Zeasy

Zeasy
First Kiss


__ADS_3

Satu minggu sudah berlalu dengan cepat. Begitu juga dengan kedekatan Zeasy dan Elang yang semakin lekat. Elang yang kerap kali datang ke sekolahnya. Menemui Zeasy dan kadang pula Elang menjemput gadis itu. Entah apa maksud dari perhatian Elang untuknya, yang jelas itu mampu membuat hati Zeasy luluh. Bahkan Zeasy sedikit demi sedikit melupakan masalah yang sedang di hadapi dengan orang tuanya yang semakin kacau.


Hari itu adalah hari minggu dimana setiap minggu itu Elang kerap kali mendatangi panti asuhan yang ia berikan bantuan. Ya bilang saja dia sebagai donatur panti itu. Elang tak sendiri, sengaja Elang mengajak Zeasy.


Zeasy yang kini semakin dekat dengan Elang, terkadang tak sungkan untuk ia cerita tentang kehidupan pribadinya. Nyatanya, Zeasy yang tertutup pada orang lain itu mampu berbicara pada Elang. Sosok yang baru ia kenal, tapi mampu membuat Zeasy nyaman.


"Bang Elang, ini siapa? Pacarnya, ya?" sapa salah satu anak panti yang bernama Jhosu itu. Menghampiri Elang setengah berlari. Dan saat Jhosu mendapati Zeasy di samping Elang, sontak Jhosu bertanya, penasaran.


Elang tersenyum hangat "Ini Kak Zeasy. Temannya Bang Elang" ujarnya sambil mengacak rambut Jhosu.


Zeasy tersenyum hangat kemudian mengulurkan tangannya untuk berkenalan.


"Hai, anak ganteng. Aku Zeasy" sapanya Zeasy yang mendapatkan balasan senyum dari Jhosu.


"Aku emang ganteng, Kak. Kakak pasti bakal jatuh cinta sama aku" Zeasy terkekeh mendengar pernyataan anak kecil itu. Kemudian tangannya tergerak mengusap kepala Jhosu. Menggemaskan.


Sementara Elang hanya tersenyum melihat intraksi antara Zeasy dan Jhosu.


"Bunda mana, Jho?" tanya Elang saat tak melihat Bunda panti menyambutnya. Biasanya Bunda panti selalu menyambut Elang ketika pemuda itu datang. Tapi sekarang kemana?


"Bunda Afifah lagi masak di dapur, Bang." jawab Jhosu polos.


Jhosu menarik tangan Elang agar masuk kedalam. Dan Elang pun menarik tangan Zeasy agar gadis itu mengikuti langkahnya.


Zeasy tercengang, tak percaya. Apa maksudnya? Pertanyaan seputar Elang selama ini mengganjal di hati dan pikirannya.


Ya, Elang yang selalu perhatian dan selalu siap mendengar keluh kesah Zeasy. Zeasy merasa hatinya sudah terpaut jauh pada Elang. Tapi apa Elang juga sama?


"Bu Afifah... Lihat nih Bang Elang bawa pacarnya." Sangat-sangat polos anak itu. Berteriak memanggil Bunda Afifah.


"Jho, kebiasaan deh kamu kalau manggil-manggil suka teriak-teriak. Kaya di hutan saja" Bunda Afifah yang sedang berada di dapur menyaut. Kemudian menghampiri tamu yang ada di ruangan depan.


"Nih Bunda, pacarnya Bang Elang." ujar Jhosu polos. Zeasy hanya mengangguk dan tersenyum canggung sebagai sapaan.


"Assalamu'alaikum, nak?" sapa Afifah dengan hangat dan sopan yang mengucapkam salam pada Zeasy.


Zeasy yang gelagapan. Karena sangat jarang sekali gadis itu untuk mengucap salam atau pun menjawab salam. Apa sudah terlalu jauhkah gadis itu dari Tuhan? Sehingga menjawab salam saja butuh waktu.


"Wa-wa'alaikumsallam, Bu" jawab Zeasy. Sementara Elang yang melihat hanya menarik ujuk bibirnya saja.


"Elang, sudah makan, Nak?" Afifah beralih bertanya pada Elang. Elang menggeleng.


"Makan dulu! Kebiasaan kamu suka telat makan. Nanti mag nya kambuh lagi" Sangat hangat dan sangat menyentuh hati sekali suara Afifah ini. Hingga mampu membuat Zeasy tak bisa beralih menatap wanita paruh baya berjilbab navy itu.


Elang menarik kembali tangan Zeasy. Setelahnya Afifah mengajak keduanya untuk menyantap makanan yang sudah siap di hidangkan di meja.


"Anak-anak yang lain kemana, Bund?" tanya Elang. Tangannya yang sibuk mengambil nasi dan lauknya ke dalam piring.


