
Malam itu, Zeasy masih terjaga. Walau jam sudah menunjukkan pukul dua malam. Ia terus berguling kekanan dan kiri di atas bed rumah sakit untuk mencari posisi ternyamannya.
Karena merasa tidak bisa terpejam, lantas Zeasy bangkit dan terduduk menyandarkan kepalanya pada kepala bed rumah sakit. Ia melihat Rossy yang tidur di sofa. Juga Bunda Anna yang tidur di sofa yang lain. Zeasy mencebik, hatinya seperti ada yang hilang. Tapi bukannya hati Zeasy selalu seperti itu?
Oke!
Tak ada kedua orang tua yang menemaninya bukanlah hal yang sulit untuk ia rasa. Sudah terbiasa mendominasi diri dan perasaannya. Sekarang yang gadis itu pikirkan hanya satu nama saja. Elang.
Ah kepalanya seperti akan meledak ketika memikirkan pemuda itu. Apa iya Zeasy sudah masuk ke dalam pesona seorang Elang - yang selalu dibanggakan semua kaum hawa - yang selalu dibilang Rossy dan Yuke itu?
Meraup nafasnya dalam-dalam lalu Zeasy hembuskan dengan perlahan. Ia gak boleh terus menerus memikirkan cowok yang sama sekali gak peduli padanya.
Sial!
Rasanya itu tidak mungkin. Karena semakin Zeasy mencoba melupakan Elang, semakin besar juga rasa rindu yang gadis itu rasa.
Tapi apa kabar dengan Elang?
Di satu kamar apartemen, sama halnya dengan Zeasy. Elang pun tak bisa tidur. Pemuda itu malah berdiam diri di balkon apartemen. Memandang potret jalanan ibu kota yang masih terlihat ramai. Walau ini sudah hampir pagi menjelang.
Elang tak bisa jika tidak memikirkan Zeasy, apalagi dengan perkataan Rossy yang menyebutnya ia akan menyesal.
"Tsk ... apa sih maksud ucapan temennya Zeasy itu?" Elang bertanya pada diri sendiri seraya menempelkan bibir pada bibir kaleng. Lalu Elang menengadah, melegut minuman kaleng itu sedikit demi sesikit.
Elang menghela nafas kasar. "Apa kabar Zeasy?" Lantas pemuda itu merogoh ponsel di dalam saku celana pendeknya. Membuka aplikasi hijau. Kemudian kembali membaca chat yang kemari-kemarin masih ia lakukan dengan Zeasy. Ia tersenyum, miris.
Bersamaa dengan itu, di ruang VIP tempat Zeasy dirawat pun. Gadis itu tengah melakukan hal yang sama dengan Elang. Yaitu membuka aplikasi chat-nya.
"Apa kabar, Elang?"
"Apa kabar, Zeasy?"
Bersamaan kalimat itu terlontar oleh Zeasy dan Elang.
*
*
"Kamu yakin mau pulang? Kamu kan belum sembuh betul, sayang." Ana yang tak lain bunda Rossy itu bertanya pada Zeasy. Memastikannya sekali lagi. Karena jika melihat kondisi gadis itu, Ana tidak yakin jika Zeasy sudah merasa baikkan.
"Zeasy yakin, Bu. Kasihan kan Rossy kalau aku di sini terus." ucapnya melirik Rossy yang tengah memutar bola matanya jengah.
Dan pagi itu pun Zeasy meminta izin pada dokter untuk pulang saja. Dan dokter pun mengizinkan karena Zeasy terus memaksa. Dengan syarat, dua hari ke depan gadis itu harus kontrol.
"Cy, loe jadi gak masuk sekolah gara-gara gue." Zeasy seketika merasa canggung sendiri pada sahabatnya itu. Kini Zeasy sudah ada di depan rumahnya dengan pulang diantar Rossy. Untung saja Bunda nya itu baik hati dan tidak sombong. Ana yang rela memakai taxi untuk pergi ke butiknya. Dan menyuruh Rossy untuk mengantarkan Zeasy pulang.
"Aelah, neng, kaya ama siapa aja sih loe. Pake makasih segala lagi sama gue. Jadi malu sendiri kan gue," sahut Rossy gak jelas seraya menyembunyikan wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Dasar!" ada kekehan pelan yang keluar dari mulut plum Zeasy dengan gelengan samar. Kemudian gadis itu membuka pintu mobil menapaki kakinya pada tanah dengan pelan.
