
David segera menarik wajahnya menjauh dari Zeasy. Keduanya tersentak menoleh pada sumber suara yang berasal dari seorang pria.
Memutar bola matanya malas, Zeasy mendengus kesal seraya menegakkan tubuh yang bersandar pada dinding tembok samping pintu.
"Eh bukannya loe cowok yang tadi pagi ketemu di loby apartemen ya?" tanya David mengingat-ngingat.
Elang pun mengangguk samar dengan mata mengarah pada Zeasy - yang tengah memalingkan wajahnya. Enggan sekali untuk melihat wajah Elang yang berhasil menghantui setiap malam dalam mimpinya.
Elang ... mengapa pria itu harus ada di kantor Mami Islan? Ada urusan apa dia disana?"
Tak lama suara lain pun datang - dari seorang cewek yang selalu saja menempel pada Elang. Siapa lagi kalau buka Yiran, calon tunangan Elang.
"Eh kok kita ketemu lagi?" tanya Yiran saat keluar dari ruang kerja Islan seraya menggandeng lengan Elang. Senyuman terbaik selalu Yiran tampilkan sebab dia adalah seorang model.
Wajah Zeasy pun semakin memucat. Ia semakin tidak suka melihat pemandangan di depannya. Tapi apalah daya, dia bukan siapa-siapa. Ia hanya seonggok daging bernyawa yang harus bertahan dengan hati yang selalu terluka.
"Zeasy, kamu udah datang?" Islan keluar. Wanita paruh baya itu menyapa sang putri yang sedang berkumpul di depan ruang kerja sang Mami.
"Zeasy ke toilet dulu," sahutnya tanpa menjawab sapaan sang Mami. Memutar tubuh dan berlalu dari sana. Dari pandangan Elang yang terus memberikan tatapan maut padanya. Entah apa maksud cowok itu, tapi mampu membuat perasaan Zeasy semakin diremaas kuat.
Yiran adalah salah satu model yang selalu Islan rekomendasikan. Kedatangannya saat ini untuk mengundang Islan hadir pada acara tunangannya tiga hari lagi. Dan Elang yang tak lupa menemani cewek itu. Tepatnya Yiran yang memaksa agar Elang menemaninya.
Tak disangka Elang pun akan bertemu Zeasy kembali.
"Dia putri saya," ujar Islan tiba-tiba ketika melihat tatapan Yiran yang seolah bertanya padanya. Yiran pun menaik turunkan kepalanya.
__ADS_1
"What, putri? Kalau cewek hulk itu anak tante. Berarti aku sama cewek hulk ... Astaga, dunia emang sekarang sempit banget." David panik gila. Pasalnya, jika Zeasy anak Islan berarti David tidak bisa mendekatinya karena mereka nantinya akan menjadi saudara tiri. Dan itu tidak David inginkan walau sejujurnya cowok itu memang berharap mendapatkan Mami baru.
Iya, yang dimaksud Mami Islan mau menikah lagi itu - ya dengan Yunus, papinya David.
Keduanya memang sudah lama saling mengenal karena terlibat kontrak kerja sama. Yunus yang memproduksi sebuah sabun yang banyak diminati di kalangan masyarakat dan meminta Islan untuk mengiklankannya. Jadilah kontrak kerja sama pekerjaan itu berubah menjadi kontrak kerja sama sebagai pasangan hati.
"Kamu David?" Islan beryanya heran pada cowok yang tengah menggigit kuku jarinya seperti sedang berpikir.
David tersentak dengan pertanyaan Islan. "Kenapa, Tan?"
"Kamu David?"
"Iya, saya David. Saya disuruh Kak Leon buat datang kesini. Entah untuk apa saya juga gak tahu." Ungkap David mengedikan kedua bahunya santai. Islan manggut-manggut
"Aku ke toilet dulu," ucap Elang berbisik pada Yiran yang berada di sampingnya.
**
Bukankah tadi Elang bilang akan ke toilet pada Yiran? Tapi kenapa cowok itu malah berdiri bersandar pada tembok samping toilet cewek dengan kedua tangan yang ia masukan ke dalam saku jaket bombernya. Untuk apa?
"Zeasy, aku ingin bicara sama kamu," ujar Elang ketika melihat Zeasy keluar dari dalam tolet sana.
Tanpa membalikan tubuhnya, Zeasy mendengus kesal. Ia sempat menghentikan langkahnya mendengar ada orang yang menyapanya. Tapi tak lama setelah itu, Zeasy kembali melangkah tanpa menggubris permintaan Elang.
Untuk apa Elang ingin berbicara dengannya? Apa hanya untuk mengumbarkan hubungannya dengan Yiran? Atau semakin untuk mempertegas kalau ia akan bertunangan? Atau untuk apa?
__ADS_1
"Zeas, kasih aku waktu lima belas menit unyuk ngomong sama kamu." Elang berusaha. Ia mengikuti langkah Zeasy dari samping. Mengimbangi langkah gadis tomboy itu yang berjalan dengan cepat.
"Zeasy?"
Ia pun berhenti. Menolehkan wajahnya pada Elang yang berdiri lunglai di sampingnya. Sesaat Zeasy memandang wajah tampan itu. Tapi hanya sesaat, seyelahnya Zeasy kembali memalingkan wajahnya setelah berdehem pelan. "Gue gak punya waktu untuk ngomong sama cowok yang gak gue kenal," ujarnya dingin tanpa melihat manik indah Elang.
"Please ... lima belas menit aja. Setelah itu aku gak akan ganggu kamu lagi."
Loe emang selalu ganggu gue, Elang. Ganggu hati gue sampai gue gak bisa relain loe sama cewek lain.
"Loe paham bahasa Indonesia gak sih? Gue gak bisa ya gak bisa!" hardik Zeasy dengan suara keras. Tepatnya Zeasy berteriak hingga beberapa orang yang ada disana menoleh padanya. Tapi Zeasy bodo amat.
"Sepuluh menit."
Zeasy tak menggubris. Ia melanjutkan langkahnya. Elang masih terus berusaha untuk bisa jujur pada Zeasy.
"Lima menit," sahut Elang dengan langkah cepat mengimbangi langakah Zeasy. Wajahnya penuh dengan permohonan pada gadis itu.
Masa bodo, mau sepuluh menit, lima menit atau hanya lima detik saja Zeasy enggan. Ia enggak tersakiti lagi. Percayalah, walau hatinya sudah kebas karena perpisahan orang tuanya. Tapi untuk Elang, kenapa rasanya sangat sakit. Seolah kekebasan dalam seonggok daging itu pun lenyap.
Rapuh, itu yang Zeasy rasakan ketika melihat wajah Elang. Kalimatnya beberapa waktu lalu membuat rongga dada Zeasy serasa ditusuk benda tajam tak kasat mata. Dan itu sangat menyakitkan.
TBC
lewat dulu aja ya. Aku lagi pening ini, semalamnya tuh gak bisa tidur. wkwk (curhat)
__ADS_1