Zeasy

Zeasy
Ajakan Makan Siang


__ADS_3

"Loe bener kan gak anu-anuin gue?" Zeasy bertanya pada David. Keduanya kini berada dalam satu lift. Sebenarnya ogah Zeasy harus satu mobil sama David. Udah mah tidur satu apartemen lagi. Tapi harus gimana lagi, saat David menawarkannya untuk mengantarkan Zeasy pulang, gadis itu juga gak bisa nolak. Alias ia kepaksa daripada nantinya menanggung malu.


"Gue masih waras kali, cewek hulk!" jawab David. Pintu lift sudah terbuka. Keduanya keluar dari sana dan berjalan ke basement. Dimana mobil David terparkir di sana.


"Stop ya ngatain gue cewek hulk. Mata loe rambun jangan-jangan." Menghentikan langkahnya, Zeasy bertolak pinggang. Ia merasa ogah dipanggil seperti itu oleh David. Kaya yang gak punya nama saja. Begitu pikirnya.


"Minus mata gue mah emang," jawaban David yang selalu nyeleneh itu membuat Zeasy geram. "Loe itu-"


"Apa? Gue ganteng ya? Fakta itu mah. Loe cewek yang kelima ratus lima puluh lima bilang gitu ke gue. Udah panas kuping gue dengernya." Ya Tuhan, tolong bilang sama cowok tengil itu jangan terlalu kepedean!


Tapi bukan itu yang ingin dibilang Zeasy. Lidahnya itu tiba-tiba terasa keluh ketika matanya mendapati seseorang yang Zeasy benci - bersama seorang cewek yang parahnya lagi cewek itu bergelayut manja pada tangan Elang.


Iya Elang.


Ya ampun, kenapa Zeasy harus bertemu cowok itu lagi. Apa dunia ini sudah sempit, sehingga ia tidak bisa menghindar?


Tepat di belakang David, Elang bersama Yiran berjalan ke arahnya. Dan lebih sialnya lagi, Elang melihat Zeasy. Sesaat mata keduanya pun bertemu.


Dalam mata Elang terpancar begitu banyak kerinduan dan kasih sayang terhadap Zeasy. Berbeda dengannya yang menatap Elang penuh dengan kebencian.


"Woy … astaga, loe malah ngelamu lagi." David berdecak, "oy … cewek hulk!" David mengibaskan tangannya ke depan wajah Zeasy ketika mata bulat indah itu tidak berkedip. Dan David pun mengikuti arah pandang Zeasy.


Pada akhirnya, mereka bertemu lagi dalam waktu yang tidak tepat.


"Hay, kamu Zeasy kan? Ya ampun gak nyangka ya kita ketemu lagi." Adalah suara Yiran yang menyapa Zeasy seraya berjalan ke arahnya. Tangan yang awalnya bergelayut di lengan Elang, Yiran lepaskan dan menghampiri Zeasy juga David.


Zeasy hanya mengangguk, tersenyum kaku pada Yiran. Oh Tuhan, bisakah putar kembali waktu agar waktu itu Zeasy tidak bertemu Elang? Rasanya jika mengingat semua kebersamaan bersama Elang selama beberapa minggu itu - luka menyakitkan yang tak berdarah. Seperti ada sebuah tangan yang menusukkan dengan belati pada seonggok daging merah yang rapuh.


"Kamu kok bisa di apartemen ini?" tanya Yiran. Matanya menoleh pada David yang ada di samping Zeasy.


Ah iya, apartemen. Rasanya jika mendengar itu pikiran buruk bergeliyaran di otak Elang. Apa Zeasy dan cowok di sampingnya bermalam bersama dan melakukan sesuatu? Apalagi kala mata Elang melihat pakaian Zeasy - yang siapa saja melihatnya pasti akan berpikiran jika Zeasy bukan gadis baik-baik.


"Gue sama-"


"Kita memang tinggal dalam satu apartemen." Dusta Zeasy yang tiba-tiba menggandeng tangan David. "Kenalin, ini cowok gue," sahutnya dengan senyum yang Zeasy berikan dengan terpaksa. Tapi Zeasy mencoba menutupi itu.

__ADS_1


Bagai ada guntur di siang bolong. Jantung Elang rasanya seperti tersambar. Ia menatap mata Zeasy, melihat apa ada kebohongan di dalam sana.


"Kalian …" Yiran mengedikkan kedua bahunya dengan kedua tangan yang berkutip. Seperti yang Elang pikirkan, Yiran pun berpikiran seperti itu.


"Yaelah … pura-pura gak ngerti aja loe, tau kan ABG sekarang udah gak aneh main gitu-gituan. Kaya gak tau aja loe. Emang loe gak pernah ya sama calon tunangan loe?"


Seakan membalas, Zeasy tau apa yang ada dipikiran Elang dan Yiran. Dengan terpaksa juga, Zeasy mengiyakan pikiran orang yang melihatnya sekarang seperti apa. Sementara David hanya diam. Ia terlalu ogah ikut campur urusan Zeasy. Apalagi David gak kenal sama pasangan yang ada di depannya ini.


"Kita sudah berkomitmen kalau belum sah dimata Tuhan, aku sama Elang akan menjaganya sama waktunya tiba." Yiran menyunggingkan senyuman sambil tangan yang kembali menggandeng Elang. "Iya kan, sayang?" tanya Yiran menolehkan wajahnya pada Elang.


Elang menganggukan kepalanya. Tapi matanya mengarah pada Zeasy.


