
"Kenapa dokter izinin kalau kondisi Zeasy masih lemah. Kalau dia pingsan entar gimana? Ish ..." David yang kala itu mendapat pesan dari Dokter Fathul, jika Zeasy merengek ingin pergi ke acara ulang tahun sekolah.
Iya, sebelumnya, David dan Dokter Fathul saling bertukar ponsel. Agar Dokter Fathul merasa gampang untuk menghubungi David jika sesuatu terjadi pada Zeasy. Seenggaknya salah satu dari mereka ada yang peduli pada gadis keras kepala itu.
"Yang perlu kamu lakukan sekarang, kamu susul Zeasy dan awasi dia!" saran Dokter Fathul. Kemudian ia mematikan sambungan teleponnya.
Di dalam kamar, David berdecak bimbang. Ia harus segera pergi ke acara ulang tahun sekolah itu. Lantas David bergegas bersiap. Ia mengambil satu kemeja dan jaketnya. Lalu mengganti pakaian itu di dalam kamar mandi.
"David, mau kemana, loe?" tanya Leon ketika ia juga baru membuka pintu keluar dari kamarnya.
"Ada acara!" David menjawab cepat. Tak ada waktu buat ladeni ocehan Leon yang selalu memberinya ceramah - yang membuat David panas lama-lama.
"Loh David, mau kemana?" Itu Islan yang bertanya. Ia sedang menyiapkan makan malam di meja makan.
David berhenti, ia mengesah frustasi. "Mau ke acara ulang tahun sekolah, Tan." Jawab cowok itu cepat. Ia terlalu khawatir pada kondisi Zeasy.
"Katanya gak bakal datang?"
Ish .. Tante Islan banyak nanya. Masya Alloh, pengen gue kasih berlian kalau gitu biar diem.
"Nanti aku jelasin. Sekarang udah gak ada waktu. Aku pamit."
"Waalaikumsallam, Dav!" ujar Islan geleng-geleng kepala.
"Anak itu. Mau kemana dia, sayang?" Yunus bertanya. Ia baru keluar dari ruang kerjanya.
"Ke acara sekolah katanya."
Yunus menarik kursi makan, "loh, katanya gak bakal hadir?" Islan hanya mengedikkan kedua bahunya tanpa menjawab.
**
Di dalam keramain, hanya Zeasy yang wajahnya tampak murung. Ia datang ke acara ulang tahun sekolah itu tanpa enggan untuk bergabung bersama teman-temannya. Ia hanya menikmati masa-masa sisa umurnya yang menurut prediksi Dokter Fathul gadis itu akan bertahan tiga sampai empat bulan saja. Entahlah, dokter hanya manusia biasa, bukan?
Zeasy berharap itu tidak benar. Tapi mengingat kondisinya yang hari demi hari semakin memburuk Zeasy tidak dapat menolak jika takdir hidupnya cukup dengan tiga atau empat bulan lagi.
__ADS_1
Disini, di tempat ramai ini, Zeasy tersenyum gentir. Apa nanti jika dirinya sudah tidak ada masih akan ada yang mengingat dan mengenangnya? Ia terkekeh. Kekehan itu seraya dibarengi dengan lelehan air mata yang sedari tadi menumpuk di pelupuk.
"Rosy, gue sayang loe. Sumpah, gue kangen banget sama loe, Cy!" Ketika mata melihat Rosy yang sibuk merapikan dekorasi-dekorasi di aula tersebut. Senyumnya kembali ia terbitkan. Walau tak bisa dipungkir dalam hati ia menangis pilu. Andai mereka tahu, andai Rosy tahu. Apa dia akan merasa kasihan sama Zeasy?
Tapi Zeasy tak butuh dikasihani. Ia cukup bisa menyembunyikan ini sendiri. Tanpa orang lain mengetahui kondi Zeasy.
Membalikan tumit, Zeasy tergagap ketika baru menyadari ada orang lain di belakang punggungnya.
Sesaat keduanya hanya terpaku. Saling menatap dalam dan memancarkan kerinduan. "Elang!" Lirih ia menegur cowok yang selama ini selalu ada di pikirannya. Tapi ia bisa apa, percuma juga ia menerima Elang saat ia mengungkapkan perasaannya pada Zeasy, jika pada akhirnya Elang akan bersedih melihatnya tiada.