"Lagi belajar mungkin sama Mbak Lala."


Tangan Afifah yang cekatan mengambil nasi dan lauk. Kemudian di berikannya pada Zeasy. "Di makan, Nak!" lagi Zeasy hanya tersenyum canggung.

__ADS_1


**


"Bang Elang, kenapa gak pernah ajak Kak Yiran ke panti lagi?" tanya salah satu anak panti dengan polos. Zeasy yang sedang mewarnai dengan anak-anak panti seketika tangannya berhenti dari gerakan. Matanya beralih ke arah Elang. Ingin bertanya siapa Yiran? Tapi seakan lidahnya kelu tak mampu.


"Kak Yiran 'kan lagi di London. Jadi belum bisa datang lagi" jawab Elang yang sekilas matanya melirik ke arah Zeasy yang tengah mewarnai. Elang tak sadar bahwa tadi Zeasy menatapnya penasaran.


"Padahal aku kangen sama Kak Yiran" ujar Topu.


Yiran,Yiran... Siapa Yiran? Apa dia kekasih Elang? Zeasy mulai berasumsi. Hatinya kenapa sakit mendengar anak-anak itu menanyakan perempuan lain pada Elang.


**


Di sebuah jalan raya yang bising dengan kendaraan beberapa motor ninja, bermain kebut-kebutan di jalan, mereka sudah biasa. Saling adu gas itu lumrah untuk mereka. Biarpun banyak yang mengumpat kesal karena itu semua, tapi para pemuda itu hanya cuek saja. Seolah itu adalah jalan nenek moyangnya.


Rosy yang sedang mengendara sebuah motor matic dengan kawan komunitasnya. Karena ini adalah hari minggu. Komunitas motor Rosy selalu rutin membagikan makanan pada anak jalanan. Komunitas motor yang Rosy ikuti semua bermotorkan matic, karena itu menandakan sebuah kesederhanaan. Berbeda dengan motor-motor ninja yang sedang urak-urakan.


"Wol, geng motor" Rosy yang melajukan motornya pelan disamping Wolmi. Sehingga suara Rosy masih terdengar dibalik helmnya. Mata Wolmi yang tadinya ditatapkan lurus kedepan, kini beralih pada kaca spion motornya.


"Wolmi menekan klakson motornya beberapa kali. Agar kawan sekomunitas yang sudah ada dijarak depan bisa menghentikan lajunya.


Saat yang lain mendengar suara klakson motor beberapa kali, salah satu dari mereka menepikan kendaraannya. Tak lama yang lainpun mengikutinya.


"Ada apa, Wol?" Saat Tri, ketua komunitas itu sudah menepikan dan mematikan mesin motornya. Tri turun dari motor di ikuti yang lain. Sang ketua itu turun dari motor dan menghampiri Wolmi juga Rosy yang jaraknya dibelakang Tri.


"Biasa, ada yang buat onar dijalan" jawab Rosy setelahnya gadis itu membuka helm.


Tak lama suara-suara bising kembali menggema disetiap pendengar jalan.


Awalnya pemuda yang membawa motor ninja paling depan tak ada niatan untuk berhenti, dan tidak ingin juga mencari masalah. Tapi saat melihat siapa yang sedang menepi dipinggiran jalan, pemuda itu menepikan motornya dan di ikuti yang lain.


"Rupanya wanita jadi-jadian ada disini. Kebetulan banget, gue masih mau nagih hutang sama, loe." David, yang tak lain pengguna motor ninja yang ugal-ugalan itu. Rosy mengernyit, begitu juga dengan kawan sekomunitasnya.


"Loe kenal sama tuh cowok, Cy?" tanya Tri penasaran. Karena dengan tiba-tiba David asal ngejeplak saja.


"Gue kagak kenal sama manusia gaje ini. Dia nya aja yang sok kenal sama gue" jawab Rosy mengerlingkan mata.


"Hey gays, asal loe semua tahu, cewek jadia-jadian ini punya masalah sama gue. Dia mau nyerempet gue kagak mau tanggung jawab" sergah David. Mulutnya yang terus mengunyah premen karet.


"Gila ya loe. Dasar manusia aneh, gak jelas. Main tuduh orang sembarangan aja bisanya" Rosy sudah tersulut amarah. Hingga gadis itu dengan berani mendekati David. Sampai, hampir dada Rosy bersentuhan dengan dada bidang David.


Glek...


Lagi, seperti ada sebuah bongkahan batu yang mengganjal kerongkongan David. Sumpah, pemuda itu tak bisa konsen karena melihat dada Rosy yang...


"Apa loe?" sergah Rosy menajamkan pandangannya. Tak lupa ia juga bertolak pinggang seakan, siapa takut.