Haruskah Zeasy membalas sakit hatinya dengan cara seperti ini? Menjelek-jelekan dirinya sendiri. Padahal semua itu tidak benar. Walau dia tidak bisa diatur tapi tentang kehormatan, Zeasy selalu menjaganya untuk orang yang nantinya akan mempersunting Zeasy.


Impian …


Bolehkah Zeasy bermimpi bisa menaiki kuda bersama dengan orang yang mencintainya dan yang ia cintai. Layaknya dongeng seorang putri. Tapi rasanya mimpi itu terlalu nihil.


"Ya udah, kita duluan ya." Pamit Yiran pada Zeasy. "Oh iya, nanti jangan lupa datang ke acara tunangan kita ya! Aku gak akan kasih undangan sama kamu. Kamu tamu undangan special buat aku sama Elang. Jadi harus datang, oke!" ucap Yiran. Kemudian mengajak Elang untuk berlalu.


Di dalam mobil Zeasy hanya diam tanpa berkata sepatah katapun pada David - yang terus saja mengoceh sendiri. Ia melempar pandangannya ke arah luar jendela mobil.


"Oy … dari tadi loe diem mulu. Ini rumah loe dimana?" David menepikan mobilnya saat bertanya dan tidak mendapatkan jawaban dari cewek yang duduk di sampingnya.


"Apartemen Indah Karya!" Lalu bibir itu terkatup kembali.


David jadi bingung. Bagaimana ia menyikapi sikap Zeasy, kadang galak dan judes. Dan terkadang juga datar dan dingin. Apa yang sebenarnya terjadi di dalam kehidupan gadis ini. Membuat David semakin penasaran saja.


Mobil pun kembali melaju, membelah jalanan ibu kota yang beruntung saat itu tidak terlalu macet.


**


"Astaga, Dav, bisa gak kalau Papi ngomong tuh loe dengerin!" Adalah Leon, kakak David yang sedang menyidangnya.


Ketika David pulang ke rumahnya ia langsung diserbu dengan seribu kalimat yang Yunus lontarkan. David pikir papinya itu sudah berangkat ke kantor. Tapi sial, dugaannya melesat.

__ADS_1


"Semalam tuh gue gak bisa datang karena urgent. Please deh percaya sama gue. Kali ini aja!" sahut David. Semalam itu harusnya David datang ke acara perkenalan calon maminya. Tapi anak nakal itu malah kabur ke club. "Bantu ngomong ya sama Papi. Jangan segel kartu debit gue. Ya ampun, sadis banget deh loe kalau gak mau bantuin gue. Ya-ya-ya …" mohon David pada Leon. Karena hanya Leon yang bisa membujuk sang Papai.


"Oke, gue bakal coba bujuk papi. Tapi, siang ini loe harus temui calon istri Papi di kantornya!" Kemudian Leon pun berlalu setelah meninggalkan sebuah kartu nama di atas nakas kamar David.


Sementara di tempat lain, Zeasy sedang duduk malas di sofa apartemen. Dan di depannya ada sang Mami yang sengaja menunggu Zeasy sejak pagi.


"Kamu ngapain sih pake baju kaya gini, Zeas?" tanya Islan. Wanita yang telah melahirkannya itu sangat marah ketika melihat cara berpakaian putrinya.


"Apa peduli Mami?"


"Kok kamu ngomong kaya gitu? Mami tuh sayang sama kamu jadi-"


"Kalau Mami sayang, Mami gak akan biarin Zeasy hidup sendiri kaya gini." Tatapan mata itu tepat menusuk tajam pada Islan. Ia mulai berkaca-kaca.


"Dimana Mami saat Zeasy sakit, saat Zeasy butuh Mami, saat Zeasy kecelakaan? Gak ada, Mi. Mami gak ada disaat Zeasy lagi butuh Mami."


Uneg-uneg yang selama ini Zeasy pendam akhirnya ia lontarkan juga. Zeasy sudah tidak bisa menghalau air matanya lagi.


"Zeasy, Mami kerja. Dan itu juga buat masa depan kamu."


"Masa depan Mami bilang? Zeasy gak butuh masa depan kaya yang Mami bilang. Zeasy hanya ingin Mami luangin waktu Mami untuk Zeasy!"


"Maafin Mami. Mami tahu, Mami belum bisa jadi orangtua yang kamu mau. Tapi percaya sama Mami kalau Mami itu sayang sama kamu."


Iya, pada dasarnya tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya. Seekor macan pun tidak akan berani menyantap anaknya karena ia buas.


"Sebagai permintaan maaf  dari Mami. Nanti siang kamu datang ke kantor ya. Kita makan siang bareng."


Tidak salah dengar kan Zeasy? Ini yang Zeasy mau, ini yang Zeasy harapkan dari Islan, maminya. Kapan terakhir kali maminya itu mengajak Zeasy makan siang bareng? Rasanya sudah bertahun-tahun Zeasy baru mendengar ajakan sang mami lagi.


Kontan saja wajah Zeasy berubah menjadi senang. Ia tersenyum tulus pada Islan seraya menganggukkan kepalanya. Tanda bahwa Zeasy menerima ajakan makan siang bersama maminya.


Bagaimana Zeasy bisa menolak jika itu yang Zeasy harapkan. Mungkin ini bisa menjadi awal yang baik untuk hubungan anak dan ibu yang sudah lama tidak terjalin.


TBC

__ADS_1


__ADS_2