Awalnya Zeasy memang senang karena perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi ketika Zeasy mengingat penyakit sialan itu. Hati yang akan berucap Ya pun bertolak dengan lidah yang mengatakan tidak. Bagaimana bisa?
"Apa kamu memang pacaran sama cowok itu?" Itu adalah pertanyaan Elang ketika mendengar jawaban dari Zeasy.
Ia pun dengan ragu mengangguk. Biarkan saja, biarkan Elang berpikiran seperti itu.
**
"Kemana aja?" tanya Elang. Kini keduanya sudah duduk di kursi panjang taman sekolah.
"Ada!" singkatnya.
Zeasy menoleh, "bohong?"
"David!" Sejenak Elang menghela. "Kamu gak pacaran kan sama dia?" Menatap Zeasy dengan dalam. Berharap kali ini Zeasy akan jujur padanya. Kenapa Zeasy menolak Elang? Apa alasannya?
"Gue--"
"Aku gak butuh alasan. Aku butuh penjelasan!"
Entah ini cuacanya yang dingin atau apa. Tapi tubuh Zeasy mendadak menggigil. Ia sampai memeluk tubuhnya sendiri. "Gue-" bibirnya bergetar dan pucat itu jelas terlihat.
"Kalau alasannya karena aku yang akan bertunangan. Aku udah bilang, aku akan membatalkannya demi kamu. Tapi-"
Brukk ...
__ADS_1
"Zeasy!"
Seseorang berlari dari arah samping gedung sekolah. Wajahnya panik, rahang mengeras dan tanpa ba bi bu lagi, David langsung menarik kerah kemeja Elang dan melayangkan kepalan tangannya ke rahang Elang. Hingga cowok dengan mata setajam elangnya pun jatuh tersungkur ke atas tanah. Bibirnya juga mengeluarkan darah.
"Zeas, hey cewek hulk, bangun! Astaga ..." David menepuk-nepuk pipi Zeasy yang tersungkur di atas kursi panjang tersebut. Hidungnya kembali mengeluarkan daras.
Elang yang sudah berdiri menatap wajah Zeasy tidak percaya dan tidak mengerti. Ia usap darah di ujung bibir dengan ibu jarinya.
"Zeasy kenapa?" tanya Elang menarik tangan David yang akan memangku tubuh Zeasy.
"Bukan urusan, loe!" sengitnya tajam menyingkirkan tangan Elang yang menyentuh bahu David.
David kembali mengarahkan kedua tangannya untuk memangku Zeasy yang sudah tidak sadarkan diri. Ia berlari cepat membawa gadis itu. Meninggalkan Elang dengan sejuta pertanyaan yang tidak mendapatkan jawaban.
Tidak ingin mati penasaran, Elang pun membalikan tumit, mengejar David yang sudah membawa Zeasy pergi.
"Kasih tahu gue, Zeasy kenapa?" hardik Elang menghadang David yang akan membuka pintu mobil belakang dengan susah payah.
"Bukain pintunya cepat!"
Bukannya menjawab, David malah menyuruh Elang. Gak ada akhlak emang tuh cowok. Dan ajaibnya, tangan Elang begitu saja menuruti yang bukan tuannya. Menyebalkan.
Saat pintu mobil itu terbuka lebar, David membaringkan tubuh Zeasy di atas jok mobil. Ia menutup pintu itu lagi. Kemudian David buru-buru memutar mobil untuk ia masuk ke dalam dan duduk di kursi kemudi.
"Ish ... ini bukan saat yang tepat gue jelasin semuanya. Zeasy lagi butuh pertolongan secepatnya. Jadi lepasin tangan gue!" hardiknya. Elang semakin bingung dengan ini semua.
"Gue butuh penjelasan loe sekarang! Zeasy kenapa? Kenapa tiba-tiba dia pingsan? Dan darah itu-"
"Ah, loe kebanyakan ngomong!" Disingkirkanlah tangan Elang secara paksa oleh David.
Ia menjalankan kereta besinya setelah bisa kabur dari Elang. Menginjak pedal gasnya dengan cepat.
Zeasy harus segera mendapat pertolongan secepatnya.
Bersamaan dengan mobil David yang melaju, Elang juga secepat kilat merogoh saku jasnya dan segera duduk di balik kemudi. Ia menyusul David. Mengikuti mobil David dari belakangnya.
__ADS_1
"Gue harus tahu, Zeasy sebenarnya kenapa." racaunya di balik kemudi itu.
TBC