
"Loe yakin bisa dapat info tentang Elang disini?" tanya Rosy tidak yakin. Saat ini Rosy dan Zeasy berada di dalam mobil yang sudah terparkir mulus di pelataran panti asuhan itu.
"Gak yakin sih gue. Tapi penasaran juga kalau gak dicoba." Rosy terkekeh pelan. Sahabatnya ini, ya ampun ...
"Ya udah turun yuk. Tapi bentar gue bantu loe," ujar Rosy yang segera membuka pintu mobil lalu mengitarinya membuka pintu mobil Zeasy dan membantu gadis itu.
"Gak sekalian loe gendong gue aja, Cy?" candanya pada Rosy yang sudah membantu memapah pundak Zeasy.
"Iya kali gue gendong loe. Yang ada gue mati mendadak lagi." Tak kalah becanda dari Zeasy, Rosy pun tergelak.
Keduanya berjalan menjauh dari mobil. Saat ingin mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Zeasy urungkan, ia melihat sosok yang beberapa hari ini rindukan. Walau terlihat memunggungi, tapi Zeasy dapat mengenali dia - yang sedang mengobrol dengan Bunda Afifah. Ibu panti yang pernah Elang kenalkan padanya.
"Kenapa loe gak-"
"Sstt ..." Zeasy menyimpan telunjuk di atas bibirnya. Sebagai isyarat diam pada Rosy. Zeasy tidak ingin mengganggu dulu apa yang menjadi perbincangan mereka di dalam. Yaitu Bunda Afifah, Elang dan ...
Iya, Elang yang sedang duduk di sofa memunggungi Zeasy dengan di samping cowok itu ... seorang wanita.
"Iya, Insya Alloh nanti Bunda datang ke acara tunangan kalian," sahut Bunda Afifah dengan senyum yang terpancar di wajah cantik yang terbalut jilbab itu.
Apa tadi katanya, tunangan?
Elang akan tunangan?
Oh Tuhan ... sempurna sudah penderitaan hidup Zeasy.
Tanpa sadar Zeasy merem** bahu Rosy hingga gadis itu menahan ringisannya. Rosy mengerti jadi ia membiarkannya saja.
"Kita pulang aja, Cy." Rosy mengangguk. Untuk saat ini Rosy hanya bisa mengikuti apa yang Zeasy mau. Kemudian keduanya berbalik hendak pergi. Tapi tiba-tiba suara anak kecil memanggilnya.
__ADS_1
"Kak Zeasy," serunya dari dalam. Yang membuat Bunda Afifah mendongak menatap ke arah luar. Dimana Zeasy sedang berdiri di depan pintu dengan bahu yang di pegang Rosy.
Sesaat Elang terdiam dalam wajah yang di tekuk. Tak salah dengar kan cowok itu?
"Kak Zeasy mau kemana? Kok gak masuk?" sahut Jhosu. Anak panti yang mengingat wajah Zeasy. Walau baru sekali mereka bertemu. Tapi Jhosu selalu ingat wajah cantik itu - yang sempat datang bersama Elang beberapa minggu yang lalu.
"Eemm ... Kak Zeasy." Entahlah, ia bingung harus ngomong apa. Ia terlalu shock mendengar Elang akan bertunangan.
Lalu Bunda Afifah pun bangkit dari duduknya. Berjalan ke arah pintu dan menyambut tamu yang tak diundangnya. Kemudian disusul dengan wanita yang duduk disamping Elang tadi.
"Nak Zeasy," tegur Bunda Afifah sambil mengingat-ngingat.
"Iya, Bunda. Aku Zeasy." Lalu Zeasy pun menyalami tangan Bunda Afifah.
"Ini-"
"Ah iya, Bunda, aku Rosy temannya Zeasy." Rosy pun segera menyalami Bunda panti itu.
Iya, Yiran cewek yang menjadi tunangan Elang. Ah ralat calon tunangan.
"Ini Zeasy, Yi. Waktu itu pernah diajak-"
"Hallo aku Zeasy." Segera Zeasy memotong kalimat Bunda Afifah yang akan menyebutkan jika ia pernah diajak oleh Elang.
Mereka pun berjabat tangan dan berkenalan. Sedangkan Elang masih bergeming mendengarkan apa yang mereka bicarakan dengan posisi yang masih sama. Duduk di sofa. Tapi kali ini terlihat ada kegusaran di wajah tampan itu. Lihatlah Elang membungkuk menyimpan kedua sikutnya di atas kedua lutut dengan wajah yang ia sembunyikan dibalik telapak tangannya.
"Masuk yuk, Nak!" ajak Bunda Afifah pada ketiga gadis itu.
"Loe yakin, Zeas mau masuk?" Rosy bertanya sebelum mereka benar-benar masuk. Zeasy pun mengangguk walau hati dan perasaannya tidak yakin sama sekali. Apalagi Zeasy pasti akan melihat Elang dan Yiran yang akan bermesraan.
__ADS_1
Oh tidak ... dalam hitungan detik Elang dapat menjungkir balikan kehidupan Zeasy. Ia semakin hancur dan rasanya ia tidak kuat lagi.
Duduk di sofa berhadapan dengan dengan Elang. Ah rasanya Zeasy ingin tenggelam ke dasar laut saja dan tidak ingin kembali.
Sebelum Zeasy duduk, Elang sekilas melihat jalan Zeasy yang pincang dan dibantu Rosy. Juga melihat kaki Zeasy yang terbalut perban. Banyak luka gores juga di tangan kedua gadisnya itu.
Gadisnya?
Zeasy gadisnya Elang?
Dia kan mau tunangan.
"Nak Zeasy itu kenapa kakinya?" Bunda Afifah bertanya setelah beberapa saat.
Zeasy menoleh pada Bunda Afifah, "kecelakaan kecil, Bund," sahutnya. Zeasy masih bisa menunjukan wajah santainya.
"Oh ..." dan Bunda Afifah hanya beroh ria saja. Berbeda dengan Elang yang merasa khawatir pada Zeasy.
Ah Elang ingat apa yang dikatakan Rosy jika ia akan menyesal.
Apa ini yang di maksud Rosy?
Di ruangan itu tidak terjadi apa-apa atau obrolan kecil lainnya. Hanya terdengar suara Yiran saja yang berceloteh pada Bunda Afifah. Dan Bunda Afifah juga menanggapi ocehan Yiran.
Sepertinya Bunda Afifah sama Yiran saling dekat. Gumam Zeasy dalam hari sambil menatap intraksi antara Yiran dan Bunda Afifah.
Sedangkan tanpa mereka sadari, Elang terus memandang wajah Zeasy dalam diam. Ia tiba-tiba rindu wajah itu. Juga senyumannya yang dapat memabukan Elang. Ingin rasanya Elang mendekap Zeasy saat itu juga. Dan banyak yang ingin Elang katakan pada Zeasy. Tapi tidak bisa, seolah ada tembok besar yang menghalangi mereka.
TBC
__ADS_1
Ku menangisssss....
sumpah aku sakit banget tahu denger Elang mau tunangan sama Yiran..