
Dibawah terik mentari yang menyilaukan bumi. Seorang pemuda dengan perawakan yang sempurna. Tubuh yang altetis, tangan yang berotot dan kekar, mata yang indah, rambut yang acak-acakan akibat keringat yang membasahinya. Terlihat sedang mendribble bola basket dilapangan basket kampusnya.
Dia, Elang Airlangga Wison. Seorang mahasiswa yang dikenal sebagai master di kampusnya. Pemuda yang serba bisa dan mempunyai kehidupan yang maha sempurna. Siapa yang tidak ingin menjadi kekasih hatinya? Banyak wanita yang berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatian dari seorang Elang. Tapi sayang, belum ada satu wanita pun yang bisa mendapatkan simpati dari pemuda yang dikenal master itu.
Banyak wanita yang mengirimi Elang surat dan mendekatinya secara terang-terangan. Tapi pemuda itu hanya acuh tak acuh saja.
"Master" panggil seseorang dari arah luar lapangan basket.
Elang yang akan memasukan bola ke ring, menurunkan kembali tangannya yang berada di udara. Elang menoleh, melihat siapa orang yang memanggilnya.
"Ada apa, Shamar?" tanya Elang saat Shamar sudah mendekat ke arahnya.
Shamar adalah sahabat Elang dari kecil. Selalu bersama-sama dari masa kanak-kanaknya hingga kini mereka memasuki Universitas Angkasa. Universitas milik keluarga Wison, yang tak lain keluarga Elang.
"Besok ada undangan dari GGS. Gak lupa 'kan?" ucap Shamar mengingatkan Elang.
"Enggak lah. Tapi mungkin gue bakal telat datangnya. Gak papa 'kan?" tanya Elang pada Shamar. Menjelaskan bahwa Elang akan datang telat karena ada acara dengan keluarganya dulu.
Green Global School memang mengundang semua alumni siswa mau pun siswinya untuk menggelar acara santunan setiap tahunnya. Acara yang akan digelas di Aula GGS itu akan sedikit berbeda kerena mantan tim basket GGS akan bertanding persahabatan dengan tim basket GGS yang sekarang.
"its ok. Paling loe nantinya bakal ada dipemain cadangan," jelas Shamar pada sahabatnya itu.
"Ok lah, gak papa." Elang berjalan kearah sisi lapangan untuk mengambil tasnya yang ia biarkan tergeletak dilantai begitu saja.
"Padahal semua siswa pasti ngarepin loe main dari awal. Loe 'kan idola mereka." Shamar yang sebenarnya merasa kecewa karena Elang akan datang terlambat.
Elang tak menjawab lagi. Mereka berjalan beriringan ke luar lapangan. Elang yang menyampirkan tas di bahu kirinya menambah kesan ke sempurnaan yang ada di dalam diri Elang.
**
"Zeas, loe ke butik Bunda sendiri aja ya! Gue ada rapat OSIS dulu nih." Rosy dan Zeasy yang sudah keluar kelas karena jam sekolah pun telah usai.
"Emang ada apa? Tumben rapat jam pulang sekolah?" tanya Zeasy pada Rosy.
Mereka berhenti tepat diruang rapat OSIS. Rosy yang menjadi sekertaris OSIS harus siap dengan catatan-catatan acara yang akan digelar besok siang.
"Loe lupa? Besok 'kan ada acara santunan. Terus GGS juga ngundang alumni siswa GGS. Dan ya, loe tahu acara yang bikin beda tahun ini?" Rosy menatap mata Zeasy. Zeasy hanya menggeleng tak tahu.
"Mantan tim basket GGS." ucapnya dengan penuh semangat. Sementara Zeasy hanya manggut-manggut saja, seperti tidak tertarik dengan informasi yang Rosy berikan.
"Loe napa cuma manggut-manggut aja?" tanya Rosy.
"Gue cabut ya. Kasihan Bunda kalau nungguin gue lama" Zeasy pergi meninggalkan Rosy yang akan rapat OSIS.
"Dasar," Rosy terkekeh geli melihat sahabatnya yang aneh itu. Kemudian Rosy masuk ke ruangan yang ada di depannya setelah Zeasy menghilang dari pandangannya.
**
Jalanan ibu kota yang selalu terkenal macet disetiap waktunya. Elang yang baru pulang dari kampus dengan membawa mobil sport putih miliknya. Berhenti dikala lampu lalu lintas berubah menjadi warna merah.
__ADS_1
"Astaga." Elang menginjak pedal rem mobilnya dengan cepat. Segera, pemuda itu turun dari mobilnya ketika sadar bahwa dia telah menabrak sebuah motor di depannya.
Elang menghampiri pengguna motor itu. Dengan segera Elang membantu menyingkirkan motor yang menindih tubuh penggunanya. Sebagian pengendara yang melihat kejadian itu ikut turun dari mobilnya dan menghampiri pengguna motor yang terjatuh.
"Maaf, Mas. Saya gak sengaja!" ucap Elang sembari memapah pengguna motor itu kepinggir jalan.
"Eh" Elang merasa kaget saat pengguna motor itu melepas helmnya.
"Kamu gak pa-pa? Maaf saya tadi gak sengaja. Saya antar ke Rumah Sakit saja, ya!" Elang merasa khawatir karena wanita itu terus mengaduh memegang kakinya.
Astaga ganteng banget ya
"Hey" Elang menjentikan jarinya ke wajah Zeasy saat gadis itu hanya terbengong saja.
"Eh," Zeasy gelagapan sendiri. Mengarahkan matanya kelain arah.
