecil kembali memasuki cafe lagi.
"Davin" teriakan Clara tak mampu menghentikan langkah lebar Davin. Gadis itu kemudian berlari kecil menyusul Davin ke dalam cafe.
"Heh, loe?" Davin membalikan tubuh seorang gadis berambut panjang ikal dan berjakat kulit hitam sedang berdiri dikasih cafe.
"Eh, sorry" Davin merasa malu karna dia salah orang. Kemudian Davin kembali lagi keluar cafe.
"Malu-maluin banget. Kenapa gue harus salah orang?" Davin yakin dia melihat dengan jelas wajah cantik gadis pengendara itu masuk kedalam cafe. Tapi kemana dia? benaknya berbicara.
"Davin" Clara menghampirinya dan bergelayut manja ditangan Davin.
"Astaga. Loe ini gak tahu malu banget sih jadi cewek?" Davin melepaskan tangan Clara dan pergi berlalu. Kali ini Davin berhasil kabur walau Clara terus mengejar dan memanggilnya.
TBC
__ADS_1