
Hai hai masih adakah yang nungguin cerita ini? Selalu telat up-nya, tapi aku usahain ya buat terus lanjut. wkwk
Sebelum baca budayakan like di bab sebelumnya gays!
*
*
Elang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar ia bisa menyusul Zeasy yang mengendarai motornya seperti kesetanan. Elang tak mengerti dengan sikap tiba-tiba Zeasy yang berubah. Padahal kemaren pas Elang mengantarnya pulang dari panti, gadis itu masih baik-baik saja, dan semalam sebelum tidur mereka masih sempat berbalas chat.
"Zeas, Kak Elang ngikutin loe," sahut Rossy bersuara dibalik helm-nya, yang bisa mengimbangi laju kecepatan motor yang dibawa Zeasy.
Zeasy tak menggubris walau mendengar apa yang Rossy katakan dan ia pun melihat mobil sport putih yang terus mengikuti dan menyalakan klakson dari belakangnya.
"Ah, Zeasy, loe gila. Pake ngegas segala lagi bawa motornya. Tuh anak kenapa sih?" Rossy menggerutu kesal ketika Zeasy bukannya melambatkan kecepatannya justru gadis itu semakin menambah laju kecepatan motor trail-nya.
Di dalam mobil, Elang yang terus memandang tajam pada jalanan di depannya. Tidak ingin kehilangan jejak motor Zeasy, Elang sama gilanya dengan Zeasy yang melajukan motornya seperti kesetanan.
Suara deringan ponsel Elang menghapus konsentrasi Elang menyetir. Elang mengurangi kecepatan lajunya. Pemuda itu meraih ponsel yang ia simpan disisinya. Tertera nama Yiran dilayar ponsel yang berkedip-kedip. Elang mendesah sebelum mengangkat panggilan masuk itu.
"Lang, kamu masih di mana? Aku udah nyampe bandara nih," sahut suara perempuan di sebrang sana.
"Kamu suruh Shamar aja yang jemput. Aku ada urusan. Sorry!" Jawab Elang kemudian langsung menutup sambungan telepon itu. Kemudian pandangan Elang kembali fokus pada jalan di depannya. Matanya mengedar mencari sosok gadis yang membawa motor trail tak lain Zeasy. Ah sial, sepertinya Elang kehilangan jejak Zeasy. Pemuda itu mendesah pasrah.
*
*
Setelah Zeasy sampai di rumah, gadis itu memarkirkan trail-nya dengan sembarang di pelataran rumahnya. Hatinya kacau melihat Elang dikerumuni banyak cewek-cewek cantik. Ah Zeasy cemburu, mungkin.
"Bi May, ada apa?" Zeasy bertanya ketika melihat Bi May ada di halaman rumahnya dengan wajah ditekuk.
Sebelum Bi May menjawab, sesaat Zeasy terdiam mendengar keributan di dalam rumahnya. Memejamkan mata sebentar, Zeasy menghela nafasnya kasar. Ia tahu, Mami Papi pasti bertengkar lagi.
"Apalagi yang mereka ributin sih," sahut Zeasy dengan kesal. Kemudian Zeasy masuk ke dalam rumah dengan menghentakan kakinya.
__ADS_1
"Non Zeasy," tegur Bi May yang melihat Zeasy masuk ke dalam dengan wajah yang penuh emosi. Bi May menyusul Zeasy yang sudah lebih dulu menghilang.
Di ruang tengah, Zeasy melihat guci-guci yang pecah, belingnya berserakan dimana-mana. Pas bunga, bingkai-bingkai foto semuanya tegeletak di lantai sudah tak berwujud.
Zeasy melempar helm yang masih ia genggam di tangannya ke lantai. Emosinya tersulut. Collin, Islan dan Bi May tersentak. Melihat Zeasy yang melempar helmnya.
"Zeas," sahut Islan berjalan ke arah putrinya.
"Stop!"
Islan tersentak, seketika spontan menghentikan langkahnya. Collin menatap wajah merah Zeasy, Dadi nya itu tahu jika Zeasy saat ini berusaha untuk menahan emosinya. Terlihat dari kedua tangannya yang mengepal.
"Kalian bisa gak sih gak terus berantem kaya gini? Aku cape dengernya." Zeasy mengeluarkan suaranya dengan lantang sampai cicak di lantai atas pun mungkin dapat mendengar karena ruangan yang begitu saja sunyi.
"Apalagi yang kalian ributin? Uang, kerjaan, atau apa?" tanya Zeasy dengan datar.
