![[RALAT] SYLPHY](https://asset.asean.biz.id/-ralat--sylphy.webp)
Karena bagian pengemasan ada di lantai dasar, itu membutuhkan waktu sekitar 6 menit dari ruang CEO menuju ruang pengemasan.
*9 menit kemudian
"Oke ehem k-kalian lagi ngapain? Boleh aku bantuin gak?" Ya gini Rong Rong udah mulai penyamarannya.
"Eh siapa kamu, Kelihatannya bukan pegawai. Kenapa kamu bisa ada di sini?" Tanya seorang pria yang sekitarnya berumur 30-an.
"Aku tadi di ajak mama ke sini, mama kerja di sini. Paman b-boleh bantuin gak aku?" Tanya Rong Rong yang sedang menyamar.
"Nak namamu siapa?" Tanya pegawai yang lainnya.
"Eh aku? Namaku Yiyi hihi." Memasang muka sok imut.
"Yaudah kalau gitu kamu bantuin bibi melakban kardus ini ya?"
"Emm baik bibi." Mendekat dan melakukan apa yang di suruh oleh bibi-bibi itu.
*Beberapa saat kemudian
"Aduhh kebelet pipis, bibi? Di sini kamar mandi wanita ada di mana?" Tanya Rong Rong.
"Yiyi jalan ke sana, lurus aja nanti kamu belok kiri dan sampai, sebelah kiri kamar mandinya." Buru-buru pergi.
"Ternyata baik-baik semua orang yang ada di sana, oke dehh kayaknya aku akan sedikit bosan nanti." Gumamnya dalam hati.
"Hey gadis culun." Terdengar suara paman-paman yang tadi bersamanya.
"Eh iya?"
"Kamu manis juga, mau tidak temani paman bermain?"
__ADS_1
"Bermain apa paman?" Sok polos padahal sudah menebak apa yang akan terjadi.
"Kita main kuda-kudaan,nanti bakal asyik kok. Kalau kamu udah bosen sama paman kamu bisa ganti sama om-om yang di belakang." Mendekat.
"Eh kayaknya asyik, ayok paman tapi di dalam ya aku malu kalau di liatin."
"Eh? Kamu suka main kuda-kudaan?"
"Suka paman, aku sering di ajak main sama papa tiri. Kata papa tiri kalau bisa hamil bisa punya dedek bayi hehe."
"Wahh gadis baik ayo kita ke dalam dan membuat bayi bersama-sama." Muka mesum.
"Paman pengen berapa dedek bayinya?"
"Kalau Yiyi kuat paman pengen 10 hehe."
*Tak lama kemudian setelah masuk ke dalam toilet.
"Jegrekk, brukh." Mereka melihat Yiyi si gadis culun sudah berubah seperti seorang mafia dan keluar menyeret paman tadi yang sudah berlumuran darah.
"Kamu kamu kamu."
"Haduhh sungguh merepotkan. Hey kalian jaga si mesum ini baik-baik." Ucap Rong Rong.
"Ehh p-pistolnya itu pistol milik CEO kita, jangan-jangan dia? Ampuni nyawa kami boss kami janji tidak akan melakukan hal mesum kepada karyawan lagi." Mereka semua menjadi gagap dan bersujud di hadapannya.
"Ah kalian tutup mulut ya, dan lagi bawa dia ke rumah sakit, sepertinya sebentar lagi dia tidak punya masa depan." Pergi meninggalkan mereka begitu saja.
"B-baik nona, terimakasih atas kebaikan nona."
Namun orang yang melihatnya masih saja gemetar, ternyata orang yang mereka hadapi itu adalah CEO Beru Yangs sangat kejam.
__ADS_1
"Huahh, aku pergi dulu aja dehh, mau pulang." Pergi lewat jalan pintas yang hanya di ketahui oleh beberapa orang.
Karena pekerjaannya sudah selesai dan ia juga bosan di perusahaan tersebut, Rong Rong memutuskan untuk segera pulang dan istirahat di rumah. Di karenakan dia hamil muda jadi dia mudah sekali kelelahan.
*Sesampainya di rumah
"Eh Rong Rong kamu udah pulang sayang?" Baru datang ia langsung di hampiri oleh suaminya.
"Iya nih sayaa... Brukk!" Tiba-tiba Rong Rong jatuh pingsan.
"Yang kamu kenapa ih? Mama papa tolongin sini cepetan!" Shi Xi berteriak sekencang mungkin.
"Ada apa Xi?"
"Ini mah Rong Rong tiba-tiba pingsan."
"Oh itu hal yang wajar kalau hamil muda fisiknya otomatis akan melemah, yaudah-yaudah bawa Rong Rong ke kamar."
"Eh iya ma." Menggendongnya menuju kamar.
Tak lama setelah Rong Rong pingsan iapun tersadar.
"Aduhh pusing banget. Eh sayang kenapa kamu tidur di sini?" Saat baru membuka matanya ia melihat Shi Xi yang tertidur di mantai sambil menggenggam tangannya.
"Ehh, sayang kamu udah mendingan? Mana yang sakit, apa masih pusing? Kalau masih pusing ayo ke rumah sakit aja." Khawatir.
"Udah kok yang udah mendingan, aku mandi dulu ya sayang."
"Eh pelan-pelan, aku tinggal ambil makanan dulu ya."
"Iya!"
__ADS_1
Suaminya yang sangat perhatian itu bergegas pergi menuju dapur dan mengambilkan makanan untuk di makan istrinya. Dia begitu khawatir meskipun Rong Rong hanya pingsan saja, mengingat bagaimana di kehidupan sebelumnya ia tidak pernah bisa mendapatkan cinta Rong Rong.