Zeasy

Zeasy
Sekenario Hidup


__ADS_3

Setelah hukumannya selesai, David bergegas pergi ke kantin. Sampainya disana, David langsung membuka lemari es dan mengambil botol minuman. Bukan hanya satu, tapi dua sekaligus. Ia legut minuman itu setelah membuka tutup botolnya sambil berjalan ke arah kursi panjang. Tepatnya menghampiri Zeasy yang sedang duduk di pojok meja kantin. Seperti biasa, pandangan gadis itu selalu kosong dengan tangan yang menopang dagunya.


"Perasaan gue lihat loe demen banget mojok kek gini." David menyahut lalu duduk di samping Zaesy.


"Mau gak?" tawarnya. Menyodorkan satu botol minum yang belum ia buka. Zeasy masih terdiam dengan tatapan kosongnya.


David mengesah. Ia bingung karena Zeasy sedari tadi hanya diam saja tanpa menggubris sapaan David.


Tubuhnya sudah lelah akibat hukuman Pak Burhan. Dan sekarang lelah itu kembali menjalar ketika melihat Zeasy yang diam membisu tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut merahnya. Rasanya David ingin berteriak dan bilang 'woy cewek hulk, loe kalau bengong tambah cakep. Bikin gue tambah sayang.' Tapi semua kata-kata itu hanya tertelan susah tanpa keluar satu hurup pun.


Sampai pada akhrinya, suara Rosy kembali menggema di pendengaran David seraya menarik kerah belakang baju cowok itu.


"Cewek pea, loe gak ada akhlak emang. Lepasin tangan durjana loe, pea!" David berdiri mengikuti pergerakan tangan Rosy yang menjiwir kerah belakang bajunya. Sumpah, David bisa saja menghantam Rosy dengan tangan kekarnya. Tapi rasa enggan menyelimuti hati David untuk menyentuh tangan Rosy. Jangankan menyentuh, mentoel saja rasanya David ogah.


"Loe tuh yang pea. Buta kali mata loe, cewek cantik kaya gue loe bilang pea." semprot Rosy melepaskan tangan dari jiwiran kerah baju belakang David.


David tergelak kencang. "Iya loe emang cewek cantik di antara bencong-bencong jalanan yang lagi ngamen di lampu merah," jawab David yang lagi - lagi membuat Rosy geram.


Tolong dong kantong ajaib doraemon, keluarin benda yang bisa buat David gagu. Biar dia gak bisa ngatain orang terus.


"Dari pada loe. Udah kaya thanos yang gelantungan di pohon kencur Pak RT." Rosy tak mau kalah. Berbagai ejekan pun saling mereka lempar dan membuat kegadahun di kantin. Lagi.


Sampai suara gebrakan meja menghentikan saling cibir Rosy dan David.


Hening seketika mendominasi kantin tersebut. Zeasy bangkit dari duduknya lalu berjalan mengacuhkan semua pasang mata yang tengah menatapnya heran. Tanpa satu kata pun melintasi mulutnya itu.


"Gara-gara loe kan dia marah," tuduh Rosy sambil berlalu menyusul Zeasy.


"Dasar pea!" semprotnya ketika Rosy menyenggol tubuh kekar David dan hampir terhunyung.


**


Zeasy menapaki setiap anak tangga sekolah. Tujuannya sekarang hanyalah rooftop. Ia sedang ingin sendiri. Entah kenapa Zeasy pun tidak mengerti, karena menurutnya lebih baik ditemani setan tampan dari pada harus ditemani orang-orang gak ada akhlak seperti David ... dan Rosy.


Sial. Saat Zeasy membuka pintu rooftop ia mendapati makhluk yang sedang duduk di atas tembok pembantas. Kenapa harus ada orang sih, padahal Zeasy lagi ingin berkencan dengan babang tamvan tak kasat mata. Pikiran tidak masuk akal itu melintasi otak Zeasy.


Hey dunia, tolong bilang dong sama Zeasy, kalau tidak waras itu gak usah berlebihan. Bisa gila entar.

__ADS_1


"Kenapa putar balik lagi?"


Ah berlipat ganda sial. Ternyata pas tadi Zeasy masuk membuka pintu itu ada suara kereket. Dan pada akhirnya dia - cowok yang tengah duduk santai itu mengetahui ada orang selain dirinya yang masuk. Dan lebih parahnya lagi dia tahu kalau yang masuk itu Zeasy.


Kontan Zeasy tergugu. Ia tidak jadi menghindar.


Cowok itu menoleh ke arah Zeasy lalu ia turun dari atas tembok pembatas. "Kamu gak perlu menghidar lagi dari saya. Saya tidak akan ganggu kamu."


Apa-apa, Saya?


Terasa asing bagi Zeasy ketika cowok itu menyebut dirinya saya. Padahal kata aku seperti sudah mendominasi pendengaran Zeasy.


"Emang seharusnya kan loe gak ganggu gue terus. Apalagi loe itu udah mau tu-na-ngan. Entar malam lagi." Zeasy menyahut dengan menekan kata tunangan pada Elang.


