
"David, cepat sedikit bawa mobilnya!" Islan memangku kepala Zeasy. Saat ini perasaan Islan sangat sulit sekali dijabarkan. Ada perasaan sesak di dadanya melihat Zeasy yang tak sadarkan diri dengan hidung yang terus mengeluarkan darah.
Yunus yang kala itu satu mobil dan melihat wajah pucat Zeasy pun ikut merasa panik. Sesekali wajahnya menoleh ke jok belakang mobil dimana Islan dan Zeasy berada disana.
David pun yang membawa mobil merasa tidak tenang. Sesekali juga ia melirik wajah Zeasy dari kaca spion tengahnya.
Islan terus mengelap darah segar yang keluar dari hidung Zeasy dengan tisu.
Sial, jika sedang terburu-buru emang selalu ada aja hambatannya. Seperti detik ini, tiba-tiba lampu merah menyala.
Pelan, Zeasy mengerjapkan matanya berulang. Ia gerakan tangannya untuk memijat pelipisnya. Ia sadar.
"Zeasy, kamu sadar?" ucap Islan dengan suara bergetar.
Ia angkat wajahnya dari pangkuan Islan lalu duduk bersandar pada sandaran jok.
"Cewek hulk, loe gak papa?" David bertanya cepat seraya memutar tubuhnya dari kursi kemudi pada Zeasy.
"Gue gak papa." Zeasy menyahut cepat. Walau sejujurnya kepalanya masihlah sangat berat.
"Kita akan ke rumah sakit, ya." Islan mengelap sisa darah yang keluar dari hidup Zeasy. Ia tergagap. Wajahnya panik seketika. "Aku gak mau, Ma. Aku mau pulang ke apartemen aja," tolak Zeasy mengambil tisu dari tangan Islan dan mengelap sisa darah dengan tangannya.
"Tapi hidung ka-"
"Zeasy cuma mimisan biasa!" serga Zeasy cepat. Entah apa yang sedang gadis itu sembunyikan dari Islan dan yang lainnya. Sehingga dengan cepat ia menolak untuk dibawa ke rumah sakit.
"Tapi, Zeasy." Itu suara Yunus yang mencoba memberi pengertian pada calon anak tirinya itu.
"Aku gak papa, Om."
Baiklah. Masih ingatkah jika Zeasy adalah cewek keras kepala yang tidak suka orang lain mencampuri urusannya.
Tapi mereka bukannya orang lain kan? Sebentar lagi mereka akan menjadi keluarga Zeasy.
**
__ADS_1
Satu minggu berlalu. Setelah tragedi Zeasy pingsan diacara pertunangan Elang. Gadis itu tidak menampakan dirinya. Datang ke sekolah pun tidak. Entahlah kemana perginya gadis itu.
Rosy yang sudah mencari ke setiap tempat yang selalu Zeasy kunjungi. Sampai ia pun mencari ke rumah Collin dan menanyakannya pada Bi May. Tapi sial. Itu sia-sia saja. Nyatanya Zeasy tidak ada. Ia menghilang tanpa jejak bagai ditelan bumi.
Dan lebih sialnya lagi dihubungi pun tidak bisa karena gawai Zeasy yang hancur lebur tak tersisa.
David pun kini terpaksa bekerja sama dengan Rosy mencari keberadaan Zeasy.
"Yakin loe gak ada tempat yang sering Zeasy kunjungi selain tempat yang udah loe datangi itu?" Saat ini Rosy dan David sedang duduk di bangku panjang taman sekolah.
Rosy berdecak sebelum ia menjawab. "Gak percayaan banget sih loe sama gue. Yakin gue, Dav, yakin." decaknya kesal.
David menghela. Ia menyandarkan punggung pada sandaran bangku itu. Kepalanya seakan mau pecah. Karena satu hari lagi Islan dengan Yunus akan melangsungkan janji suci keduanya di hadapan Tuhan. Dan harusnya Zeasy tau hal itu. Bulan malah menghilang seperti ini.
