Zeasy

Zeasy
Panti Asuhan


__ADS_3

"Sumpah loe mau dipindahin dari sekolah ini, Dav?" Hampir saja Orzy jantungan mendengar penuturan David yang akan pindah sekolah.


"Becanda ini pasti anak." Bisma menimpali.


Sedangkan Angga hanya sibuk mendrible bola basketnya saja. David yang sedang menghisap rokok, Orzy meneguk minuman kalengnya dan Bisma hanya sekedar duduk saja di tribun lapangan basket.


"Serius gue," ucap David terlalu santai. Cowok itu seperti tidak ada beban sama sekali tentang pernyataan Kepsek yang akan memindahkan David ke sekolah lain.


Iya, kemarin Yunus datang ke sekolah untuk menyuruh Kepsek mengurus surat kepindahan sekolah putranya yang kelewat nakal itu. Agar David tidak bisa berbuat seenaknya lagi jika di sekolah lain. Tapi bukan David namanya jika ia tidak menjahili guru atau murid lainnya - nanti di sekolah barunya. Dan David sudah sangat merencanakan sesuatu yang banyak untuknya menjadikan ia nomor satu di sekolah barunya nanti.


Emang, kalau kodratnya nakal mah akan sama aja sekolah dimana pun juga.


"Kapan loe mulai masuk sekolah baru loe itu?" Kali ini Angga yang bertanya dengan datar.


Orzy maupun Bisma mengangguk mengiyakan pertanyaan Angga.


"Harusnya sih sekarang. Tapi malas gue, besok aja palingan." David berkata acuh tak acuh. Kalau Angga sudah mengeluarkan suaranya David tahu pasti temannya yang satu ini akan ceramah. Dan itu membuat David tidak suka.


"Gue harap loe berubah, Dav!"


Berubah?


Seorang David berubah?


Kayanya mustahil.


"Nanti deh kalau udah ingin," sahutnya kelewat santai seraya mengepulkan asap rokok ke udara.


Angga bisa apa selain hanya menghela nafas dan Orzy juga Bisma hanya mengedikan bahu saja.


**


"Zeasy, kamu mau kemana? Kenapa pake bawa koper segala?" Itu Collin yang sedang menahan tangan Zeasy - yang tengah menggeret kopernya. Di belakangnya Rosy berdiri.

__ADS_1


Rosy masih bingung dengan apa yang terjadi pada sahabatnya ini. Ia belum menceritakannya sama Rosy.


Helaan nafas keluar dari mulut Zeasy. Ia menatap lekat wajah sang ayah dengan dingin. "Loh bukannya dadi yang ingin ya aku pergi dari sini?" Acuh dan datar. Seolah dirinya - oke, gue baik-baik saja. Dan ada senyum gentir yang terpancar dari raut wajah Zeasy.


"Mana ada, Zeas. Dadi gak ingin kamu pergi dari rumah ini. Dadi hanya minta kamu terima tante Wike sama putrinya tinggal disini," ujar Collin menyentuh kedua bahu sang anak.


Zeasy gak bisa terima. Ia tidak ingin dadinya dibagi. Apalagi dengan perhatian yang kurang dari sang ayah. Zeasy yakin jika Collin membina rumah tangganya yang baru, Zeasy akan semakin terasingkan.


"Gak, dad. Aku gak mau!" Zeasy kembali menarik kopernya dengan kaki yang berjalan pincang.


Dan sampai sini Rosy mengerti. Lantas ia menuentuh lengan Collin dengan lembut seraya memandang Zeasy yang sedang kesusahan berjalan sambil menggeret koper.


"Om, maaf bukan aku mau ikut campur urusan keluar Om. Tapi aku ngerti Zeasy gimana. Dia keras kepala, Om. Lebih baik Om turuti aja dulu apa yang dia mau. Mungkin sekarang kondisi hati Zeasy sedang tidak baik. Nanti kalau Zeasy udah tenang aku bakal omongin dia."


"Tapi Om takut, Cy. Om takut Zeasy semakin membenci Om," sahut Collin lirih.


Ia memang tidak mengerti akan prasaan putrinya. Dari dulu Colli memang tidak dekat dengan Zeasy sehingga dengan kejadian ini keduanya semakin menjauh.


