
Langit yang sudah berubah menjadi terang. Cahaya mentari kian menampakan sinarnya. Jarum jam yang tak pernah lelah memutari angka itu kini menunjukan angka 05.30. Zeasy yang baru saja membuka matanya dan duduk diatas kasur dengan selimut yang masih melilit dibawah kakinya.
Melirikan mata indahnya pada jam weker yang ada diatas nakas.
"Hufh, baru jam seteng enam" ucapnya. Menghela nafasnya pelan. Kemudian gadis itu menyibakan selimut yang meliliti kaki jenjangnya, menuruni ranjang dan menggeret langkahnya dengan gontai kearah kamar mandi.
Tak butuh waktu yang lama bagi Zeasy untuk bersiap kesekolah. Seragam putih melekat ditubuh rampingnya. Celana jeans panjang menutupi kaki jenjangnya. Tak lupa jaket kulit hitam kesukaannya ia balutkan menutupi seragam putihnya. Rambut ikal yang ia biarkan terurai. Walau Zeasy terlihat tomboy, tapi pesona kecantikannya mampu membuat setiap mata lelaki terpukau.
"Non, sarapan dulu!" di meja makan Bi May selalu menyiapkan sarapan untuk Zeasy. Tak banyak makanan yang disediakan. Hanya ada beberapa potong roti tawar, nutela dan segelas susu putih.
"Dadi sama Momi?" Zeasy duduk dikursi sendiri. Tangannya mengambil roti tawar, kemudian ia oleskan dengan nutela. Ah kenapa pula Zeasy harus menanyakan orang tuanya? Bukannya dia sudah terbiasa setiap pagi seperti ini? Mengisi meja makan hanya sendiri. Hanya ada Bi May yang selalu menemani.
Zeasy mengedarkan pandangannya. Tiba-tiba kenangan dengan Omanya melintasi pikiran Zeasy. Andai waktu bisa berhenti, ingin rasanya Zeasy memulainya kembali. Oma yang sudah lama pergi. Rasanya Zeasy ingin menyusulnya saja.
Selain Bi May, Omanya lah yang selalu ada untuk Zeasy.
Buliran kristal yang sudah menumpuk diujung matanya, kini lolos begitu saja tanpa bisa ditahan lagi. Segera Zeasy mengusapnya. Kemudian roti yang baru ia makan sedikit bahkan setengahnya saja tida Zeasy simpan dipiring. Tangan menyambar gelas yang berisikan susu putih, Zeasy dengan segera menghabiskan susu itu tanpa sisa.
Bi May hanya bisa menghela nafas pelan. Ingin sekali Bi May memeluk anak yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri itu. Tapi Bi May tau, jika Zeasy tidak suka merasa dikasihani.
"Zeasy berangkat ya, Bi" gadis itu beranjak dari duduknya. Menyambar tas sekolah yang ada dikursi lain. Tak lupa juga kunci motor yang ia simpan dimeja dekat piringnya.
"Sarapannya gak dihabisi, Non?" Bi May mengikuti Zeasy dari belakang ketika Zeasy sudah mulai melangkahkan kakinya mendekat pintu.
"Udah, Bi" gadis itu membalas seperlunya saja. Karena pagi ini moodnya merasa kurang baik.
Saat Zeasy akan mengeluarkan motornya dari garasi, sebuah mobil memasuki gerbang rumahnya dan berhenti tepat didepan rumah megah itu. Zeasy terperangap, melihat Mominya yang keluar dari mobil itu.
"Mami baru pulang?" tanya Zeasy. Gadis itu menghampiri Mominya yang akan masuk kedalam rumah.
__ADS_1
"Iya. Semalam Mami tidur dikantor. Mami pulang sebentar mau ambil baju dulu" Islan yang akan kembali melangkah diurungkannya lagi karena suara Zeasy yang terdengar berat.
"Terus Mami akan pergi lagi?" tanya Zeasy dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Zeas, Mami harus mengawasi pemotretan"
"Kapan Mami ada waktu buat Zeasy?" Zeasy menatap mata Islan dengan penuh harap. Berharap agar Islan memberikan waktu untuknya. Walau hanya sekedar makan bersama satu meja, atau obrolan kecil juga tak masalah bagi Zeasy. Asal dia bisa menyandarkan kepalanya dipangkuan sang Mami.
