
"Ini?" Elang menunjukan sebuah buku hitam. Yang mana buku itu adalah buku harian Zeasy.
Sial, kenapa Zeasy sampai lupa dengan bukunya. Kenapa ia ceroboh sekali menyimpan buku itu di kursi tribun.
"Kanker darah stadium akhir!" lirih Elang berucap. Zeasy mengatupkan bibirnya sempurna. Ia tidak bisa mengelak lagi dari kenyataan yang selama ini ia sembunyikan dari semua orang.
Jadi selama ini Zeasy hanya pura-pura kuat dengan keadaan. Pura-pura bahagia dengan kehidupan.
"Ini alasannya nolak aku? Dan membiarkan orang lain menyematkan cincin di jari manis ini?" Elang mengangkat tangan kirinya. Menunjukannya lagi pada gadis dihadapannya ini.
Entah, cowok itu harus marah atau tidak. Yang pasti, Elang merasa kecewa.
Untuk beberapa detik keduanya hanya saling terdiam. Zeasy menghindari pandangannya dari Elang. Sementara mata Elang berbeda. Mata itu menatap Zeasy iba.
Berdecih, Zeasy tak mampu berkata. Ia duduk di kursi rotan panjang yang bercat coklat. Memegang kepalanya dengan siku yang bertumpu pada kedua pahanya.
"Berapa lama lagi?" Masihlah sama, mata Elang menatap tajam pada gadis yang tengah menunduk.
"Tiga atau empat bulan. Iya? Jawab!" hardik Elang membuat Zeasy berjinjit. Ia mendongak melihat kedua bola mata hitam yang sudah berkaca.
"Dan kamu percaya apa yang sudah dikatakan dokter itu?" Berdecak, Elang menarik paksa tangan kanan Zeasy. Entah Elang akan membawa gadis itu kemana. Zeasy hanya menurut saja. Tanpa ada kata yang keluar dari mulutnya. Lidahnya terasa kelu untuk berucap.
Membuka pintu mobil, Elang sentak Zeasy agar ia masuk dan duduk di dalam mobilnya. Kemudian dengan hentakan kasar, Elang menutup pintu. Ia mengitari mobil dan duduk di balik kemudi.
"Mau kemana?" Barulah gadis itu bertanya setelah Elang menyalakan mesin mobilnya. Tak ada jawaban. Elang menoleh sebentar lalu menginjak pedal gas. Mobil itu melesat membawa dua insan yang entah kemana tujuannya.
Tiga puluh menit, keduanya berada di dalam mobil. Tak ada yang memulainya untuk bicara. Mereka terdiam dengan menyelami pikiran masing-masing.
Di tempat ini lah sekarang Elang dan Zeasy berada. Di tempat sepi yang jarang sekali dikunjungi orang-orang. Di depan sana ada danau dengan air yang jernih. Pohon yang rindang. Elang memarkirkan mobilnya di bawah pohon itu.
__ADS_1
Satu jam telah berlalu. Tapi keduanya masih terdiam membisu. Hening mengubah segala perasaan yang sejak dari dulu bersemayam.
Ini adalah rasa yang salah.
Ya, karena Elang sudah menjadi milik orang lain. Tapi bukan kah takdir ada di tangan Tuhan? Walau Elang bertunangan dengan wanita lain, apa masih bisa Zeasy menggantikannya?
Bisa kah?
Ya, Zeasy ingin itu. Tapi tidak bisa dan selalu tidak akan pernah bisa.
Zeasy hanya terdiam. Ia memalingkan wajahnya keluar jendela kaca mobil. Memandang lurus pada luar jendela itu.
Tiba-tiba ...
Elang membalikan tubuh Zeasy. Memeluk tubuh itu dengan erat. Tangisnya pecah. Hingga terdengar jelas oleh pendengaran Zeasy. Elang menyembunyikan wajah pada ceruk leher gadis itu.
"Berobat, ya! Aku yakin kamu akan sembuh. Kamu harus sembuh!" ucapnya disela-sela tangisnya.
Apa ini?
Zeasy masih terpaku. Sulit sekali ia mengartikan sebuah pelukan ini. Ia hanya menghela. Membiarkan Elang menumpahkan segala kesalnya di ceruk gadis itu.
"Aku gak mau kehilangan kamu." lirihnya lagi.
Pelan, Zeasy mendorong kedua bahu Elang. Ia melepaskan pelukan cowok itu. "Loe gak perlu ungkapin apa pun sama gue. Percuma!" Ia membalik tubuhnya hingga menghadap depan lagi.
Elang mengerjap. Kenapa memangnya? Elang hanya mengungkapkan semua perasaannya saja pada Zeasy? Apa itu salah? Kenapa Zeasy seolah tak mempedulikan perasaan Elang? Kenapa ia bersikap dingin dan acuh?
"Zeasy."
__ADS_1
"Antar gue ke sekolah lagi!" Lagi-lagi kenapa Zeasy naif sekali. Kenapa ia tidak mengatakan iya saja pada Elang? Apa yang Zeasy pikirkan? Semuanya menjadi begitu rumit.
"Zeasy," tegur Elang dengan lelehan air mata di pipinya.
Elang menangis? Terasa sangat aneh bukan?
"Jangan bikin hidup gue tambah runyam. Gue mohon!" Zeasy mengatupkan kedua tangannya pada Elang. Ia memohon.
Membuat Elang semakin tidak mengerti saja dengan wanita di hadapannya ini.
"Loe jangan bikin hidup loe juga hancur cuma karena cewek penyakitan kaya gue. Jangan sesali semuanya. Loe udah ngambil keputusan yang tepat dengan bertunangan sama Yiran. Gue yakin loe akan bahagia sama dia."
Persetan dengan semuanya. Persetan dengan permohonan Zeasy. Yang Elang ingin hanya Zeasy saja. Ia yakin Zeasy juga memiliki keinginan yang sama dengannya.
Dan Zeasy, gadis itu bukan tidak ingin, ia hanya sadar diri saja. Dan Zeasy tidak ingin orang lain lebih mengasihaninya lagi.
**
Elang memangku tubuh Zeasy dari dalam mobilnya. Ia bawa gadis itu lalu membaringkan Zeasy ke atas brankar yang sebelumnya Elang meminta pada suster.
"Zeasy, please kuat!" Genggaman tangan itu tak Elang lepaskan. Semakin brankar itu berlari, semakin kuat pula genggaman tangan Elang.
Bersamaan dengan pintu ruang UGD yang tertutup, penyesalan Elang kian memuncak. Ia menyesal karena telah memaksa Zeasy untuk menerimanya. Hingga gadis itu kehilangan kesadaran dengan darah yang mengucur dari hidungnya. Mungkin Zeasy terlalu berpikir keras hingga sakit pada kepalanya kian terasa.
Entah apa yang harus Elang lakukan sekarang? Ia hanya terus mondar-mandir di depan ruang UGD dengan rasa khawatir yang teramat dalam.
Apa ia harus menghubungi Islan, memberitahu keadaan Zeasy yang sebenarnya?
TBC
__ADS_1