
"Sial, berengsek, gila. Kenapa cowok berengsek itu harus munculin wajahnya lagi di depan gue." Sungguh, saat ini emosi Zeasy tengah tersulut dan tak bisa ia kendalikan. Saat melihat orang yang mencekal tangan Yuke agar tidak sampai ke pipinya.
Iya, dia Elang - yang kala itu ada undangan dari kepala sekolah. Ketika Elang melewati lapangan basket, ia melihat gerakan lincah Zeasy saat bermain basket dengan Yuke. Dan sampai pada akhirnya Zeasy tersungkur lalu beradu mulut dengan Yuke.
Zeasy tidak pernah semarah ini pada siapa pun sebelumnya. Tapi saat melihat wajah Elang dan mengingat kalimat yang sudah menyakiti seonggok daging yang berwarna merah itu, emosi Zeasy tidak bisa tertahan lagi. Ia berlalu dari lapangan begitu saja tanpa mengucap terimakasih pada Elang.
Saat ini ia berada di rooftop. Membantingkan benda apa saja yang ada di dekatnya. Berteriak nyaring, tapi tak juga meredam emosinya.
"Gue benci loe semua!" teriaknya meluapkan segala rasa kesal dan marahnya. Matanya terpejam dan kedua tangannya mengepal sempurna di atas tembok pembatas.
Tanpa Zeasy sadari, seorang yang tadi menolongnya tengah bersandar pada pintu rooftop yang tidak pernah terkunci.
"Gue benci loe, Elang. Gue benci ..." teriaknya lagi. Kemudian ia memundurkan tubuhnya dan duduk di kursi rotan dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya. Tangisnya pecah. Sungguh saat ini Zeasy butuh tempat bersandar. Ia sendiri, dan benar-benar sendiri.
"Maafin aku, Zeasy." Kata itu terlontar dengan tulus dari mulut Elang. Bukan tanpa alasan Elang menjauh dari Zeasy. Ia terpaksa karena ia tak mungkin menolak keinginan kakeknya yang sudah menjodohkan Elang dengan Yiran - tanpa sepengetahuan Elang sendiri.
Ia pun tak mengerti dan tak tahu harus berbuat apa. Kakeknya sedang sakit dan beliau meminta satu permintaan pada Elang untuk memenuhi janji kakeknya dan kakek Yiran. Alasannya agar kekerabatan keduanya yang dari dulu semakin kuat jika Elang menikah dengan Yiran.
Elang pernah berpikir, jika semuanya akan baik-baik saja karena kedekatan Elang dan Zeasy pun masih tidak terlalu lama. Dan itu juga pasti akan cepat mengubur rasa Elang pada Zeasy sebelum rasa itu semakin dalam. Tapi sayang, semakin Elang melupakan Zeasy, semakin besar juga rasa itu ada.
Ini baru pertama kali Elang merasakan perasaan yang dalam seperti saat ini. Sebelumnya, rasa itu tidak pernah ada pada cewek mana pun.
**
Jam pulang sekolah pun sudah tiba, Zeasy lebih dulu keluar dari kelasnya. Saat ini ia butuh ketenangan.
"Heh cemek hulk, tadi orang bengkel telepon gue, motornya udah beres servis. Loe udah janji ya mau tanggung jawab." David si cowok tengil itu lagi. Yang membuat Zeasy jengah saja.
Kenapa Tuhan baik banget sama Zeasy, hingga kasih cobaan pun sampai harus satu kelas dengan murid baru yang ngeselinnya naudzubillah.
__ADS_1
Zeasy merogoh saku roknya. Mengambil ponselnya dari dalam saku itu. "Nomor rekening loe, biar gue transfer," ujarnya dingin dan datar. Percayalah saat ini Zeasy tidak ada lagi tenaga untuk melayani cowok tengil yang memanggilnya cewek hulk. Menyebalkan!
"Gue gak punya nomor rekening," dusta David melipat kedua tangannya di atas dada. Dengan wajah nyelenehnya, sumpah Zeasy pengen nabok.
Kemudian Zeasy menyimpan kembali ponselnya. Ia membuka resleting tasnya dan mengambil dompetnya. Ia melihat isi dompetnya yang hanya ada uang lima lembar seratus ribuan. Sebelum mengeluarkan uang itu dan memberikannya pada David, Zeasy melihat wajah David sesaat dalam wajah yang menunduk.
