
Siang itu, Zeasy bergesas siap-siap karena akan makan siang bersama sang Mami. Ia bahagia, bahkan saking bahagianya sedari kepergian Islan senyumnya tak luntur dari wajah cantiknya.
Bukan apa atau kenapa? Zeasy pun tidak tahu, ia hanya merasakan sesuatu yang hilang dari hidupnya itu kembali lagi. Entahlah, rasanya sulit sekali untuk mengatakan isi hatinya sekarang ini. Yang perlu ia lakukan sekarang adalah bersiap dan berangkat ke kantor Mami. Ini adalah pertama kalinya Zeasy makan siang bersama setelah terakhir itu - entah kapan, Zeasy pun tidak ingat. Saking tidak ada komunikasi baik lagi, mungkin.
Ia keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang melilit di tubuhnya. Membuka lemari pakaian dan ia pun memilih pakaian yang terbaik menurutnya.
Seperti akan kencan bersma pacar saja Zeasy ini sampai begitu antusias harus berpenampilan menarik. Agar ia tidak malu-maluin, pikirnya.
Jeans abu panjang dan kemeja putih mungkin cocok untuknya. Lantas Zeasy pun memakai pakaian casualnya. Tak lupa ia memoles wajahnya dengan bedak tabur dan pelembab. Agar tak terlihat kering wajah putihnya itu. Setelahnya Zeasy pun memakai sepatu kets putih kesukaannya.
Baiklah ia siap berangkat ke kantor Mami.
Zeasy pun keluar dari apartemen. Berjalan santai di koridor apartemen dengan sebuah senyuman yang menawan. Rambut yang ia biarkan terurai pun menambah kesan kecantikan untuk Zeasy. Walau penampilannya tomboy, tapi itu tak mengurangi kadar kecantikan di dalam dirinya.
Zeasy menyetopkan taxi yang kebetulan tengah mengarah padanya. Ia masuk ke dalam taxi itu sesaat sang supir memberhentikan lajunya tepat di depan Zeasy.
**
Tiga puluh lima menit, Zeasy sampai di kantor sang Mami. Ia berjalan ke arah pintu masuk gedung yang menjulang setelah pintu kaca itu terbuka secara otomatis.
"Mbak, Mami saya ada kan?" tanya Zeasy pada resepsionis kantor sang mami.
"Ibu lagi ada tamu, Mbak," jawabnya sopan sambil berdiri di balik meja resepsionis.
"Oh ... lama gak ya kira-kira? Atau bisa kasih tahu aja gak? Aku udah ada janji makan siang soalnya sama Mami." Zeasy berujar dengan sopan dan tak lupa senyumnya ia terbitkan. Zeasy tidak ingin merusak suasana hatinya.
"Baik, Mbak!"
__ADS_1
Beberapa karyawan memang sudah tahu jika Zeasy adalah putri dari Direktur perusahaan agenci itu. Tapi tidak banyak, karena Zeasy yang jarang mengunjungi kantor sang Mami. Hanya sesekali saja jika gadis itu ada keperluan penting yang mendesak.
"Mbak, kata Ibu masuk saja ke ruangannya!" ucap resepsionis wanita itu. Zeasy mengangguk seraya mengucapkan terimakasih. Kemudian ia berlalu menuju ruang kerja sang Mami.
Zeasy masuk ke dalam lift ketika pintu lift itu terbuka. Ia menekan angka empat dimana itu lantai ruang sang Mami. Namun, saat pintu lift itu akan tertutup. Tiba-tiba seorang cowok masuk tergesa ke dalamnya.
"Cewek hulk ... ya ampun, gak nyangka kita ketemu lagi. Satu lift lagi," ujar David, si cowok tengil yang belakangan ini selalu mengganggu Zeasy. Sial!
"Ya Tuhan ... kenapa kau selalu kasih cobaan berat terus sama gue?" Zeasy menengadahkan tangannya seperti layaknya orang yang tengah berdoa setelah sebelumnya ia mendengus kesal saat tahu siapa orang yang menyusul masuk ke dalam lift.
"Seberat apa sih cobaan yang dikasih Tuhan sama loe? Gitu amat loe doanya?" tanya nyeleneh David. Ia menghadap Zeasy dengan tangan yang terlipat di dada.
"Cobaan gue berat banget. Loe mau tahu?" tanyanya memicingkan matanya.
David mengangguk, "apa?" tanyanya.
"Maksud gue bukan cobaan. Tapi musibah!"
