Zeasy

Zeasy
Catatan Zeasy


__ADS_3

Penyeslan memang selalu berujung di akhir waktu. Begitu juha dengan Islan dan Collin. Tak menyangka jika putri mereka satu-satunya akan terbaring tak berdaya di brankar UGD dengan semua alat medis terpasang di beberapa bagian tubuhnya.


Menangis meraung. Hanya itu yang Islan lakukan sekarang. Menyembunyikan wajah pada Yunus - yang sekarang menjadi bagian dari hidupnya. Sementara Collin, pria baya itu tak lepas menggenggam tangan sang putri yang polos tanpa jarum infus yang menancap.


Di ruang itu, semuanya dibiarkan berkumpul bagai satu keluarga. David, Islan, Collin, Yunus, Loen dan ... Elang tentunya yang memberitahu kondisi Zeasy pada Islan. Lalu Bi May.


Ya, Bi May. Sang pengasuh yang teramat sangat menyayangi Zeasy bagai putrinya sendiri. Bi May terus berdo'a pada yang Kuasa untuk segera menyadarkan Zeasy dan menyembuhkan dari penyakitnya.


Awalnya, David sangat marah karena Elang dengan lancang membawa Zeasy yang berakhir dengan tak sadarkan diri. Lalu menghubungi Islan dan memberitahu semuanya.


Bukankah Elang sudah tepat?


Ya, harusnya memang seperti itu. Islan dan Collin berhak mengetahui kondisi Zeasy.


Selama satu jam mereka semua menunggu Zeasy sadar. Bibir mereka hanya bisa terkatup tanpa membuka suara. Di ruang itu hanya suara monitor dari detak jantung Zeasy saja dan suara jam yang detik demi detiknya terus bertambah. Juga suara tangis Islan yang sesegukkan.


Dokter Fathul sengaja membiarkan semuanya berkumpul.


Dua jam sudah berlalu. Tapi tanda-tanda Zeasy sadar belum juga ada.


Dan di detik berikutnya. Zeasy menggerakkan jarinya pelan. Matanya mengerjap perlahan. Ketika kedua netra hitam itu terbuka, mata itu mengedar pada setiap pasang mata.


"Dadi," tegurnya ketika yang pertama Zeasy lihat adalah sang Dadi.


"Dadi di sini, sayang!" Satu tetes air mata terjatuh membasahi pria baya itu. Ia tersenyum tulus pada sang putri.


"Mami." Ketuka pandangannya mengarah pada sang Mami yang ada di belakang Collin sembari membenamkan wajah di dada Yunus.


"Zeasy," ucapnya menghampiri gadis itu.

__ADS_1


"Mami nangis? Jelek tahu, Mi." Disaat-saat seperti ini, Zeasy masih bisa bercanda hangat pada sang Mami. Jarang-jarang bukan. Oh bukan jarang, tapi hampir tidak.


"Mami minta ma-"


"Gak perlu bilang, Mi. Aku sekarang ngerti kenapa Mami sibuk," ujarnya seolah sudah memahami sikap sang Mami dan menerimanya.


"Mami sama Om Yunus bahagia kan? Cepet-cepet kasih Si David ade, ya, Mi. Kasihan dia, kalau gak ada temen." Lalu Zeasy terkekeh. Hanya dia yang tertawa, semua bibir yang ada di sana seolah terkunci tidak bisa dibuka.


"Bi May," tegur Zeasy. Bi May menghampiri dengam isak tangis yang tertahan.


"Non Zeasy harus sembuh, ya, Non!" Barangkali hanya itu yang bisa Bi May ungkapkan. Semua kalimatnya terasa susah untuk diucapkan.


Zeasy hanya mengangguk.


Sampai pada mata itu melihat David dan Elang berdiri bersamaan. Zeasy lagi-lagi terkekeh.


"Gitu dong, gak usah berantem-berantem kaya tom and jerry. Adem kan gue lihatnya. Loe Dav, jangan tengil lagi jadi cowok. Jaga sahabat gue Rosy, ya. Gue yakin dia bakal jadi bahan jahilan loe nanti. Tapi gue juga gak yakin nantinya kalau loe gak bakal bucin sama tuh anak."


"Zeasy, aku-"


"Jagain Si Yiran. Gue yakin dia cewek baik buat loe!" ujarnya yakin. Walau hatinya merasa berdesir.


Tiba-tiba ...


"Zeasy!"


"Loe cewek paling jahat yang pernah gue kenal. Loe gak waras, loe gila, gue benci loe, Zeas. Gue benci! Tega loe gak kasih tahu gue. Loe anggap gue apa, heuh? Loe bukan sahabat gue, Zeas. Bukan!" Rosy membuka pintu ruang UGD dengan hentakan. Marah, sedih dan semua rasa bercampur aduk. Kecewa dan khawatir rasanya tidak bisa ia bedakan lagi.


Sedangkan Zeasy hanya tertawa hambar. Hatinya basah. Bagaimana bisa Zeasy pergi dengan tenang ketika melihat semua raut wajah yang ia sayang terluka karenanya.

__ADS_1


"Lebay, loe, Cy!"


"Kenapa loe gak bilang sama gue?"


Lalu semua orang membiarkan Rosy menyemburkan kekesalannya pad Zeasy. Membiarkan Rosy berada di ruang itu tanpa siapa pun yang mengganggunya.


Tapi ketika semua orang hendak keluar ruangan. Zeasy memanggil David. Dan menyuruhnya untuk tetap di sana.


Tentu saja itu membuat Elang merasa kecewa. Kenapa harus David? Kenapa bukan dirinya yang Zeasy biarkan menemaninya?


David duduk di brankar sisi Zeasy. Sedangkan Rosy berdiri di samping brankar gadis itu.


"Gue titip Rosy sama loe!"


"Loe ngomong apa sih?" sahut Rosy. "Loe nitipin gue sama dia? Ogah!"


"Dih ... siapa juga yang mau jaga barang macem loe, gunung kempes? Ogah juga gue! Loe gak bakal laku dijual!"


"Terserah loe berdua aja!" Zeasy mengurut pangkal hidungnya yang kembali berdenyut. "Gue mau tidur!" Lalu dipejamkan kembali kedua mata itu. Nafasnya mulai teratur. Tapi-


"Zeasy." Rosy mengguncangkan bahu sang sahabat pelan.


"Gue masih hidup, belum mati. Cuma tidur doang!" Gadis itu kembali membuka mata dan memberikan pelototan tajam pada Rosy.


Yang anehnya membuat Rosy dan David menghela nafas lega. Rosy kembali terpejam.


Sedangkan dari kaca pintu, Elang hanya menatap Zeasy dari luar sana. Melihat buku catatan hitam yang masih ada di genggaman tangannya. Ia baru separuhnya membaca isi dari catatan Zeasy itu. Lalu didekaplah buku itu.


TBC

__ADS_1


Curahan Seizy :


Aku lagi dengerin lagu Terdiam Sepi. Eh ... kok malah jadi kaya ambyar gini ya?


__ADS_2