"Eh ... bentar-bentar, gue bantu, Zeasy. Ya ampun, kaki loe masih sakit pasti itu." Lebay! Iya, sahabatnya itu memang lebay tingkat akut.
__ADS_1
Lalu Rossy segera keluar dari mobil untuk membantu memapah Zeasy.
"Ya ampun, non Zeasy ... non kenapa?" Yang lebay, satu lagi datang. Bi May yang kala itu ingin membuang plastik sampah ke depan. Berteriak histeris ketika melihat nonanya itu di papah oleh Rossy dengan kaki yang diperban. Bi May lantas membantu Rossy untuk memapah Zeasy.
Zeasy tersenyum senang. Tapi dalam hati ia menangis. Andai mami dan dadi nya yang lebay seperti Rossy dan Bi May pasti ia akan sangat bahagia sekali.
Oke, stop!
Gak perlu lagi memikirkan apa yang menjadi angannya selama ini. Mereka udah fix cerai. Catet! Cerai! Jadi Zeasy saat ini harus bisa hidup tanpa impin dengan sebuah utuhnya keluarga. Itu sudah tidak ada lagi harapan untuknya.
"Jadi non Zeasy kecelakaan? Kenapa non gak kasih tahu bibi? Ya ampun, non ... kenapa juga non harus pulang kalau belum sembuh?" Sudahlah, mendengarkan Bi May membuat mata Zeasy ingin mengeluarkan cairan. Ia ingat orang tuanya, lagi.
"Marahin, Bi May. Ngeyel soalnya ini anak!"
Kenapa jadi kedua orang itu sangat bawel. Zeasy tak menggubrisnya, ia hanya menggeleng saja dengan tubuh yang terduduk di atas sofa.
"Bi, beresin kamar yang biasa aku pake di bawah, ya. Untuk beberapa hari aku akan pake kamar itu. Kaki aku belum kuat kalau harus naik tangga!" Bi May hanya mengangguk.
Tiba-tiba ...
"Zeasy, sayang!" suara yang Zeasy kenal.
Ketiga pasang mata menoleh pada sumber suara itu.
"Da-di," tegur Zeasy lirih. Suaranya seakan tercekat kuat. Ketika Collin datang.
Masih ingatkah untuk pria paruh baya itu datang menjenguk anaknya? Tapi, apa iya Collin datang untuk itu, sementara disamping pria paruh baya itu, seorang wanita cantik dan anggun sedang merangkul pinggang sang dadi.
Siapa dia?
"Non, bibi ke belakang dulu, ya." Zeasy mengangguk menoleh sekilas pada sang Bibi yang sudah merawatnya itu. Lalu Bi May pun berlalu.
"Cy, loe ke kamar gue dulu, ya! Nanti gue nyusul," sahuy Zeasy menyuruh pada sahabatnya. Rossy pun mengangguk. Rossy mengerti, mungkin akan ada banyak pertanyaan dan perbincangan antara Zeasy dengan dadinya.
Sejenak hening tercipta di ruang tamu rumah itu. Tak ada yang mengawali pembicaraan sampai pada akhirnya suara seorang wanita yang Collin bawa itu mengulurkan tangannya. "Hai, ini pasti Zeasy, ya? Cantik." ada jeda dari wanita asing itu. "Kenalin saya Wike," sahutnya memperkenalkan diri sambil wajah tersenyum ramah.
Mencebikan bibir, Zeasy membuang muka. Ogah untuk menyambut tangan wanita asing itu. Zeasy bukan gadis bodoh yang tidak tahu siapa wanita yang Collin bawa. Ia tahu dan paham.
"Jadi, karena ini dadi menceraikan mami? Dad, baru kemarin loh pengadilan mengetuk palu. Dan hari ini Dadi bawa wanita ini, ngenalin ke aku kalau dia kekasih dadi yang baru." Sebelum melanjutkan kalimat, Zeasy meraup nafasnya terlebih dulu dengan dalam.
"Oh ... atau calon istri dadi? Atau juga kalian udah menikah?" Lanjutnya kemudian.
Colli hanya terdiam membiarkan Zeasy untuk meluapkan segala kekecewaan padanya terlebih dulu. Wike kembali menarik uluran tangannya setelah beberapa saat tidak ada sambutan dari Zeasy.