"Sadis banget loe ngomong. Bisa dijaga gak mulutnya?" tanya David sinis. Cowok itu merasa terdzolimi karena dibilang musibah oleh Zeasy.
Pintu lift pun terbuka. "Nggak!" Zeasy keluar dari lift itu. Begitu juga dengan David.
"Loe tuh emang gak ada manis-manisnya jadi cewek. Untung loe cantik, dada loe juga gede. Gak jelek-jelek amat. Masuk dalam karakter gue itu," ungkap David tidak waras. Yang kontan saja membuat Zeasy menghentikan langkahnya. Ia berbalik membuay David tersentak karena gerakan Zeasy yang tiba-tiba.
"Selain membawa musibah, loe juga ternyata mesum ya." Sebelum mengatakan itu Zeasy sempat membuka rahangnya. Tak menyangka jika David bisa berbicara frontal seperti itu pada Zeasy.
"Awas ... loe ngatain gue mesum. Nanti jatuh cinta lagi sama gue," ujar David kembali mengikuti langkat Zeasy ketika gadis itu kembali melewati koridor kantor.
__ADS_1
"Gue gak kenal cinta. Jenis makhluk seperti apa cinta itu? Gak tahu gue." Setelah seonggok daging merah tersakiti, apa perlu kenal lagi dengan yang namanya cinta?
"Wishh ... pedes amat bibir loe, pake bon cabe level sepuluh ya? Boleh gue cobain gak?" canda David berjalan sejajar dengan Zeasy sambil kedua tangan ia masukan ke dalam saku jaket jeans abunya.
Zeasy hanya terdiam. Enggan menanggapi kalimat David. Menurutnya, ucapan David hanya sebuah sampah saja.
"Btw, nih ya, kok kita cocok banget ya, jangan-jangan jodoh lagi. Lihat deh jaket gue tuh sama kaya celana yang loe pake. Sepatunya juga sama. Fix kita tuh jodoh, cewek hulk." Saat ini Zeasy sudah tepat berada di depan pintu yang terpangpang nama Direktur di daun pintu atasnya.
"Btw juga, dari tadi loe itu ngintilin gue mulu, ya?!" Zeasy bertanya. Ia melipat keduan tangannya seraya punggung yang ia sandarkan pada dinding sebelah pintu. Ekspresi wajahnya kembali galak dan judes. Datar juga ada aura dingin yang David sendiri pun tidak dapat mengartikan tatapan dan ekspresi gadis yang ada di dekatnya.
Sebelum menjawab, David menoleh kanan kiri. "Gue, ngikutin loe?" Ia menunjuk dirinya sendiri. "gak ada kerjaan banget gue ngikuti loe." lanjutnya kemudian dengan dengusan kesal keluar daru mulut David.
"Terus loe mau ngapain ada di depan ruang Direktur? Mau ngelamar jadi model?" Zeasy tergelak, "gak bakal diterima. Nih gue kasih tahu ya, kalau mau jadi model tuh harus, satu - keren." Zeasy mengangkat telunjuknya mengarah pada David.
"Dua - ganteng!" Lalu Zeasy menambahkan jarinya menjadi dua. Sambil matanya memicing menilik penampilan David. Yang mengenakan kaos putih dibalut jaket jeans abu. Celana jeans hitam sepanjang tumit juga spatu kets putih bermerk seperti yang Zeasy kenakan.
"Tiga -"
"Stop!" David menyingkirkan tiga telunjuk yang Zeasy arahkan tepat di depan wajahnya. "Gue tahu gue ganteng, keren, banyak cewek yang naksir. Tapi gue gak untuk ngelamar jadi model kesini. Gak minat gue," ujar David mendekatkan wajahnya ke wajah Zeasy. Sehingga Zeasy menahan nafasnya agar tak menyapu permukaan wajah David.
Tepat ketika wajah David dan Zeasy berdekatan, pintu ruang Direktur pun terbuka.
"Kalian lagi apa?" tanya orang yang membuka pintu. Kontan detik itu juga David menarik wajahnya kembali. Zeasy tersentak. Ia menoleh pada sumber suara di sebelah kirinya. Tepatnya di depan pintu ruang Direktut.
TBC
Hayo tebak suara siapa itu? Yang jelas itu bukan suara mami Zeasy ya. wkwk
__ADS_1
Yang udah komen dibab sebelumnya. Yang nebak Mami Zeasy bakal nikah sama Papi David itu adalah ....
Ikuti terus aja ya sayang. Pokoknya cerita ini tuh bakal penuh dengan kejutan. Entah itu apa kejutannya tapi bakal segera aku kasih tahu di next bab. wkwk