Zeasy

Zeasy
Cemburu 2


__ADS_3

Balek lagi ini Elang sama Zeasy. Maaf kalau banyak typo atau salah sebut sapaan. seoerti Zeasy yang di bab awal itu manggilnya Dadi-Mami. tapi di bab kemaren tuh aku salah. Tapi udah aku revisi lagi.. Wkwk Happy reding cintah!


"David, Papi udah gak tahu lagi gimana cara didik kamu. Papi malu sama guru-guru di sekolah kamu. Terutama Bu Kikan yang mengundurkan diri dari sekolah gara-gara kamu. Dan sekarang juga Bu Asih, kasih laporan ke Papi kalau kamu ngerjain guru lagi." Yunus, Papi David adalah pemilik Yayasan dimana David sekolah.


Yunus sudah tidak tahu lagi harus bagaimana mendidik putranya itu. Ia menarik nafas dalam lalu ia hembuskan dengan kasar seraya memijat pelipisnya.


"Kamu denger Papi gak?" hardik Yunus pada David yang terlihat tenang, duduk di sofa dengan wajah yang menunduk.


"David!" teriak Yunus pada putranya itu. David masih tak bergeming.


Lagi-lagi Yunus menghela nafasnya.


"David gak bakal denger, Pi." Itu Lion, kakaknya David.


Lion yang baru turun dari lantai atas, menghampiri Yunus yang sedang memarahi adiknya itu. Lalu Lion berdiri tepat di deoan David. Kemudian pria yang lebih tua empat tahun dari David itu melepas headset yang David pasang kedua telinganya.


Lion memperlihatkan headset itu pada Yunus, dengan menaikkan kedua alisnya. Yunus hanya menggelengkan kepala saja. Sedangkan David, pemuda itu masih tertunduk.


"Jadi dari tadi kamu gak denger Papi ngomong apa? Astaga ... David," geram Yunus seraya mengepalkan tangannya pada David.


"Hehe ... abis Papi kalau udah ngomel itu kemana-mana, jadi sakit kan telinganku ini," sahut David cengengesan. Lion dan Yunus lagi-lagi menggelengkan kepalanya.


"Papi kalem aja, gak usah marah-marah terus. Nanti darah tingginya kumat!" Lantas David beranjak dan menaiki anak tangga. Meninggalkan kakaknya dan papinya yang sedang terbengong melihat kelakuan David.


"Udah pindahin aja ke asrama, Pi!" Lion memberi saran pada Yunus. Agar David sedikit bisa berubah dengan sikap kekanak-kanaknya.


"Papi gak tahu, Li."


"Ini nih ... ini gara-gara Papi terlalu memanjakan anak itu. Jadi seperti ini kan?"


"Kamu tahu sendiri kan, Lion, Papi hanya ingin memberikan kasih sayang pada David dengan lebih. Karena anak itu tidak pernah merasakan kasih sayang dari maminya. Gak seperti kamu. Kamu ngerti kan maksud Papi?"

__ADS_1


Lion mengangguk.


Iya, David dan Lion memang berbeda. Lion yang walau sedikit pernah merasakan tangan lembut seorang ibu mengusap pipinya. Sedangkan David, pemuda itu tidak pernah merasakan kelembutan tangan seorang ibu, sebab maminya sudah meninggal sewaktu melahirkan David.


**


"Kamu mau kemana sih, Yi?" tanya Shamar pada seorang wanita cantik yang ada di sampingnya.


Wanita itu memaksa untuk membawa mobil Shamar, sebab ia ingin menemui seseorang yang sudah lama sangat ia rindukan.


"Jangan banyak nanya, Kak. Kalau gak mau gue turunin loe di sini!" ucapnya dengan wajah kesal.


Kemudian tiga puluh lima menit, mobil yang di kendarai wanita itu terparkir mulus di pelataran rumah mewah dengan cat putih dan beberapa pilar di setiap sisi rumah itu.


Ia turun dari mobil dan melangkah ke dalam rumah mewah tersebut. Menghiraukan Shamar, yang hanya menggeleng samar.


"Bi, Elang nya ada di rumah kan?" tanyanya, ketika sampai di dalam rumah itu.


"Maaf, Non Yiran, Mas Elang nya lagi tidak ada di rumah," jawab Bi Lili, asisten rumah tangga Elang.


"Elang," tegur Yiran saat membuka pintu kamar Elang. Gadis itu langsung memeluk tubuh Elang dari belakang.


"Yiran," sahutnya.


"Aku rindu kamu. Kata Bi Lili kamu gak ada di rumah." Manjanya gadis itu pada Elang dari dulu tidak berubah.


"Jahat banget sih kamu gak jemput aku, malah suruh Kak Shamar yang jemput." Rutuknya memukul dada Elang pelan.


"Dan emang yang wajib jemput kamu kan Shamar, bukan aku. Shamar Kakak kamu kan?" sahut Elang dengan lembut.


"Iya, tapi aku tuh maunya kamu. Gimana dong? Kamu emang gak rindu aku apa?"

__ADS_1


Tak menjawab, Elang berlalu menghiraukan Yiran. Malah pergi ke kamar mandi.


Di saat Elang di kamar mandi, ponselnya tiba-tiba saja berdering. Walau ragu, Yiran melihat siapa nama yang tertera di layar itu. Lantas Yiran mengangkat panggilan iti karena penasaran.


"Halo," sahut Yiran seraya menggigit bibirnya.


"Sorry, Elang nya mana?" tanya seorang di sebrang sana.


"Lagi di kamar mandi."


"Ngapain?"


Yiran mengernyit heran. "Ya kalau di kamar mandi, lagi mandi lah. Emang ini siapa sih?" tanya Yiran dengan ketus.


Tak ada jawaban, seorang itu malah mematikan sambungan teleponnya begitu saja. Kemudian Yiran menyimpan ponsel itu lagi di tempatnya semula.


**


"Yang jawab telepon gue siapa sih? Katanya nyuruh gue nelepon, pas udah, malah cewek yang angkat. Dan apa tadi dibilangnya, Elang lagi mandi? O My God ... apa Elang?" Zeasy mulai berasumsi yang tidak-tidak.


Pikirannya sangat keruh. Apalagi dengan masalah orangtuanya membuat Zeasy jadi mager untuk melakukan sesuatu. Dari pas pulang sekolah sampi hari sudah senja pun, Zeasy masih mengurung dirinya di kamar.


Kalau bisa protes, gadis itu ingin protes. Kenapa hidupnya selalu rumit seperti ini?


Tapi Zeasy bisa protes pada siapa?


Tuhan?


Kan gak mungkin juga. Tuhan yang sudah menggariskan semua takdir pada setiap hambanya.


TBC

__ADS_1


Ini mon maaf kalau agak kurang nyambung. Aku tahan kantuk ku buat up Zeasy. wkwkwk


Like nya dulu yang banyak ih, nanti aku rajin up lagi. wkwk


__ADS_2