"Sayang, dadi-"
"Bahkan dadi gak lihat kondisi aku sekarang dan bertanya." Zeasy memotong kalimat apa yang akan terlontar dari mulut dadinya itu.
"Memang kamu kenapa?"
Ah sungguh, rasanya Zeasy ingin sekali mencakar tembok saat ini. Lihatlah, setelah Zeasy mengatakan itu, Collin baru bertanya. Ajaib sekali dadinya itu.
__ADS_1
"Gak perlu tahu juga. Lagian dadi gak peduli ini kan?" ujarnya dengan dada yang bergemuruh melawan, agar tak ada cairan lagi yang keluar dari mata beningnya.
"Zeasy,"
"Udah dadi ngomong aja langsung mau apa? Zeasy mau istirahat."
Dan ya, Collin pun bahkan tak menanyakan kenapa putrinya itu tidak sekolah.
"Tebakan kamu benar, Zeas. Dadi akan segera menikah dengan tante Wike," ujarnya.
"Jadi dadi kesini cuma mau ngomong itu. Dan minta izin dari aku?" tanya Zeasy datar.
Collin mengangguk.
Ya-ya-ya ... datang ke rumah bukannya menanyakan kabar putrinya ini malah meminta izin untuk nikah. Jelas saja itu membuat wajah Zeasy menggeram kesal.
Oke, tahan!
"Aku gak peduli. Dadi mau nikah atau mau apa pun. Terserah! Lagian kenapa dadi minta izin sama aku? Walau aku menolak pun dadi akan tetap memaksa menikahi dia kan?" Zeasy menunjuk Wike dengan dagunya. Menatap Wike tajam dan bahkan sangat.
"Bukan itu, dadi juga mau kamu menerima tante Wike tinggal di rumah ini," menjeda seraya menghela, "bersama putrinya."
What?
Bagaimana Zeasy tidak membulatkan matanya. Ucapan dadinya barusan itu membuat hati Zeasy semakin hancur berkeping-keping. Bagaikan kaca yang dipukul dan pecahannya berhamburan menyentuh lantai.
"Gak bisa! Aku gak mau!" hardik Zeasy tidak terima.
"Zeasy, kamu gak bisa seegois ini. Ini rumah dadi."
Apa tadi Collin bilang, jangan egois? Disini yang egois itu siapa? Haruanya Collin sadar.
Ya ampun, kali ini wajah Zeasy sudah merah padam dengan rahangnya yang mengeras dan tangan terkepal kuat.
Sadar gak sih ayah nya ini. Baru kemarin resmi bercerai dengan maminya. Dan setelah itu bilang akan pergi ke Malaysia. Dan hari ini, Collin membawa wanita lain masuk ke dalam rumah dan bahkan akan masuk ke dalam kehidupan Zeasy, menjadi ibu tiri Zeasy. Apa masih bisa bilang kalau Zeasy egois? Ayah macam apa itu - yang tega mengatakan pada putrinya egois.
"Oh iya, aku lupa. Kalau aku emang gak ada hak atas rumah ini. Iya, ini rumah dadi." Dan kali ini Zeasy tidak lagi bisa menahan air matanya untuk tidak lolos menjadi anak sungai di pipinya. Zeasy bangkit dari duduknya dengan ringisan kecil.
Dan itu tidak membuat hati Collin terenyuh melihat ringisan yang keluar dari mulut putrinya itu.
Putrinya?
Apa iya Zeasy putrinya?
"Maksud dadi bukan seperti itu, sayang. Dadi-"
"Aku gak mau denger dadi ngomong lagi." Zeasy menatap lekat netra ayahnya. "Kalau dadi maunya seperti itu. Aku akan pergi dari rumah ini," ujarnya tegas. Lalu ia berlalu dengan kaki yang pincang.
**
TBC
__ADS_1
Ini gimana? Aku sedih tau gak ... gimana nasib Zeasy ini. Ditinggal Elang, dadinya akan nikah lagi dengan wanita lain. Ya ampun, takdir tak dapat dipungkir agayssssss ... wkwk
Berikan tanda cinta kalian pada aku dengan like komen ya. Share juga cerita ini pada temen temen kalian.. Aku cintahhhhhh kalian!!