
Meratapi malam dengan penuh kegelisahan dan kesedihan seolah itu sudah biasa bagi Zeasy. Setelah pertemuannya dengan Elang di panti asuhan itu, perasaan Zeasy seolah tertutup. Ia berdiri di balkon apartemen sendiri dengan minuman kaleng di tangannya.
"Ciuman itu?" Zeasy bertanya seolah meminta jawaban dan kepastian. Ia tidak ingin tersakiti lagi setelah apa yang sudah orang tuanya berikan pada Zeasy.
Duduk berdampingan di kursi taman belakang panti asuhan. Zeasy mau pun Elang hanya menatap lurus ke depan.
"Itu bukan apa-apa. Jangan salah paham. Tak ada maksud dari ciuman itu," kata Elang tanpa menoleh pada gadis di sampingnya yang tengah mengepalkan kedua tangan di atas lututnya.
Sadarkah apa yang dikatakan Elang? Itu sama saja pria itu melecehkan Zeasy. Zeasy tak bisa terima dengan perlakuan Elang padanya.
"Gue kira loe tulus deket sama gue," sahut Zeasy seraya menahan nafasnya yang memburu. "Tapi ternyata, loe sama aja kaya bokap gue!" sergahnya.
Zeasy tak bisa lagi menahan dadanya yang bergemuruh. Ia takut jika ia terus berada di sana itu akan membuat emosinya tidak terkontrol. Selama ini, Zeasy selalu bisa menahan emosinya, sebesar apa pun ia marah tapi Zeasy selalu berhasil mengendalikan dirinya. Tapi kali ini sepertinya ia tidak bisa lagi menahan. Hatinya hancur berkeping. Andai pria yang ada di sampingnya itu tahu.
Lantas yang sekarang Zeasy lakukan adalah bangkit dari duduknya dengan susah payah.
"Zeasy." Elang menahan bahu Zeasy yang akan terjatuh.
"Lepasin tangan loe!"
"Biar aku bantu."
"Gak perlu. Gue gak butuh bantuan siapa pun, termasuk loe." Tatapan Zeasy seolah menyiratkan kebencian yang mendalam pada Elang. Lalu Zeasy melepaskan tangan Elang dengan kasar. Ia berjalan dengan kaki pincang. Meninggalkan Elang yang berdiri mematung di belakang Zeasy dengan kedua tangan yang terkepal.
Tanpa Elang tahu, Zeasy menitikan cairan sialan yang tak bisa ia tahan. Dirinya seolah telah lenyap. Semua orang yang ia sayangi semuanya pergi meninggalkannya.
flashback off
"Elang," sahut Zeasy menatap tajam pada minuman kaleng yang sudah habis itu. Lalu tangannya meremas kaleng itu hingga tidak utuh lagi. Zeasy melemparnya dengan kuat hingga mengenai bingkai foto dirinya yang tergantung di dinding apartemen.
***
Pagi itu, Zeasy harus kontrol kakinya ke rumah sakit. Ia tidak mengajak Rosy. Entahlah ada apa dengan diri Zeasy. Rosy mengirim pesan dan menelponnya pun Zeasy abaikan.
Ia berjalan masih dengan kaki yang pincang. Zeasy masuk ke dalam lift ketika ia sudah menekan tombolnya dan pinta lift itu langsung terbuka. Zeasy masuk dengan menahan pintu lify nya agar tak cepat tertutup karena langkahnya yang pelan.
"Stop-stop!" Seseorang berlari ke arah lift dan segera masuk ke dalam sana dengan berlari cepat.
"Loe?" tegur cowok yang satu lift dengan Zeasy.
Zeasy hanya mengernyit heran tanpa ada niatan untuk menyahuti teguran cowok itu. Kemudian wajahnya kembali menatap ke depan pintu lift.
__ADS_1
"Dih, dingin banget loe jadi cewek," sahut cowok itu setelah beberapa saat. Sedangkan Zeasy masih acuh.
"Gue David, masih ingat gak loe?" sahutnya kesal seraya melipat kedua tangannya di atas dada.
Zeasy masih diam. Kemudian mengamati David dengan ujung matanya. David yang memakai seragam sekolah dan menyampirkan tasnya di bahu kanan.
"Cowok yang balapan sama loe. Astaga ..." helaan nafas kasar pun keluar dari mulut cowok itu.
Bukan Zeasy tak mengenali wajah cowok itu, hanya saja rasa sakit yang ia terima dari dua pria sekaligus membuat hatinya kini berubah menjadi dingin. Yang tak lain ayahnya dan Elang, cowok yang mengatakan seenak udel jika ciuman di mobil itu tidak berarti apa-apa.
Ah sial, kenapa Zeasy malah mengingatnya lagi. Membuat kobaran emosi pun membuncah di dalam dadanya.
Ting ...