"Sayang, Dadi dan Mami mungkin gak bisa mempertahankan rumah tangga kami," sahut Collin dengan hati-hati. Berharap dengan kalimat itu Zeasy dapat mengerti dan memahi rumah tangga orang tuanya yang sedari dulu tidak baik.
Sebenarnya entah apa yang menyebabkan Collin dan Islan menjadi kacau, Zeasy pun tak tahu. Karena setahu Zeasy dulu keluarganya sangat bahagia dan harmonis. Tapi setelahnya Islan kembali lagi bekerja di salah satu perusahaan Agensi, Islan dan Collin selalu mempermasalahkan hal-hal yang tidak penting dan pada akhirnya akan merambat kemana-mana.
Collin mengangguk.
"Kamu ikut Mami, Ya, sayang!" Islan berjalan ke arah Zeasy. Sampianya di depan putri yang tengah memandang Islan dengan raut kecewa, Islan mengarahkan tangannya menyentuh pundak Zeasy, tapi sebelum mendarat Zeasy terlebih dulu menepisnya. Islan tersentak kaget, "Zeasy," lirihnya.
"Kamu bisa lihat sendiri, Islan. Zeasy tidak ingin ikut bersamamu, dia akan ikut aku!" ucap Collin.
"Tidak! Zeasy akan ikut denganku,"kata Islan. Tidak ingin Collin mengambil Zeasy darinya. Setelah apa yang sudah Collin lakukan pada Islan.
"Iya kan, Zeasy sayang?" Islan bertanya, sedangkan Zeasy hanya menatap netra Islan dengan raut wajah yang penuh dengan kecewa.
"Kamu ikut Dadi, Zeasy!" kata Collin.
"Enggak," sahut Zeasy cepat. Kali ini tatapannya mengarah pada Collin.
Islan tersenyum senang. Islan yakin jika Zeasy akan ikut bersamanya. "Kamu denger, Zeasy tidak ingik ikut denganmu. Jadi Zeasy akan ikut bersamaku. Ayo, sayang!" Islan hendak menarik tangan Zeasy, tapi lagi-lagi Zeasy menghempaskannya sebelum tangan itu menyentuhnya.
__ADS_1
Islan mengernyit heran.
"Aku juga gak akan ikut Mami," sahutnya datar.
"Kaliam mau cerai kan? Mau ninggalin rumah ini, silahkan! Tapi aku gak akan ikut Mami atau pun Dadi. Aku akan tetap tinggal di sini, di rumah ini. Jadi jangan paksa aku!" Zeasy beranjak. Berjalan cepat ke arah tangga, sebelum menapaki anak tangga, Zeasy sesaat terdiam lalu menjatuhkan guci besar yang ada di dekat tangga. Seketika guci besar itu pecah. Zeasy gak peduli walau itu adalah guci kesayangan sang Mami..
Collin mau pun Islan hanya diam mematung. Apa yang sebenarnya telah orang tua itu lakukan hingga perceraian menjadi jalan terbaik bagi mereka, dan belum tentu untuk Zeasy. Gadis itu kini menjadi korban dari pertengkaran orang tuanya.
Sampainya di kamar, Zeasy melempar semua barang-barang yang ada di kamarnya. Bantal, selimut, seprai, Zeasy lempar asal hingga sekarang kamarnya seperti sebuah kapal pecah.
Ia tak ingin menangis lagi, buat apa Zeasy terus menerus meratapi sebuah nasib yang tidak beruntung itu?
Sesaat Zeasy hanya berdiri mematung, mengatus nafasnya yang tidak beraturan. Getaran ponsel disaku celananya membuyarkan keterdiaman gadis itu. Kemudian Zeasy merogoh sakunya, melihat nama yang tertera dilayar ponselnya. Tak ingin menjawab, Zeasy justru melempar ponsel itu ke atas kasur.
Merasa tidak ada jawaban, orang yang menelepon Zeasy mengirimnya pesan. Zeasy kembali meraih ponselnya, membuka pesan itu lalu memijat pelipisnya. Saat ini Zeasy hanya ingin menenangkan diri tanpa ingin diganggu siapa pun.
Elang
Kamu kenapa?
Elang
Zeasy, angkat telepon aku!
Elang
Kenapa, hem? Apa kamu cemburu gara-gara aku dikerumuni cewek-cewek di gerbang sekolah tadi?
"Apa-apaan Elang ini? Gue cemburu, enggak mungkin," sahut Zeasy melempar kembali ponselnya. Kemudian ia menghempaskan tubuhnya di kasur yang berantakan.
Mungkin tidur sebentat akan menenangkan pikira Zeasy.
TBC
Gays... like-nya dong ih....
__ADS_1
jangan pelit jempol yang udah baca. wkwk