"Zeas" kali ini ucapan Zeasy mampu membuat hati Islan terenyuh. Islan mencoba memanggil Zeasy. Tapi gadis itu tak menggubrisnya. Dengan cepat Zeasy memakai helm dan melajukan motornya dengan kencang.
Islan hanya mematung, menatap Zeasy dengan nanar sampai motor itu menghilang dibalik pandangannya.
Merasa lelah, Islan kembali melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah. Bi May yang menjadi penonton hanya bisa menghela nafasnya pelan. Tanpa ada niat untuk ikut campur.
Motor trail melaju dengan kecepatan diatas rata-rata. Air mata kini lolos terjatuh membasahi pipi Zeasy dibalik helm yang tertutup. Kecewa, hampa, itu yang kini tengah Zeasy rasakan. Ingin berteriak tapi seakan suaranya tercekat. Menangis terisak pun tak mampu. Zeasy hanya mampu memendam perasaannya didalam hati sanubari. Mungkin dengan tetesan air mata yang membasahi pipinya mampu menghapus semua rasa kecewa Zeasy.
**
Orzy, Bisma dan Davin yang sudah sampai disekolah Internasiol School. Davin yang duduk dikap mobilnya. Orzy yang hanya berdiri tegak. Dan Bisma masih duduk diatas motor ninjanya.
Davin menceritakan pada dua temannya, bahwa pengendara motor trail yang waktu itu adalah seorang perempuan.
"Sumpah, kali ini gue kagak bohong" Davin membentukan jarinya menjadi hurup V.
"Gue tetep gak percaya sama, loe" Bisma menatap mata Davin. Seolah mencari kebenaran didalam sana. Sedangkan Orzy hanya mengangguk mengiyakan ucapan Bisma.
"Elah, mentang-mentang gue belum pake peci putih. Loe pada gak percaya sama gue" Davin berdecak diujung kalimatnya.
"Loe 'kan tukang kibul, Dav. Cewek aja, banyak yang kemakan sama mulut buaya loe itu" Orzy terkekeh geli.
__ADS_1
"Terserah lah. Gue gak peduli loe mau percaya atau kagak." Davin beranjak dari duduknya. Melangkahkan kakinya menuju kelas.
"Gayanya temen loe, Bis" Orzy hanya menggeleng pelan melihat gaya cool seorang Davin. Tangan kanan yang menyampirkan tas dibahunya. Dan tangan kiri yang ia masulan kedalam saku celananya.
Wanita mana coba yang tidak terpesona dengan gaya Davin. Pantas saja Clara tidak mau Davin memutuskannya. Walau Clara sendiri tahu jika Davin seorang playboy.
**
"Zeas jangan galau terus dong. Gue jadi ikut-ikutan ini" Rosy mengusap-ngusap bahu Zaesy.
Ya sejak tiba disekolah Zeasy menceritakan lagi tentang orang tuanya yang tak pulang pada sahabatnya. Rosy tak bisa apa-apa selain hanya memberikan kekuatan pada Zeasy.
"Apa sih, Cy. Gue gak galau. Lagian juga udah biasa 'kan gue seperti ini?" senyum yang Zeasy paksakan agar Rosy merasa tak khawatir.
"Zeasy" Rosy memeluk Zeasy. Menyalurkan kekuatan pada gadis itu.
"Gue selalu ada buat, loe. Jangan nagerasa sendiri, ya! Oia, nanti pulang sekolah Bunda nyuruh loe datang ke butik"
"Buat apa?" Zeasy menyerngitkan keningnya.
"Gak tau. Mau kenalin loe sama cowok kali" Zeasy memukul pelan bahu Rosy. Rosy hanya tertawa menanggapi pukulan itu.
"Isshh, yang harus dicariin cowok itu loe. Loe 'kan gak laku" Zeasy terkekeh. Gadis itu memutar bola matanya jengah.
"Kaya loe yang laku aja"
Inilah baru seorang sahabat. Yang selalu ada dikala susah maupun senang. Bukan seorang sahabat yang hanya ada dikala kita lagi senang saja. Zeasy selalu berpikir, buat apa punya banyak teman kalau kesetiaan dan solidaritas itu tak ada. Satu teman saja itu sudah lebih dari cukup, asal bisa diajaknya untuk berbagi. Berbagi kesedihan dan kesusahan. Kalau kebahagiaan jangan di katakan lagi.
TBC
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen dan Vote nya !