
Dinginnya hidup ini menghembuskan nafas, jalani kehidupan bukakan pintu perjuangan menuju kehidupan yang sesungguhnya. Kesendirian yang tak berarti , jalani masa yang terus berlari. Semakin hari semakin Zeasy benci. Tanpa orang tua yang menemani.
Air mata yang kembali menetes dipipi mulus yang bagaikan warna susu itu. Ingat bagaimana Mami dan Papinya hanya acuh melihat kaki Zeasy yang terbalut perban dan berjalan pincang.
"Kamu kenapa?" tanya Islan saat melihat Zeasy turun dari tangga menuju meja makan.
"Kecelakaan, Mi. Ada mobil yang gak sengaja nabrak motor Zeasy." Niat Zeasy ingin mencari perhatian dari Islan. Tapi apa yang Islan lakukan? Wanita paruh baya itu hanya mengucapkan satu kata....
"Oh...,"
Ya Tuhan, betapa sakitnya hati Zeasy. Terkadang gadis itu bertanya pada dirinya sendiri. Benarkah gue anak kandung Mami?
Baiklah kita lupa sakit hati itu. Tak baik juga bukan menyimpan rasa sakit pada orang tua sendiri?
**
"Astaga, Zeasy...." Rosy yang selalu merasa khawatir dengan sahabatnya ini. Apalagi melihat gadis itu turun dari taxi dengan kaki yang berjalan pincang. Segera menghampiri dan membantu memapahnya berjalan. Zeasy tersenyum,
"Gue gak pa-pa." ujarnya dengan senyum simpul.
Ya, Zeasy memaksakan dirinya masuk sekolah walau Rosy sudah meyakinkannya bahwa dia yang akan memberi tahukan Bu Risma tentang Zeasy yang sakit. Tapi, dasar gadis keras kepala....
"Gue udah bilang 'kan mending loe istirahat di rumah!" tangan Rosy yang masih membantu memapah Zeasy masuk ke dalam kelas mereka.
"Bunda khawatir banget sama, loe!" Zeasy menghentikan langkahnya dan di ikuti Rosy. Menoleh dan tersenyum. Lagi, kenapa dengan hatinya? Ana yang bukan siapa-siapa Zeasy saja merasa khawatir, kenapa tidak dengan Islan?
"Iya, gue tahu"
**
Siang itu dimana acara di gelar di aula, semua murid beriringan melangkahkan kakinya menuju aula. Menghadiri acara santunan yang di adakan di Green Global School. Termasuk ingin melihat idola mereka yang akan tampil bermain basket. Bertanding persahabatan antara alumni team basket GGS dan team basket GGS.
"Gue hadir disini cuma pengen lihat mantan kapten basket GGS doang. Kalau yang lainnya gue gak peduli." ujar salah satu siswi yang sedang berjalan bersama dengan beberapa temannya.
"Tapi, gue denger Master akan jadi pemain cadangan" ucapanya salah satu siswi yang lain. Langkah itu seketika berhenti. Memandang siswi yang berbicara tadi.
"Gak bakal seru dong. Kalau Master jadi pemain cadangan, bakal main sebentar dan itu juga pasti di akhir permainan" jawab salah satu temannya.
__ADS_1
**
Pertandingan persahabat itu di mulai dengan sebuah sorakan dari alumni dan murid GGS. Sama-sama team yang hebat di kedua belah pihak. Saling ingin mengumpulkan poin agar bisa menang dalam pertandingn.
"Ah, gak seru kalau Master gak ikut main," ucap Yuke, salah satu siswi GGS kelas 12 Fisika. Yang tak lain dia adalah seorang bintangnya GGS. Kemudian gadis itu beranjak dan turun dari kursi yang ia duduki.
"Loe mau kemana, Yuk?" tanya Vivi, teman Yuke. Saat melihay Yuke beranjak.
"Ke thoilet." Yuke berlalu, melangkahkan kakinya ke luar dari aula. Hendak ke toilet.
**
"Astaga, Kak Elang... OMG, benar Kak Elang. Gila ganteng banget sih dia. Ya ampun, gue harus bisa kenalan sama Kak Elang." Yuke yang telah selesai dari toiletnya. Matanya tak sengaja mendapati sesosok pemuda yang di kenal Master itu masuk ke ruang ganti para pemain basket.