"Hey, jangan deket-deket sama gue" David mendorong bahu Rosy dengan telunjuknya seakan jijik. "Emang bener ya loe itu cewek jadi-jadian. Gunung loe aja kempes gitu. Astaga," pemuda itu menepuk jidatnya. Rosy menganga setengah tak percaya. Dan yang lain hanya menjadi penonton saja. Sambil telapak tangan menutupi mulutnya, menahan tawa.


"Selain aneh, ternyata loe juga mesum" Rosy menggelengkan kepala, dan berdecak.


"Hey, gue kagak mesum!" sergah David tak terima.

__ADS_1


"Kalau kagak mesum apa namanya? Sampe loe meneliti setiap inci tubuh gue?" Rosy masih bertolak pinggang. Tak ada yang berani memisahkan dua insan yang tengah beradu argumen itu.


"Ge-er banget loe. Gak ada yang mau meneliti tubuh cewek kek loe. Gak akan ada yang tertarik sama tubuh kerempeng kaya loe. Apa lagi gunung-gunung loe yang kempes."


"Manusia gak jelas. Sumpah loe bikin gue emosi" terlihat dari dada Rosy yang naik turun. Tangannya terkepal karena sudah geram.


"Apa? Mau tonjok gue. Nih tonjok" David menyodorkan pipi kanannya pada wajah Rosy. Dan...


Buukk


Benar saja, Rosy menonjok pipi mulus David. Setelahnya Rosy cabut dengan diikuti kawannya. Tri dan yang lainnya tak bisa mencegah Rosy. Karena mereka tahu jika Rosy sedang kesal dia akan seperti apa.


"Cewek gila...." teriak David tak terima. Tapi percuma saja walau teriak bagaimana pun, Rosy tidak akan mendengarnya. Karena sudah jauh dari jangkauan pandangan David.


**


"Makasih, Elang" Zeasy yang di antar pulang oleh Elang setelah mengunjungi panti asuhan tadi.


Dan kini Zeasy pun terbiasa dengan panggilan Elang. Tanpa embel-embel seperti sebelumnya.


Elang tersenyum hangat.


Setelahnya Zeasy membuka stealbelt yang terpasang di dadanya, Rosy masih tak beranjak. Gadis itu menoleh sekilas pada Elang.


"Gak ada yang mau di omongin ke gue, Elang?" tanya Zeasy. Elang hanya mengernyit.


"Ah, lupakan saja. Gue turun" tangan kanan Zeasy yang akan membuka pintu mobil di tahan oleh Elang. Zeasy membalikan tubuhnya. Dan kini keduanya saling berhadapan.


Elang menggenggam jemari Zeasy. Menautkan setiap jemarinya. Satu tangannya memeluk pinggang Zeasy, wajahnya ia condongkan, agar wajah Zeasy semakin dekat dari jangkauan matanya. Bibir merah yang tipis, dengan keberanian yang besar Elang menempelkan bibirnya pada bibir tipis Zeasy. Zeasy membuka matanya lebar, seperti mata indah itu ingin keluar. Tak percaya, itu yang ada dibenaknya.


Elang yang mencoba mel*mat bibir bawah Zeasy pelan saat Zeasy tak membalas ciuman itu. Zeasy masih tak percaya, matanya yang terbuka, kini ia coba tutup pelan. Mulai menikmati sentuhan dan luma*tan kecil pada bibirnya.


Tangan Elang yang tadinya merengkuh pinggang Zeasy. Kini tergerak menyentuh tengkuk Zeasy, menekannya kuat. Hingga Zeasy merasa sesak.


Elang semakin keras menekan tautan jemarinya pada jemari Zeasy. Satu tangan Zeasy mencengkram kuat sisi kemeja yang Elang kenakan.


Lama, cukup lama...


Elang menjauhkan bibirnya dari bibir Zeasy pelan. Saat itu mata Zeasy masih terpejam, dan jantung yang berdekup kencang. Terlihat dari dadanya yang naik turun.


Elang menyentuh bibir tipis itu. Telunjuknya mengikuti bentuk bibir Zeasy. Elang tersenyum tipis.


"Istirahatlah!"


Zeasy yang masih memejamkan mata, kini mata itu terbuka lebar.


Apa yang sudah ia lakukan dengan Elang tadi? Itu seperti sebuah mimpi. Ciuman yang mereka lakukan tak di dasari sebuah kata Cinta. Tapi seolah Elang menikmatinya begitu juga dengannya.


Ciuman pertama bagi Zeasy, mampu membuat jantungnya melayang bebas ke udara. Terbuai akan sentuhan bibir Elang.


TBC

__ADS_1


Berikan Like Komennya sayang!


__ADS_2