Pintu lift pun terbuka. Zeasy segera keluar dengan langkah pelan. Melihat itu membuat hati David tiba-tiba mencelos. Lalu dengan gerakan kontan David memegang kedua bahu Zeasy dengan kedua tangannya.
Zeasy terhenyak. Ia menoleh, "gue bisa sendiri tanpa bantuan siapa pun!" hardiknya menatap tajam tepat pada coklat David.
"Galak amat loe jadi cewek. Cuma bantu doang gue. Kasihan gue sama-"
"Gue gak butuh belas kasihan dari siapa pun. Termasuk loe!" Kemudian Zeasy melangkah, berlalu dari sana.
"Wow," David berdecak kagum. Ada ya cewek kaya Zeasy. Biasanya cewek kalau ditolong sama David pasti itu sebuah penghargaan bagi cewek itu. Tapi Zeasy berbeda. Ini pertama kalinya David ditolak oleh cewek. Walau itu hanya sebuah bantuan saja.
Zeasy menyetop taxi dengan melambaikan tangannya. Lalu ia masuk ke dalam taxi itu setelah membuka pintunya.
"Cowok sama aja emang." decaknya sambil merogoh ponsel yang sedari tadi terus berdering.
Cek!
Zeasy berdecak ketika sebuah nama tertampang dilayar datarnya. Menggeser ikon merah, Zeasy malas untuk mengangkat panggilan itu. Tak lama sebuah pesan pun masuk.
Mami
Zeas, Mami kangen. Mami ingin ketemu kamu.
Zeasy berdecak, lagi. Tak menggubris apalagi membalas pesan dari maminya. Zeasy kembali memasukan ponselnya pada saku jeansnya.
Hari ini Zeasy berniat tidak masuk sekolah lagi karena jadwal kontrol kakinya.
**
__ADS_1
David memarkirkan motornya di parkiran sekolah. Motor trail hijau. Karena motor sportnya yang masih berada dalam perbaikam di bengkel karena serempetan motor Zeasy ketika balapan liar itu.
David membuka helm-nya. Lalu mengguyar rambutnya yang berantahkan ke belakang. Seketika ia menjadi pemandangan setiap cewek alay yang menyukai cowok-cowok tampan.
David turun dari motornya. Ia berjalan dengan langkah yang kalem dan santai. Tangan yang ia masukan ke dalam saku celana abunya. Sorot mata tajam membuat semua kaum hawa yang ada di parkiran seketika terpesona melihat wajah tampan David.
"Anak baru kayanya," sahut salah satu kaum hawa alay.
"Gila ... ganteng parah."
"Calon imam gue pasti itu."
Dan masih banyak lagi pujian yang kaum hawa itu dumelkan. Walau suaranya samar-samar, David masih mendengar. Ia yakin saat ini ia sedang menjadi bahan bincangan.
Ya begitulah seorang David, cowok paling pede dan narsis sejagat raya - yang memiliki kehidupan maha sempurna walau belum pernah merasakan sentuhan hangat dari tangan seorang ibu.
Tiba-tiba ...
Bruk ...
Rosy yang saat itu sedang berjalan sambil mengetikan ponselnya untuk mengirim pesan pada Zeasy. Tiba-tiba saja bahunya bertabrakan dengan David yang saat itu juga tidak memperhatikan jalan. Cowok itu sama sibuknya dengan ponsel yang sedang ia otak atik berbalas pesan dengan Orzy.
"Ah, gila, jalan tuh pake mata donga!" semprot Rosy sambil memegang bahunya yang sakit, lumayan.
David terhenyak, ia sedikit kaget. "Cewek itu lagi," gumamnya dalam hati.
"Heh, jalan tuh pake kaki. Mana ada jalan pake mata!" sengit David tak ingin kalah. Apalagi dari cewek nyebelin kaya Rosy yang udah pernah menonjok pipinya.
"Ternyata loe," ucap Rosy melipat kedua tangannya di atas dada. Tak pernah ada takut-takutnya cewek itu untuk menantang David. Lagi.
"Iya, apa emang. Kangen loe sama gue?" Dan David selalu akan bertingkah nyeleneh pada siapa pun.
"Cuih ... gue kangen. Jangan-jangan loe lagi yang kangen sama gue sampai pindah sekolah kesini segala," ujarnya menatap David dengan seringai di wajah cantiknya.
"Gue kangen? Mending gue kangen sama kambing dari pada sama loe." Tantang David yang tak mau kalah.
"Terus ngapain loe pindah sekolah kesini?"
Bentar-bentar ... sejak kapan Rosy merasa ingin tahu tentang orang lain. Ah menyebalkan.
"Kepo!" Lalu David pun berlalu yang membuat Rosy membuka rahangnya lebar. Ia hanya mengerjap bodoh.
__ADS_1
TBC