Zeasy berpikir, kalau ia memberika uangnya semua tak ada ongkos buat ia naik taxi dong. Sedangkan ia tidak membawa motor dan motornya pun masih di bengkel. Kalau ke ATM dulu jauh dan cowok tengil itu pasti akan menguntit.
Lantas apa yang harus Zeasy lakukan?
Sesaat ia juga menoleh pada Rosy yang masih mencatat. Hah beginilah kalau nasibnya sedang tidak beruntung. Rosy yang akan ada rapat OSIS pun tidak bisa ia tebengi.
Ah masa bodo, ia bisa jalan kaki ke ATM, bodo amat kalau jauh yang penting Zeasy gak punya hutang dan tidak ada urusan lagi sama David. Walau sangat tipis David tidak akan menggangu Zeasy.
"Nih ... gue hanya punya duit cash segitu. Kurangnya nanti besok gue bayar." Terpaksa gadis itu memberikan uang cash-nya. Zeasy simpan uang itu di atas meja kemudian berlalu secepat mungkin.
"Cewek hulk, loe emang sesuatu banget. Lihat saja, jangan bilang gue David kalau gue gak bisa dapatin loe." David berujar sambil merampas uang yang Zeasy berikan dan ia simpan di atas meja.
"Dadi!" gumamnya.
Tak ada niat untuk Zeasy menghampiri pria yang ia sebut Dadi itu. Hatinya masih terlalu sakit jika mengingat apa yang sudah dilakukan pria itu padanya. Lantas ia bufu-buru berbalik untuk menghindar.
"Zeasy, sayang!"
Sial, sepertinya Collin melihat Zeasy sebelum ia memutar tubuhnya.
"Sayang," tegur Collin, ia sudah berada tepat di belakang tubuh Zeasy.
Terpaksa gadis itu memutar kembali tubuhnya. "Ngapain Dadi kesini?" tanya Zeasy dingin pada Collin.
__ADS_1
"Papa!"
Sebelum Collin menjawab pertanyaan sang putri, seorang gadis lebih dulu menyapanya dari jarak beberapa langkah sambil melambaikan tangannya. Lalu menghampiri Collin.
"Papa, udah lama ya nunggu aku? Maaf ya, Pa, tadi aku pas keluar kelas ke toilet dulu," sahutnya manja dengan senyum manis yang tulus yang gadis itu berikan.
Zeasy yang masih berada disana mengernyit heran. Rongga dadanya pun kembali bergemuruh saat gadis lain memanggil dadinya dengan sebutan Papa. Apalagi saat tahu gadi itu adalah-
"Gak lama kok, Yuke. Papa juga baru sampai." Collin tersenyum menanggapi Yuke sambil mengelus rambut gadis yang seusia putrinya itu.
"Papa?" Karena penasaran, Zeasy pun mengulang kata Papa seakan bertanya dan meminta penjelasan dari Collin.
"Iya, Papa. Mama aku kan mau nikah sama Papa Coliin." jawab Yuke bangga. Mungkin bangga karena sebentar lagi ia akan memiliki kembali kasih sayang seorang ayah.
Ayah Yuke yang memang sudah lama meninggal. Karena itu saat Wike memberitahu akan menikah lagi dengan bos-nya, Yuke bahagia bukan main.
"Jadi, nyokap loe Tante Wike?"
Yuke menjawab dengan anggukan kepalanya.
Zeasy menghela nafasnya kasar seraya menggelengkan kepalanya samar. "Heuh, Dadi benar-benar hebat!" ujarnya. Kemudian pergi dari sana. Ia tidak ingin lebih sakit hati lagi.
Dalam satu hari ini, Zeasy sudah mendapatkan beberapa penderitaan. Lalu bagaimana dengan hari-hari berikutnya, apa Zeasy akan siap menerima cobaan demi cobaan lainnya?
Tuhan ...
Rasanya Zeasy ingin protes saja dengan takdir hidupnya. Ini terlalu menyakitkan. Gadis berusia 17 tahun sudah mendapatkan begitu banyak cobaan hidup. Dari mulai orangtua dan juga cinta.
Zeasy benci hidup ini. Ia rasanya ingin mengakhiri hidupnya saja.
__ADS_1
TBC