Yuke melangkahkan kakinya ke ruang ganti. Menunggu di depan pintu masuk ruangan yang di masuki Elang itu.
"Hai, Kak Elang, ya?" sapaan Yuke yang sontak membuat Elang terperanjak kaget. Hampir saja pemuda itu terpelentang, untung Elang bisa masih bisa menguasi dirinya.
"Kak Elang, 'kan? Kenalin Kak, aku Yuke, bintang di sekolah ini." entah pamer atau dia menyombongkan diri. Gadis itu tersenyum penuh semangat memperkenalkan dirinya. Sambil tangan kanan yang terulur ke arah Elang.
Yuke mengernyit. "Gue di cuekin? Ya ampun... Keterlaluan banget dia." gadis itu berdecak.
**
"Astaga, itu Kak Elang.... Ya ampun, ganteng banget" ujar siswi alay yang tengah menikmati pertandingan.
Elang yang berjalan dengan langkah santai menuju tribun. Menghampiri Reydi dan teman Elang yang lainnya yang sedang istirahat.
Kaos team berwarna putih yang di kenakan Elang menambah kadar ketampanan seorang pemuda yang di kenal Master itu.
"Lang, baru sampai, loe?" tanya Reydi teman satu team sekaligus sahabat karibnya. Elang hanya mengangguk. Menatap ke arah lapangan, melihat pertandingan yang sedang berlangsung.
Di saat itu pula mata Elang tak sengaja mengarah ke arah gadis yang sangat familiar baginya.
"Lang, loe langsung main aja. Kasihan fans loe yang nunggu-nunggu aksi loe di lapangan." Shamar berlari ke arah Elang yang tengah duduk bersama teman seteam nya.
"Woy, minuman gue" protes Reydi tak terima saat Shamar merampas dari tangannya.
__ADS_1
"Entar gue ganti setruk" ucap Shamar acuh.
"Semangat, Master!" teriak Shamar dan Reydi berbarengan saat Elang memasuki lapangan.
Sorakan demi sorakan, tepukan tangan menggema di lapangan basket itu. Seruan anak-anak alay yang memekin telinga membuat Zeasy yang ikut serta menyaksikan jalannya pertandingan persahabatan itu ingin kabur saja. Tapi saat melihat siapa yang beraksi melawan team GGS rasanya Zeasy ingin loncat-loncat seperti siswi alay.
"Astaga, Kak Elang. Sumpah, gue gak bakal nolak kalau doi nembak gue."
"Kak Elang gue gak mau jadi pacar, loe. Gue maunya langsung jadi istri loe aja."
"Kak Elang calon imam gue, ya."
Dan banyak lagi umpatan-umpatan alay dari para siswi yang memang mengidolakan Elang. Sementara Zeasy hanya memutar bola matanya jengah.
"Lebay!" pekiknya dalam hati.
**
"Hay, kakinya udah sembuh?" Saat pertandingan itu usai, Elang menghampiri gadis yang tengah duduk di salah satu kursi penonton.
"Eh," Zeasy terperanjak kaget saat tahu siapa yang bersuara itu.
"Kalau masih sakit, kenapa masuk sekolah?" Entah ini tanda perhatian Elang atau hanya sekedar rasa bersalah saja. Pemuda itu meneliti lutut Zeasy yang masih terbalut perban.
"Udah gak apa kok, Mas" Zeasy tersenyum. Sementara Elang mengerutkan keningnya. Merasa tak suka jika dirinya di panggil dengan embel-embel Mas.
"Memang saya terlihat sudah tua, hingga kamu panggil saya Mas?" Elang terkekeh geli.
Shamar dan teman-teman yang lainnya merasa ada yang tidak beres dengan Elang. Saat memperhatikan Elang berintraksi dengan seorang gadis. Apa Elang belum minum obat atau memang salah minum obat? Shamah mengernyit heran.
"Terus harus panggil apa? Opa?" Zeasy justru makin senang mengajak bercanda pemuda yang sedang duduk di sampingnya itu.
"Panggil nama saja!" jawab Elang datar.
**
TBC
__ADS_1