![[RALAT] SYLPHY](https://asset.asean.biz.id/-ralat--sylphy.webp)
Setelah membeli apa yang ingin mereka beli, Ning Rong Rong dan Mozun langsung pergi ke bandara untuk pulang. Mereka pulang mengendarai pesawat lagi agar lebih cepat sampai rumah. Sekitar pukul 13.00 siang pesawat yang di kemudikan oleh Ning Rong Rong lepas landas. Selama perjalanan tidak ada gangguan sama sekali, mereka mendarat pukul 13.40 siang. Segera mereka turun dari pesawat dan pulang ke rumah, namun kali ini berbeda saat mereka mau pulang,mereka di hadang oleh sekelompok pria bar-bar dan bertato dengan tubuh yang kekar tinggi.
"Hallo nona cantik." Sapa pria kekar tersebut.
"Ahh kamu siapa?" Bertanya sambil gemetaran layaknya gadis lemah.
"Tuan saya mohon jangan ganggu nona, nona hanyalah gadis lemah, uhhh!" Mozun yang berusaha membela Ning Rong Rong malah di pukul oleh pimpinan preman itu.
"Ahh Mozun apa kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka? Tunggu sebentar ya nanti aku akan membawamu ke rumah sakit." Ucap Rong Rong yang terlihat khawatir akan keadaan sekertarisnya.
"Aduh nona cantik, sayang sekali kalau di anggurin bagaimana kalau ikut dengan kami? Kami akan melakukannya dengan lembut nanti heheh!" Tidak hanya seorang preman ternyata orang yang menghadang mereka adalah pria cabul.
__ADS_1
"Ahh aku ini adalah seorang ibu dengan 2 anak, kasihan anak-anakku." Rong Rong tetap mempertahankan tampang yang polos dan lemah itu meskipun sudah greget ingin menghantam mereka semua hingga cacat.
"Aduhh ku pikir bakwan ternyata sate bakar, Ki pikir masih perawan ternyata sudah longgar haha." Ucap salah satu bawahan preman cabul itu.
"Wahh diam-diam Roni pandai bermain pantun ya haha." Bawahan yang lainnya pun ikut mengejek Rong Rong hingga membuatnya hilang kesabaran.
"Kalau kalian tidak mengenal siapa diriku tidak apa-apa tapi kalian pasti ingat dengan pistol ini kan? Bukankah pistol ini sangat manis? Apakah salah satu dari kalian ingin mencobanya? Tenang saja beban hidup hilang nyawa melayang!" Mengeluarkan pistol kecil andalannya dan wajah cantiknya seketika berubah menjadi menyeramkan bahkan orang-orang yang menghadangnya gemetaran.
"B-bos sepertinya kita masih ada kesempatan untuk hidup kalau kabur sekarang." Dan ya salah satu dari mereka ada yang mengenali pistol kecil tersebut.
"Bos pistol itu hanya ada 1 di dunia ini dan di desain oleh pemiliknya sendiri selaij orang yang kejam dan brutal ia tak akan memberi ampun kepada orang yang berani mengganggu sahabat maupun keluarganya. Ia pernah menjadi legenda dan menggetarkan seluruh dunia sekitar 12 tahun yang lalu. Dialah nona dengan IQ tertinggi 3 tahun yang lalu dan ratu di dunia pertinjuan Ning Rong Rong." Ucap bawahan preman cabul itu dengan jelas.
__ADS_1
"Apa? Bagai,, dorr!" Boss dari preman itu langsung di tembaknya tanpa ampun hingga tewas di tempat.
"Bagaimana? Bukankah suaranya imut?" Tatapannya yang begitu dingin dan kejam, setiap orang yang ada di sana ketakutan walau hanya menatap matanya karena menatap dirinya seperti menatap raja Hades.
"N-nona tolong ampuni kami! Dor dor dor!" 3 tembakan di luncurkan kepada orang yang bersujud memohon ampun padanya.
"Kamu, karena kamu tahu identitasku maka kamu aku biarkan hidup tapi kamu harus mematahkan kedua kakimu sendiri, atau kamu mau aku yang mematahkannya?" Meskipun cara yang di gunakan oleh Rong Rong kepada seseorang yang mengetahui identitasnya itu terlalu kuno, namun itu kebiasaannya saat di zaman dinasti dahulu.
"B-baiklah s-s-ssaya akan mematahkannya sendiri nona tidak perlu repot-repot. Krakk! Ahh sakit-sakit, krak! ahh aduhh sakit. N-nona apakah anda sudah bisa melepaskan saya?" Preman tersebut menuruti perkataan Rong Rong layaknya anjing yang menurut pada tuannya.
"Baiklah aku akan membunuh yang lainnya." Mengarahkan pistolnya kepada para preman kecuali yang mematahkan kedua kakinya tadi.
__ADS_1
"Dor dor dor! Aduh ah tolong! Dor! Nona ampun! Dor dor dor!" Suara tembakan terdengar nyaring di telinga Rong Rong dan semua premannya sudah mati sedangkan yang cacat melarikan diri ke rumah sakit.
Melihat Mozun yang masih pingsan ia langsung menggendongnya dan berjalan pergi meninggalkan bandara. Meskipun semua orang menatapnya karena heran ia tetap tak menghiraukan mereka semua, karena tujuannya sekarang adalah ke rumah sakit untuk mengobati luka Mozun. Tak lupa dengan pengawal bayangannya, Rong Rong langsung menghubungi mereka untuk membereskan kejadian di bandara dan meminta mereka mengurus agar tidak ada satupun berita tentang hal itu di internet. Ia sangat benci dengan gosip negatif apalagi hal itu menyangkut dirinya.