Zeasy

Zeasy
Manusia Gak Jelas


__ADS_3

"Makasih, Kak Elang" ungkapan terimakasih itu keluar dari mulut tipis Zeasy saat Elang siap mengantarkannya untuk pulang. Karena motor Zeasy yang masih berada di bengkel akibat kecelakaan itu.


"Hhmm" jawabnya hanya dengan sebuah deheman saja. Kemudian Elang membantu memapah Zeasy.


Sedangkan di belakang mereka. Yuke yang tak lain bintangnya GGS itu, melihat dengan tak suka kedekatan antara Elang dan Zeasy.


"Gue gak rela kalau si cewek jadi-jadian itu dekat sama Kak Elang. Lagian kenapa bisa coba? Gue yang pertama ngajak dia kenalan. Tapi kenapa justru si cewek jadi-jadian itu yang di ajak pulang bareng." Entah Yuke sedang protes pada siapa. Yang pasti mungkin saat ini dia cemburu. Atau bahkan merasa tak rela.


**


"David, saya sudah tidak tahu lagi harus ngomong apa sama kamu, sama orang tua kamu. Kamu selalu buat masalah di sekolah ini." Ya, siapa lagi yang sedang menyidang seorang David kalau bukan seorang guru BK. Itu 'kan sudah menjadi makanan sehari-hari buat Davin. Yang suka keluar masuk ruang BK.


Davin yang merasa sudah tidak asing dengan kalimat yang sering di ucapkan Bu Kikan itu merasa sangat tidak terintimidasi. Justru pemuda itu sangat santai menghadapinya.


Duduk di hadapan Bu Kikan sudah biasa bagi David. Sementara Bu Kikan sudah merasa bosan harus terus memanggil David untuk selalu menyapanya di ruangan itu.


Davin yang saat di kelas sengaja mengerjai guru dengan menempelkan lem di singgasananya. Untung saja guru itu sebelum duduk, melihat seperti ada yang bening di kursinya.


"Ya gak usah ngomong sama orang tua saya lah, Bu!" lagi, murid yang satu ini seperti tidak ada takut-takutnya melihat tatapan Bu Kikan.


Bu Kikan hanya bisa menghela nafasnya kasar. Memijat pelipisnya yang seperti mulai ada bintang-bintang yang mengelilingi sisi kepalanya.


"Ini surat peringatan untuk kamu, David." Bu Kikan menyimpan sebuah amplop putih di atas meja. Menyodorkannya pada David.


"Sudah tidak ada lagi 'kan, Bu?" tanyanya pemuda itu. Beranjak dan tanpa menunggu jawaban Bu Kikan David melenggang pergi meninggalkan ruangan itu.


"Napa lagi?" tanya Bisma saat David memasuki kelas kemudian duduk di atas meja.


"Palingan nih anak dapet surat cinta lagi dari Bu Kikan."


"Sialan, loe" David memukul kepala Orzy dengan amplop putih yang masih ia pegang di tangannya. Orzy meringis pelan.


"Makanya loe insyaf napa, Dav!" Angga angkat bicara. Bisma dan Orzy mengangguk iya. Sedangkan David yang di ceramahi mencebikan bibir, tidak suka.


"Entar-entar aja gue insyafnya kalau udah tua" jawab David lantang. Kemudian turun dari duduknya di atas meja. Keluar dengan membawa tas di tangannya.


"Woy, mau kemana?" teriak Orzy yang tak di gubris David.


"Kemana lagi lah kalau bukan bolos" ucap Bisma yang sudah tau David bagaiman ketika setelahnya di sidang di ruang BK.

__ADS_1


Bolos, itu yang menjadi pelarian David.


**


"Makasih Kak sudah nganterin gue." Zeasy melepas steabelt yang terpasang di dadanya. Setelah Elang sampai mengantar Zeasy ke rumahnya. Tepatnya ke depan gerbang rumahnya.


"Nanti motornya di anter sama tukang bengkelnya ke sini." ujar Elang tanpa mau menjawab ucapan Zeasy sebelumnya.


"Gak usah, Kak. Nanti biar teman gue saja yang ngambil. Kasih aja alamatnya ke gue!"


Kemudian Elang memberikan sebuah kartu nama pada Zeasy.


"Lah, ini?" Zeasy mengernyit. Bingung, kok Elang memberikan kartu nama dirinya?


"Itu bengkel punya saya sendiri" ucap Elang saat melihat mimik wajah Zeasy yang keheranan.


Mandiri adalah didikan dari keluarga Wison sejak kecil. Sehingga pantas saja Elang saat ini punya usaha sendiri walau itu hanya sebuah bengkel. Bukan hanya bengkel motor tetapi juga mobil.


