Zeasy

Zeasy
Kemoterapi


__ADS_3

"Eh gunung kempes, cewek hulk gue kok gak masuk lagi sih?" Rosy tersentak ketika David tiba-tiba datang menghampirinya di meja kantin. Ia memberengut.


"Bisa gak sih loe gak usah panggil gue gunung kempes?"


"Nggak!"


"Ish ... sumpah ya, loe itu nyebelin."


"Iya, makasih, gue emang ganteng."


"Cowok gila!"


"Iya tahu, gue emang pintar."


"Setres!"


"Gak usah loe bilang juga, semua orang tahu gue baik. Dermawan. Ya kan?"


"Sintiing!"


"Iya-iya ... gue kaya. Tahu gue."


"David!" Tangan Rosy tergerak untuk menampol lambe turah David. Tapi yang ada ...


"Apa?" David menahan tangan Rosy dan menggenggam pergelangannya.


Seketika mata mereka bertemu dalam satu garis lurus. Hal aneh itu dateng lagi pada hati Rosy. Jantungnya persis seperti ingin mengajaknya berdisko ria.


"Lepasin tangan gue!" Lirih cewek itu berucap. Kontan, David langsung melepaskan cekalannya. cowok itu berdehem kecil. Ia mengusap belakang lehernya. Mendadak hawa panas di kantin itu menjadi tingkat akut.


"Em ... tadi loe nanya apa sama gue?" Kali ini Rosy serius. Ia kembali duduk setelah sebelumnya ia berdiri.


David mengesah seraya mengikuti Rosy yang terduduk di kursi panjang kantin. "Si Zeasy, kenapa dia kagak masuk lagi?"


"Oh ... gue gak tahu," sahut Rosy. Ia menoleh pada cowok di sampingnya. "Eh apa jangan-jangan Zeasy lagi ada masalah lagi ya?" Rosy mulai berasumsi. David mengernyit menanggapi.

__ADS_1


Eh tapi bukannya Zeasy selalu saja bermasalah dalam hidupnya?


**


David berjalan santai di koridor rumah sakit. Setelah baru keluar dari kelas. Bisma mengirim David chat jika Orzy masuk rumah sakit karena tak sengaja motornya terserempet oleh mobil yang tidak dikenal - yang sebenarnya Orzy tidak hati-hati dalam mengemudi.


David mencari kamar inap Orzy setelah sebelumnya ia menanyakan pada resepsionis di depan.


Bersamaan dengan langkah santai David, tak sengaja matanya seperti mrnangkap seorang cewek yang ia kenal sedang dipapah oleh seorang cowok yang memakai jas putih ala kedokteran. David terkejut bukan main. Yang lebih mengejutkannya dia - cewek itu memakai seragam pasien rumah sakit.


David segera menyusul cewek tadi yang sudah masuk ke dalam satu ruangan. Entah itu ruangan apa, David pun penasaran.


"Maaf, anda cari siapa?" Saat David membuka pintu ruangan itu. Ia mengedarkan pandangannya mencari sesosok cewek yang tadi ia kenal. Tapi saat David masuk hanya ada beberapa pasien saja yang terbaring.


"Sorry, lihat cewek remaja, cantik, ya umurnya mirip saya-saya ini, masuk ke ruangan ini gak, dok?" tanya David. Masih mengedarkan pandangan. Dokter itu mengernyit.


"Saya tidak melihatnya. Anda salah masuk ruangan mungkin. Ini ruang kemoterapi," jawab dokter itu ramah. Dokter tampan yang itu kembali memeriksa pasien lain.


"Kemoterapi?" gumam David pelan. Ia merasa bingung. Tapi bener kan tadi dia itu gak salah lihat. Matanya tadi menangkap Zeasy tengah dipapah oleh seorang dokter. Dan dokter itu. Tadi-


"Zeasy," tegur David saat mata indah itu menangkap sosok yang ia cari sedari tadi tengah duduk di salah satu brankar. Dan ingin terbaring.


Zeasy mendongak. Ia berdecak melihat David yang menautkan kedua alisnya. Kemudian Zeasy mengarahkan pandangannya pada Dokter Fathul.


Iya, Fathul adalah Dokter yang merawat Zeasy. Yang sebenarnya tadi Zeasy bersembunyi dibalik tirai.


Ketika David tengah berjalan di koridor, Zeasy sudah melihat cowok itu duluan. Zeasy meminta Dokter Fathul untuk segera membawanya masuk ke ruangan itu.


"Kemoterapi?" David maju satu langkah. Ada rasa sesak di dada David melihat kenyataan bahwa Zeasy berada di ruang kemoterapi.


"Loe, sakit?" Dua langkah. David semakin tidak percaya. Ia harap ini adalah mimpi semata.


"Sakit apa?" Semakin mendekat. Kini David berdiri nanar di samping brankar Zeasy.


Zeasy hanya acuh tak acuh saja. Ia justru terbaring santai di atas brankarnya. Seolah ia baik-baik saja.

__ADS_1


"Jawab gue!" hardik David setengah berteriak.


Zeasy menoleh. Bukan hanya dia. Tapi setiap pasang mata menolehkan pandangannya pada David.


"Maaf, Zeasy harus istirahat!" Dokter Fathul bersuara. David menatapnya tajam. Ia tidak peduli dengan orang di sekitarnya. Yang hanya ia pedulikan adalah jawaban dan penjelasan dari Zeasy. Si cewek hulknya.


"Kenapa loe bilang? Kenapa loe gak kasih tahu tante Islan? Loe sembunyiin ini dari kita semua. Dan apa ini ..." David terkekeh, ia melihat tangan Zeasy yang terpasang jarum infus. "Ini alasan loe gak masuk sekolah satu minggu? Dan ini alasan loe ninggalin pesta pernikasan nyokap loe?" Berjuta pertanyaan hinggap David lontarkan. Tapi tak ada satu pun kata bahkan jawaban yang keluar dari mulut pucat Zeasy. Ia seolah menjadi gagu mendadak.


"JAWAB!"


"Anda jangan mengganggu pasien disini!" Itu masih suara Dokter Fathul.


"Loe gak butuh jawaban apa pun dari gue. Tanpa gue jawab, loe udah tahu sendiri kan jawabannya?" Ia memunggungi David. Lalu menutup kepala dan seluruh tubuhnya oleh selimut.


"Jadi, bener loe sakit?" David terkekeh. "Tante Islan harus tahu soal ini," ujarnya. Merogoh ponsel yang ada di saku abunya.


Kontak Zeasy membuka selimut itu. Ia bangkit, dan merampas ponsel dari tangan David. Dimana, cowok itu tengah mendial nomor Mami tirinya.


"Kali ini, gue minta sama loe, jangan kasih tahu Mami gue. Juga - siapa pun!" Serius, Zeasy menatap nanar mata David penuh dengan permohonan.


"Sekarang loe kasih tahu gue. Loe sakit apa?"


Zeasy pun melirik Dokter Fathul. Seolah ia memberi izin pada Dokter tampan itu untuk menjelaskannya pada David.


"Ikut saya!"


Sebentar, David melirik ke arah Zeasy sebelum menyetujui ajakan Dakter Fathul. Zeasy mengangguk.


Lalu David dan Dokter Fathul pun melangkah ke luar ruangan menuju ruangan Dokter Fathul.


Sedangkan Zeasy, ia mengambil buku catatan dari balik bantalnya. Ia siap mencurahkan semua asa yang ada di benaknya.


TBC


Huaaa..

__ADS_1


kabur.......


__ADS_2