Ya, Elang. Dia dikontrak oleh kepala sekolah untuk melatih tim basket GGS. Masih ingatkah jika Elang adalah seorang Master yang serba bisa? Apalagi Elang adalah murid alumni GGS.


Zeasy berdecak. Ia berjalan melewati Elang yang mematung di depannya.


"Loe gak bisa ngerasain jadi gue, Lang. Ditinggal pas lagi sayang-sayangnya." Zeasy menghela. Ia berbalik menatap Elang. "Orang tua cerai, dan sekarang mereka malah mau nikah lagi." Ada jeda panjang setelah Zeasy mengungkapkan kalimat tersebut. Elang terdiam, ia menyimak dengan tenang. Siap untuk mendengarkan beberapa kalimat apa lagi yang akan Zeasy ucapkan.


"Yang bikin gue gak rela, bokap bakal nikah sama nyokap Yuke. Gue benci ini, gue benci situasi dimana gue yang harus selalu ngalah." Cairan yang sedari tadi Zeasy tahan, akhirnya menetes juga.


Zeasy menunduk, menyembunyikan wajahnya dari pandangan Elang. Menyembunyikan perasaannya yang hancur berkeping bagai kapas yang tertiup angin. Terbang melewati angan tanpa beban.


Andai kapas itu adalah Zeasy. Mungkin ia tidak harus memikul beban hidup seberat ini.


Terkadang Zeasy berpikir, kenapa gue lahir ke dunia kalau pada akhirnya gue akan sengsara?


Tapi harus pada siapa ia protes?


Tuhan?


Kan gak mungkin Zeasy menghakimi Tuhan yang sudah membuat sekenario hidup untuknya. Entah sekenario itu panjang atau pendek, yang jelas Zeasy sudah tidak kuat lagi menjadi pemeran utamanya.


Satu langkah.


Elang perlahan mendekat ke arah cewek yang sedang menundukan wajahnya. Menyembunyikannya dibalik rambut yang menutupi sebagaian wajah itu.

__ADS_1


Dengan berani, Elang menyentuh dagu Zeasy dengan jarinya. Saat Zeasy mendongak, Elang merapikan rambut lalu menyelipkan rambut itu ke telinga Zeasy.


Zeasy tersentak dengan pergerakan tangan Elang yang lembut. Apalagi ketika Elang menghapus lelehan air mata yang menganak sungai di pipinya dengan jempolnya.


"Kamu sayang sama aku?"


Eh ... kok aku lagi?


Kontan, Zeasy menjadi gagu. Lidahnya tiba-tiba kelu untuk mengatakan 'tidak' tapi kepala dengan cepat mengangguk. Mengkhianati sang tuan. Kampret emang nih kepala.


"Eh ... maksud gue, kapan gue bilang sayang ke loe?" Gelagapan Zeasy setelah beberapa saat matanya saling memandang dengan Elang.


"Kenapa sih gak dari dulu kamu bilang sayangnya ke aku, kenapa baru sekarang saat aku mau menyelipkan cincin di jari manis orang lain?"


Ah sialan, kenapa Elang harus sepeka ini sih?


"Gue harus ke bengkel buat ambil motor gue," jawab Zeasy ngawur. Percayalah, mata Elang yang jernih itu membuat jantung Zeasy lari koncar-kancir mencari tempatnya untuk singgah.


Lantas yang Zeasy lakukan sekarang adalah kabur untuk menghindar tatapan Elang dan sejuta pertanyaan yang akan Elang lemparkan padanya.


Tapi rasanya hari ini Zeasy selalu ketiban sial. Karena saat ia akan kabur, tangan Elang lebih dulu menahannya.


Zeasy memejamkan matanya erat-erat. "Jam sekolah kan belum habis," sahut Elang masih menahan tangan Zeasy.


Ah beego ... kenapa otak Zeasy mendadak buntu untuk mencari jawaban lagi. Sialan!


"Ya gue mau minta izin sama Pak Burhan," ucapnya gelagapan.


"Untuk?"


"Mencuci otak gue yang tiba-tiba eror gara-gara loe yang bersikap manis sama gue!" teriaknya memejamkan mata. Elang tidak bisa kalau tidak menarik sudut bibirnya lebar-lebar hingga terbentuk bulan sabit kecil disana. Ia menggeleng samar. Perasaannya kembali mencair setelah satu bulan membeku. Dan ini gara-gara cewek tomboy di hadapannya.


Entah sihir apa yang Zeasy berikan pada jantung Elang sehingga jantungnya kini mengeluarkan bentuk hati yang berwarna merah tak kasat mata. Andai Zeasy bisa melihat jantung Elang, ia sudah pasti akan kabur.


TBC


ciye-ciye ... gak enak juga ya kalau memendam perasaan. Mending ungkapin aja dari pada karatan entar. Kaya hati gue nih yang musti di kerik gara-gara udah lama karatannya. wkwk

__ADS_1


Wokeh cintanya bambang Elang jangan lupa kasih likenya. Kesan anda yang udah baca bab ini. Gimana hayo perasaannya? ckckck


Be te we follow Ig aku @seizyll_koerniawan. Disana aku selalu kasih visualnya Elang dan Zeasy.


__ADS_2