"Eh... Terus gue harus transaksi disini atau ke bengkelnya?" canda Zeasy. Gadis itu terkekeh di ujung kalimatnya.


Elang hanya tersenyum simpul saat mendengar candaan receh Zeasy. Tanpa ada niatan untuk menjawabnya.


**


Zeasy yang kini berada di kamarnya, bersandar di kepala ranjang. Tangan kanan yang mengapit benda persegi itu. Sedangkan tangan kiri menggenggam sebuah foto yang terbingkai indah. Menatap foto itu dengan sangat dalam.


"Ok!" singkat jawab Rosy di ujung sana.


Setelahnya Zeasy mematikan sambungan telponnya. Menyimpan ponsel itu di sampingnya. Kemudian matanya kembali beralih pada foto yang terbingkai.


**


"Cewek itu lagi?" David mengernyit. Bergumam saat mendapati gadis dengan mengemudi motor trail yang kala itu.


"Wah, mangsa datang nih. Kali ini gak akan gue biarin dia lolos." ucapnya semangat. Kemudian menginjak pedal gas mobilnya dengan cepat agar David tidak ketinggalan pengemudi itu lagi.


"Mobil siapa sih yang nguntit gue?" suara perempuan di balik helm, saat melihat dari kaca spion ada mobil jazz yang menguntitnya.


"Sialan..." Rosy segera beralih pada rem motor saat mobil jazz itu menghadang jalannya.

__ADS_1


"Turun loe!" sergah David. Pemuda itu turun dari mobil dan menghampiri gadis yang masih tak bergeming di atas motornya.


Rosy turun. Membuka helm dan dengan santai mengibas-ngibaskan rambutnya yang terurai ke kanan dan ke kiri. Terpaan angin membuat rambut Rosy terbang. Dan itu mampu membuat David terpukau.


"Cantik" ucapnya lirih.


"Apa loe bilang? Gue cantik? Jelas lah, kalau loe bilang gue ganteng, berarti mata loe udah buta."


Hah, bukannya David hanya bergumam dalam hati? Kok gadis itu bisa mendengarnya? Ternyata David mengutarakan itu dengan keras. Sehingga Rosy mampu mendengarnya.


Ya, gadis yang membawa motor trail itu Rosy bukan Zeasy.


"Loe harus tanggung jawab dan ganti rugi!" sergah David. Rosy mengernyit, heran.


"Maksud loe ganti rugi apa? Harusnya gue yang minta ganti rugi karena loe udah hadang jalan gue. Untung aja dengan cepan gue ngerem, kalau enggak gue bakal celaka karena, loe" panjang pake kali pake lebar Rosy berkata.


"Waktu itu loe hendak nyerempet gue pake motor sialan loe ini" David menendang motor trail itu.


"Dasar manusia aneh. Main tendang-tendang motor orang aja, loe" ucap Rosy tak terima.


"Cepat mana ganti ruginya!" David mengulurkan tangannya. Seperti orang yang sedang meminta.


"Woy, ganti rugi apaan? Ketemu loe aja gue baru. Ini malah minta ganti rugi. Gue 'kan udah bilang, harusnya loe yang ganti rugi. Main tuduh-tuduh orang gak jelas. Barusan juga main tendang-tendang motor orang. Dasar Manusia gaje, loe" Rosy Emosi. Terlihat dari dadanya yang naik turun dan nafasnya yang tersengal.


"Ok, kalau loe gak mau, biar motor butut loe aja yang jadi jaminannya." David merampas kunci motor yang masih menempel di motor Zeasy. Melempar-lemparkannya ke udara.


"Wah, loe benar-benar cari masalah sama, gue" helm yang masih Rosy genggam, kini ia simpan di atas motor trail. Kemudian kaki jenjangnya melangkah menghampiri David yang tak jauh dari jangkauannya.


Glek


David menelan salivanya. Melihat Rosy yang melangkah maju ke arahnya. Senyum Rosy nampaknya mampu untuk menggoda David.


"Oh, jadi loe mau main-main sama gue? Ok, gue ladeni. Mau dengan cara bagaimana gue ladeni, loe?" David yang tak mau kalah. Pemuda itu kini memajukan langkahnya dengan pelan. Sekarang giliran Rosy yang merasa terintimidasi.


David semakin dekat, hingga tubuh Rosy tak mampu lagi untuk bertahan.


"Eh..." di saat langkahan mundur gadis itu terhenti akibat motor yang ada di belakangnya.


TBC

__ADS_1


Cukup Liked dan komen saja.


__ADS_2