
Hari demi hari telah Zeasy lewati, minggu perminggu yang silih berganti. Hari ini, tepat hari senin. Sudah satu minggu Zeasy tidak masuk sekolah dan hari ini hari pertama ia masuk lagi.
Taxi berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Seorang gadis turun dari taxi itu, siapa lagi kalau bukan Zeasy. Motor trail kesayangannya masih dalam proses perbaikan. Ah sial sekali hidupnya itu.
Berjalan santai melewati segerombolan cewek-cewek populer sekolah yang tak lain dan tak bukan adalah kelompok Yuke.
"Gays ... cewek jadi-jadian udah masuk lagi." Adalah Yuke sendiri yang memang tak suka pada Zeasy dan selalu menganggap gadis itu saingan. Entahlah, dari pertama masuk sekolah pun Yuke memang merasa tidak suka pada Zeasy dan selalu memanggilnya dengan sebutan cewek jadi-jadian. Karena jiwa Zeasy yang tomboy mungkin. Dan selama sekolah itu, Zeasy memang tidak pernah berteman dengan cowok. Tepatnya Zeasy selalu menolak cowok yang mengajaknya untuk ngedate.
Terkadang juga banyak yang menganggap Zeasy itu lesbi karena selalu berdua dengan Rosy. Aneh bukan?
Tapi pada dasarnya Zeasy tak menganggap omongan mereka semua. Sikapnya yang dingin itu mampu membuat Zeasy tidak peduli.
Prinsifnya selalu bodo amat. Yang penting gadis itu tidak melakukan kesalahan. Seperti pagi ini saat Yuke mencibirnya, Zeasy hanya acuh tak acuh saja. Bahkan tak menggubris omongan Yuke. Ia hanya melewati Yuke dan teman-temannya dengan santai. Dan kontan saja membuat Yuke menahan geram.
Sialan!
"Zeasy!" panggil Rosy dari arah belakang Zeasy. Ia setengah berlari untuk menghampiri sahabatnya itu.
Rosy marah padanya karena sudah satu minggu dirinya diabaikan. Telepon maupun chat-nya gak dibalas Zeasy sama sekali. Ah membuat Rosy tak bisa menahan amarahnya lagi.
"Loe kenapa sih, Zeas, cuekin gue kaya gini? Telepon gue gak lo angkat, chat gue juga gak loe balas. Gue ke apartemen loe, loenya selalu gak ada. Loe marah sama gue? Tapi karena apa?" cerocos Rosy kesal.
Zeasy hanya menaikan satu alisnya saja mendengar keluhan dari sahabatnya.
__ADS_1
"Woy, kenapa sih loe?"
"Astaga ... yang lagi kangen-kangenan." Yuke menimpal omongan Rosy.
Sial! Kenapa Rosy gak sadar jika ada nenek lampir didekatnya itu. Rosy paling malas berdebat dengan cewek yang satu ini. Bisa gak sih Yuke pindah planet aja gak usah tinggal di bumi? Rasanya Rosy ingin menendang Yuke saja.
"Kenapa gak di apartemen aja kangen-kangenannya. Gak usah di sekolah!" Yuke melipat kedua tangannya di atas dada dengan wajah yang penuh dengan ejekan.
"Udah yuk, Zeasy, ke kelas aja. Gak guna juga ladenin nenek lampir kaya dia." Rosy menarik tangan Zeasy yang Zeasy simpan di samping tubuhnya. Lalu keduanya hendak melangkah tapi-
"Uluh-uluh ... manis banget sih sama pasangannya. Eh Rosy, loe romantis banget sama Zeasy, sampe pegangan tangan kaya gitu. Eemmm so sweet ..." Yuke mencibir sambil menangkup kedua sisi wajahnya dengan bibir bawahnya yang maju. Persis kaya bebek yang lagi berenang.
Seketika semua siswa yang ada di sekitaran koridor itu tergelak kencang menertawakan Rosy dan Zeasy.
"Ciye-ciye kita, jadi bener loe pacaran sama Zeasy. Emang ya, kalian itu cocok banget." Yuke semakin mencibir.
Mana ada kata puas untuk Yuke tidak mencari masalah, apalagi pada Zeasy.
"Loe itu, ya." Rosy mengarahkan telunjuknya tepat pada wajah Yuke dengan geram.
"Udah lah, Cy, gak usal diladeni!" Zeasy pun angkat suara. Ia menarik bahu Rosy.
"Benerkan gays, mereka itu romantis. Apalagi saling bela kaya gini. Uuwuuhhh ...."
__ADS_1
Gelak tawa kembali mengisi koridor sekolah itu. Hingga Zeasy sudah tak tahan lagi dengan cibiran Yuke. Sumpah demi apa pun, mulut Yuke itu pengen disumpel pake lap pel tahu gak sih.
"Nyadar gak sih loe, kalau loe itu cuma berani cibir orang aja. Pengecut loe!"
Good Zeasy!
Tersenyum miring, Zeasy melipat kedua tangannya di atas dada. Wajahnya yang dingin dan datar membuat Yuke mengepalkan tangannya di samping tubuhnya.
"Loe bilang apa tadi?" tanya Yuke menahan geram.
"Loe - pengecut!" Zeasy memajukan wajahnya seraya menaikan kedua alisnya. Sesaat pandangan tajam Zeasy dan Yuke bertemu dengan memancarkan kebencian sesudahnya Zeasy puas melayangkan tatapan tajamnya, lantas ia kembali menarik wajahnya.
Kemudian Zeasy membalikan tumit dan berlalu. Tapi -
"Gue tantang loe duel basket, Zeasy." teriak Yuke ketika Zeasy dan Rosy sudah berada jauh dari sana.
Awalnya Zeasy gak peduli dengan tantangan Yuke itu.
"Kalau istirahat loe gak datang ke lapangan basket. Berarti loe yang pengecut. Bukan gue. Cewek jadi-jadian." Yuke menekan kalimat terakhirnya hingga membuat Zeasy berhenti melangkah dan berbalik pada Yuke.
"Oke - gue gak takut sama sekali sama loe!" ujarnya dengan seringai licik terpancar dari wajah Zeasy.
***
__ADS_1
TBC