
"Jadi, maksud loe, Tante Islan bakal nikah sama bokap David dan bokap loe bakal nikah sama nyokap Yuke?" Rosy mengesah. Ia berdecak kesal seraya bangkit dari kursi yang ia duduki tepat di samping Zeasy. "Gak nyangka," sahutnya menggebrak meja di depan Zeasy membuat gadis yang tengah duduk itu tersentak. Ia menajamkan matanya ke arah Rosy. Sedangkan yang ditatap hanya nyengis pepsodent saja.
"Sorry-sorry, gak nyangka aja gitu gue." Rosy kembali duduk, "ternyata dunia ini sempit banget ya." Rosy berujar sambil merangkul pundak Zeasy.
"Ngomong-ngomong, kok chat gue gak loe balas sih, Zeas. Bunda kangen banget sama loe. Katanya dia pengen ketemu loe."
Zeasy memicingkan matanya. "Loe lupa apa cuma basa-basi doang. Ponsel gue kan ancur." Zeasy berujar. Ia menyandarkan punggung pada sandaran kursi.
Lagi-lagi Rosy hanya nyengir pepsodent. Menunjukan giginya yang rapi, putih dan bersih. Persis kek lagi iklan pasta gigi tersebut.
Tiba-tiba suara seorang cowok mengalihkan perhatian Rosy dan Zeasy. Suara nyaring itu membuat Zeasy menggeram kesal.
"Heh anak ayam, bisa gak sih kalau dateng ke kelas tuh gak usah teriak-teriak? Ini bukan hutan oy," Rosy melanglah maju menghadang David yang akan duduk di kursinya.
"Iya gue tahu ini sekolah. Makanya gue teriak-teriak. Kalau di hutan kan gak bakal ada yang protes kaya loe. Jadi gak asyik kalau teriak disana," jawab David tergelak kencang sembari menyingkirkan bahu Rosy yang sedang menghadangnya dengan bertolak pinggang.
Rosy berdecak menoyor belakang kepala David sambil berkata, "mati aja loe sono kecebur comberan!" sungutnya berapi-api. Ia membalikan tumit dan kembali duduk di samping Zeasy.
David yang saat itu masih berdiri kontan melemparkan tasnya. Bukan ke atas meja tetapi pada Rosy yang tepat mengenai kepala gadis itu. "David!" teriaknya membuat orang-orang seisi kelas menutup telinga karena suara Rosy yang cempreng seperti panci yang sedang ditabuh stik drum.
__ADS_1
"Apa?" tantang David mengangkat dagunya tinggi-tinggi setinggi tiang listrik yang satu meter itu. Dengan tangan yang bersilang di atas dada.
"Sumpah ya, loe nyebelin banget tahu gak sih." Rosy mendelik. Ia lempar kembali tas David. Tapi bukannya tepat sasaran. Lemparan itu justru mengenai kepala botak Pak Burhan. Jelas saja membuat Pak Pitak itu menggemeretukan gigi taringnya. Ia mengeraskan rahang dan memelototkan kedua matanya yang sebentar lagi bakal keluat dan menggelinding ke atas lantai. Siap untuk dijadikan bola bekel Rosy nanti di rumah.
Sedangkan murid yang lain lari koncar-kancir kembali duduk ke kursi masing-masing. Takut nanti jaka Pak Pitak akan memberi ciri pada jidat mereka yang tidak patuh.
Sementara David, cowok tengil bin jahil itu malah tergelak kencang sampai mulutnya terbuka dan baru terkatup ketika ada lalat terbang menuju gua tempat David mengunyah bakso Bi Siti.
Ngomong-ngomong ... jadi rindu sama bakso Bi Siti pemilik kantin di sekolah David yang dulu ya.
"Kamu dan kamu," Pak Pitak alis Pak Burhan mengarahkan telunjuknya tepat ke wajah Rosy dan David. "Keluar. Lari lapangan upacara seratus lima puluh lima kali putaran!" Hukuman yang selalu gak ngira yang diberikan Pak Pitak pada murid yang nackal bin bandel seperti David yang selalu berulah.
Kontan, Rosy dan David membuka rahang hingga mulutnya menganga lebar, tak percaya. "Yang benar aja lah, Pitak. Masa gue harus lari keliling lapangan upacara sebanyak itu. Bisa mati bengek gue, entar." Sadar gak sadar apa yang diucapkan David membuat Pak Pitak kembali geram. Pasalnya David selalu berujar tidak sopan pada siapapun. Entah itu guru atau kepala sekolah sekali pun.
"Kamu anak baru kan?" tanya Pak Burhan. David mengangguk kalem. "Tambahan hukuman buat kamu. Bersihin toilet yang ada di pojok kelas IPA 4!"
"Mampuus, loe!" Rosy yang masih menyimak pun menyemangati David dengan menjulurkan lidahnya. Kemudian karena takut nantinya hukumannya juga akan bertambah seperti David, Rosy pun bergegas ke lapangan untuk lari mengelilingi sebanyak yang disebutkan Pak Burhan.
"Aelah ...Pitak, gak salah loe nyuruh gue buat bersihin toilet. Ya kali kalau toiletnya bersih gak bau. Ogah, gue gak mau."
__ADS_1
"Terserah, sekarang cepat kerjakan. Keliling lari lapangan dulu. Sesudah itu baru bersihin toilet!" Pak Burhan geram bukan kepalang. Harga dirinya seperti sudah terinjak kaki gajah ditambah kaki jerapah. Kan tambah parah.
"Capek gue, kalau harus lari keliling lapangan. Enakan lari ngejar doi yang lagi duduk manis di pojok meja sana." David menyahut nyeleneh dengan kerlingan mata mengarah pada Zeasy.
Kontan semua murid yang ada di kelas - yang melihat arah pandang David langsung menciye-ciye kan David. Bahkan ada juga yang bersiul sambil menyebut nama Zeasy.
Menyebalkan!
Sedangkan Zeasy acuh cuek bebek saja menopang dagu sambil mengarahkan matanya pada cowok-cowok keceh yang lagi latihat basket. Tepatnya bukan cowok-cowok keceh yang Zeasy lihat. Tetapi satu cowok yang sudah mengobrak-ngabrik jantung Zeasy dan isinya - yang sedang melatih cowok-cowok ketceh itu bermain basket.
"Pada diem ngapa, gays. Doi-nya juga gak peka sama gue." David menghela frustasi yang sebenarnya dibuat-buat. "Sudahlah, babang Kemal mending menjalankan hubungan saja dengan tiang bendera upacara." David berjalan lesu ke arah pintu. Tapi sebelum sampai suara barinton milik Pak Burhan menghentikan langkah tampannya.
"Sekalian toilet guru juga bersihin!"
Kontan David membalikan tumit. "What?"
"Itu karena kamu selalu tidak bersikap sopan. Dan selalu memanggil saya Pitak." Santai Pak Burhan membuka buku materi Fisika yang siap membelah para anak remaja yang sedang duduk di kursi berwarna coklat tua.
Baikalah hari ini David akan menjadi murid yang baik menjalankan hukuman Pak Burhan. Karena Pak Kepala Sekolah pasti akan mengadu lagi pada papinya.
__ADS_1
Dasar. Mulut Pak Kepsek emang kudu disumpel pake kolor Kak Leon.
TBC