Bukan tidak sempat, tapi tidak menyempatkan.


"Om titip Zeasy ya, Cy." Collin menyentuh lengan gadis itu.


"Iya, Om. Pasti aku akan jagain Zeasy."


Lantas Rosy pum setelah memberikan senyuman pada Collin beranjak menyusul Zeasy yang sudah menunggunya bersandar di pintu mobil Rosy.


"Cy, bisa anterin gue ke apartemen kan?" Rossy mengangguk.


**


Siang itu setelah Zeasy selesai membereskan pakaiannya ke dalam lemari yang tentu saja dibantu Rosy. Zeasy berdiam diri melihat jalanan di atas balkon apartemen lantai 30.


"Ngelamun aja loe, Zeas." Siapa lagi yang bersuara itu kalau bukan Rosy. Ia menghampiri Zeasy yang sedang menatap kosong ke depan.

__ADS_1


"Cy, kenapa hidup gue gini amat ya? Gue udah gak kuat lagi ngadepin ini semua. Kepala gue rasanya mau meledak lihat bokap bawa cewek lain ke rumah dan nyuruh gue untuk izinin dia sama anaknya tinggal di rumah juga. Perasaan gue hancur, Cy." Tak ada tangisan atau kristal bening yang keluar. Ia berusaha untuk tetap tegar walau seonggok jiwa sudah hancur lebur bagai pecahan beling yang berserakan di atas lantai.


Apalagi, Zeasy masih tak mengerti dengan perasaannya yang masih memikirkan Elang.


"Loe sabar deh, ya. Bukannya loe selalu bisa hadepin masalah apapun sebelumnya. Dan kenapa sekarang loe malah cemen kek gini. Kek gak kenal gue sama loe, serius." Rosy menyerahkan satu minuman kaleng pada Zeasy.


Zeasy menerimanya, "thanks!"


"Gue gak tahu, Cy. Sekarang gue rapuh banget." Zeasy membuka minuman kaleng itu lalu melegutnya sedikit.


"Gue tahu alasan loe ngomong kaya gitu," sahut Rosy. Ia memiringkan tububnya utuk memandang Zeasy yang masih lekat memandang ke depan.


"Elang kan?" sahut Rosy tiba-tiba.


Ah sahabat Zeasy yang satu ini emang peka banget.


Zeasy menoleh sesaat. Lalu ia terkekeh sambil menundukan wajahnya. Iya ini karena Elang. Dulu-dulu Zeasy masih acuh akan pertengkarang orang tuanya dan gak peduli dengan apa aja yang akan dilakukan mereka. Itu Karena Elang yang selalu memberinya semangat untuk bisa hadepin jalan liku di depan. Tapi sekarang, penyemangat itu seolah ditelan bumi. Entah kemana dan kenapa alasan Elang tidak menghubunginya.


"Loe suka sama Elang?" tanya Rosy. Sebetulnua Rosy tidak perlu bertanya. Ia cukup tahu akan raut wajah Zeasy seperti apa jika sedang membicarakan Elang.


"Gak tahu gue, Cy. Gue sebelumnya gak pernah ngerasain nyaman sama seorang cowok. Dan ini pertama banget buat gue. Gue udah nyaman sama dia walau gue baru mengenal dia," ujar Zeasy dengan pandangan kosong menatap Rosy.


"Cy." Tiba-tiba Zeasy ingat sesuatu. "Hem, kenapa?" tanya Rosy sesaat setelah melegut minumannya.


"Loe bisa anterin gue ke Panti asuhan gak?" tanyanya dengan serius. Tepatnya ia mengajak Rosy.


"Panti asuhan?" Rosy mengulang yang mendapat anggukan dari Zeasy.


Ia harap ia akan bertemu Elang disana. Walau pun tidak, Zeasy harap akan mendapat informasi tentang Elang. Dan mendapat jawabannya kenapa Elang tidak menghubungi atau menemuinya. Bahkan panggilan Zeasy pun selalu Elang tolak.


TBC


Deg degan ih. Zeasy akan ketemu Elang gak ya di panti?

__ADS_1


__ADS_2