"Ya, kali aja loe nyembunyiin cewek hulk gitu," tuduh David membuat Rosy memberengut tajam.
"Sialan. Loe pikir gue sahabat macam apa? Jangan ngaco deh kalau ngomong."
"Iya, sorry!"
Sorry?
Si David cowok tengil itu bilang sorry? Pada Rosy lagi. "Loe lagi kesambet jin islam kali ya." cibir Rosy terkekeh. David memutar bola matanya malas.
Lagi juga tumben banget cowok itu bilang sorry. Setahu Rosy - yang sudah cukup mengenal David. Dia tidak pernah bilang sorry walau bersalah. Dan siang ini, tak ada angin tak ada hujan. Kata sorry itu mendominasi bibir merah David.
**
"Lang, kamu dengerin aku ngomong kan?" Yiran bertanya. Malam ini Yiran dan Elang tengah menikmati makan malam di restoran favorit Yiran.
"Lang," tegur Yiran lagi yang melihat Elang masih diam dengan pikiran yang melayang.
"Lang!"
Elang tersentak kala tangan gadis itu menyentuh punggung tangan yang tersimpan di atas meja.
__ADS_1
"Ya, kenapa?" tanya Elang gelagapan.
Yiran menghela. "Kamu yang kenapa? Dari tadi aku lihat kamu itu ngelamu terus. Mikirin apa sih?" Yiran bertanya dengan raut wajah yang kesal.
Entahlah, Elang juga tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Otaknya terasa dipenuhi dengan nama Zeasy - yang sudah satu minggu ini ia tidak bertemu dengannya. Di sekolah pun tidak. Dan anehnya Elang merasa khawatir sangat pada gadis itu.
"Aku tiba-tiba gak enak badan." Ia mengusap belakang kepalanya. "Kita pulang aja ya!" ajak Elang pada Yiran.
"Tapi kamu belum makan pastanya loh. Sayang kan udah dibayar juga," sahut Yiran. Yang sejujurnya masih ingin bersama tunangannya itu.
"Yaudah, kalau kamu masih mau disini. Aku pulang duluan aja kalau gitu." Elang berdiri dari duduknya. Ia hendak melangkah.
"Oke, kita pulang!" Pasrah Yiran mengikuti langkah besar Elang dari belakang.
**
Setelah mengantarkan Yiran lebih dulu, Elang baru pulang. Tetapi bukan ke rumahnya. Melainkan apartemennya.
Ia membuka passcode pintu apartemen itu. Menutupnya kembali dengan kakinya. Sedangkan tangan membuka jaket lalu melemparkannya ke atas sofa.
Ia hempaskan tubuhnya pada sofa yang terletak di ruang tv apartemen. Kepalanya tiba-tiba berdenyut. Nama Zeasy masih mendominasi otak Elang hingga ia harus memijat pangkal hidungnya.
"Kamu kemana sih, Zeas? Apa sebegitu bencinya kamu sama aku?" Elang bertanya pada dirinya sendiri dengan kedua mata yang terpejam.
Terlintas ucapan Zeasy sewaktu di rooftop satu minggu yang lalu itu.
"Gue gak bisa sayang sama loe. Karena percuma. Toh loe juga bakal tunangan sama cewek lain kan? Tapi betewe makasih loe udah jujur sama gue. Kenapa waktu itu loe susah dihubungi. Dan makasih juga loe udah jujur sama perasaan loe. Tapi maaf, Lang. Gue gak bisa."
"Suatu saat loe bakal tahu kenapa gue gak bisa berima loe!"
Iya, sewaktu di rooftop itu Elang jujur pada Zeasy. Dan gadis itu tiba-tiba merasa panas dingin. Ia senang, tapi keadaan memaksanya untuk tidak menerima Elang.
Sial memang hidupnya itu.
TBC
__ADS_1