"Sorry.... Kita ke Rumah Sakit saja, ya!" sekali lagi Elang mengajak Zeasy ke Rumah Sakit.
**
"Bunda, maaf ya Zeasy gak bisa ke butik. Zeasy ada kecelakaan kecil."
Ya, saat ini Zeasy sedang di Ruang UGD. Dokter sedang mengobati kaki Zeasy yang terluka. Sedangkan Elang berdiri di samping Zeasy.
"Kecelakaan apa, Nak? Bunda kasana ya. Bunda khawatir. Ana yang berada di ujung sana, sangat mencemaskan Zeasy. Wajahnya panik seketika.
Zeaay yang masih menempelkan benda persegi di telinganya itu merasa terenyuh dengan sikap Ana. Seharusnya kata khawatir itu terlontar dari mulut Islan, ibunya.
"Ia, Bun. Zeasy masih disini."
"Bunda kesana ya?"
"Gak perlu, Bun. Zeasy gak apa. Cuma lecet sedikit aja. Gak usah kesini ya, Bun!"
Zeasy mematikan sambungan telponnya. Menyimpan ponsel itu kembali ke dalam ransel sekolahnya.
"Sudah" ucap dokter yang telah usai mengobati luka Zeasy.
"Terimakasih, dok." Dokter itu mengangguk dan berlalu.
"Saya, Elang" Elang mengulurkan tangannya. Bermaksud untuk berkenalan dengan Zeasy.
"Zeasy." gadis itu menyambut uluran tangan Elang. Kemudian melepaskannya kembali.
Hening....
"Eemm, dokter udah ngizinin gue pulang 'kan?" Elang mengangguk canggung.
"Ok, kalau gitu gue pulang sekarang." Zeasy beranjak.
__ADS_1
"Eh," tiba-tiba Zeasy terjatuh ralat hampir terjatuh saat kakinya akan menginjak lantai.
"Gak pa-pa?" Elang menahan bahu Zeasy agar gadis itu tak terjatuh. Elang kembali membatu Zeasy duduk di atas ranjang UGD itu.
"Thanks. Gak pa-pa kok" Zeasy tersenyum. Tapi tak ada balasan dari Elang. Pemuda itu terlalu kaku. Membalas senyum saja tak bisa.
"Eh BTW, motor gue-"
"Saya sudah menyuruh orang bengkel untuk mengambil motor kamu." jawab Elang. Zeasy hanya manggut-manggut saja.
"Mau pulang sekarang?" tanya Elang.
"Iya." Jawab Zeasy.
**
Di dalam mobil sport putih Elang yang sedang menyetir, sementara di sebelahnya ada Zeasy yang tengah sesekali melirikan matanya ke arah Elang.
Tak ada yang membuka suara. Hening, hanya suara mesin mobil yang terdengar halus. Ingin sekali Zeasy bertanya pada Elang. Tapi gadis itu tak berani. Zeasy hanya menghela nafasnya pelan.
"Makasih, ya, Mas." Zeasy merasa canggung harus memanggil Elang seperti apa.
"Ya." jawab Elang datar.
Kemudian Zeasy membuka pintu mobil itu dan turun. Tak ada lagi kata setelahnya. Elang melesat, melajukan mobilnya begitu saja.
"Elah, ganteng-ganteng datar banget." Cek, Zeasy berdecak kesal. Tapi tak lama setelah itu Zeasy menarik ujung bibirnya hingga senyum itu terbit.
"Ya ampun, Non Zeas," panik Bi May yang melihat Zeasy berjalan pincang masuk ke dalam rumah. Segera Bi May menghampiri Zeasy dan memapah gadis itu duduk di sofa.
"Ini kenapa, Non. Kok jalannya pincang begini?" tanya Bi May khawatir.
"Gak pa-pa, Bik. Tadi ada orang yang gak sengaja nabrak motor aku-"
"Astaga, Non. Siapa yang nabrak? Kok ya bisa sampe kaya begini. Ini pasti sakit sekali" Bi May kelewat khawatir atas apa yang menimpa nonanya ini. Bik May berjongkok mengusap-ngusap kaki Zeasy pelan sambil meniup-niup lukanya.
"Loh, Non Zeasy kenapa malah nangis? Sakit ya, Non?" tanya Bi May yang justru melihat Zeasy meneteskan air mata.
"Gak, Bi. Zeasy cuma kangen Mami. Inget waktu kecil Mami selalu khawatir saat Zeasy jatuh, trus lecet." Zeasy mengusap air matanya dan menghela nafasnya kasar.
"Kapan lagi ya, Zeasy bisa ngerasa seperti dulu?" Ingatan dimana Zeasy waktu kecil melintasi pikirannya.
Dulu, Islan walau sibuk, dia selalu bisa menyempatkan diri untuk bermain dengan Zeasy. Walau itu hanya sebentar. Tapi semenjak Zeasy tumbuh dewasa, kebersamaan itu hilang dengan seiringnya waktu. Zeasy merasa kangen masa-masa seperti dulu. Ah sudahlah....
Tak perlu lagi mengingat masa lalu. Walau masa lalu itu indah. Tapi lihatlah kedepan walau di depan banyak alar yang melintang. Yakinlah dan percaya bahwa Tuhan itu tidak tidur. Jika Zeasy merasa kehampaan dalam keluarganya, mungkin suatu saat Tuhan akan mengirim orang untuk mengubah kehampaan itu.
TBC
Salam Sayang
__ADS_1
SeizyKurniawan
Jangan lupa like komennya. karena aku suka rame, jadi ramein ya!!