
Raya yang sudah siap memakai pakaian mendekati Gio, menciumnya perlahan dan mengusap lembut wajahnya.
Kemudian ia berkata terimakasih dan selamat tinggal, tak lupa ia juga meninggalkan cek yang sudah ditandatanganinya.
Raya tak tau kalau pria yang dikencaninya seorang konglomerat yang sedang menyamar.
*****
Raya bergegas pergi ke hotel tempat ia menginap dan menyusul kakaknya Kesya secepatnya. Kesya mengabarkan perusahaan keluarganya di Jakarta mengalami masalah.
Raya mengambil koper lalu mengganti pakaiannya dan langsung memesan taksi online lewat handphone-nya.
Setelah menunggu beberapa saat pesanannya tiba, ia langsung menaiki taksinya menuju bandara.
Dikamar lain,
Gio membuka matanya saat pintu kamar itu tertutup, ia tersenyum sinis mendengar apa yang diucapkan Raya sebelum pergi. Ia beranjak dari ranjang dan melihat ada darah di atas sprei yang mereka pergunakan untuk pergulatan semalam.
Kamu tidak bisa meninggalkan aku begitu saja gadis nakal" gumam Gio".
Ia menghubungi asistennya dan memerintahkan sesuatu untuk mengikuti gadis itu. Anak buah Ben langsung bergerak, sedangkan ia menjemput Gio di klub tempat semalam.
Gio segera membersihkan diri dan segera bersiap untuk kembali ke villanya. Ia menunggu kabar dari anak buahnya atas perintahnya.
Iapun masuk ke ruang kerjanya bersama Ben sang sahabat, asisten juga tangan kanannya. Ia selalu tersenyum membayangkan yang indah-indah bersama gadisnya semalam.
Ben melihat itu terheran-heran, melihatnya tersenyum.
__ADS_1
Kenapa kamu Gio? tanyanya.
Gio pun menceritakan gadis itu hingga mereka berakhir di ranjang yang panas.
Ben yang mendengar melongo dan terkejut pasalnya seorang Gio dengan rela di jamah oleh seorang gadis. Dan parahnya lagi ia dengan sukarela melepaskan keperja****nya untuk seorang gadis yang baru ditemuinya.
Selama ini, ia melihat Gio yang anti cewek apalagi mau berhubungan setelah dikhianati kekasihnya dulu menutup rapat-rapat hatinya.
Sekarang dengan mudahnya ia jatuh cinta, ah konyol sekali cinta.
Raya,
Setelah penyelidikannya gagal untuk yang kedua kalinya, Raya memutuskan langsung meninggalkan Aussie dan menyusul Kesya.
Dalam perjalanannya ke bandara mobil yang ditumpanginya diikuti oleh mobil lain, ada 2 mobil dibelakangnya yang mengejar.
Tak ingin terjadi sesuatu yang membahayakan sang sopir, Raya pun menghentikannya taksi itu dan berpesan pada sang sopir.
Mobil yang mengejarnya menyalipnya ke depan, dan taksinya mengerem mendadak.
Raya turun, melihat 4 pengawal berpakaian hitam.
Nona, mari ikut kami "ucap salah satu pengawal itu". Baiklah, tapi lepaskan taksi itu. Mereka mengangguk setuju.
Raya dengan sukarela berjalan bersama mereka, Ia ingin melihat sendiri siapa yang memerintahkannya. Saat akan masuk ke mobil salah satu pengawal memukul tengkuknya, Raya jatuh pingsan seketika.
Ia tersadar dan membuka matanya saat mendengar suara yang tak asing mengusik Indra pendengarannya. Ia duduk dengan tangan yang sudah terikat.
__ADS_1
Ini bukan markasnya, jadi ia masih punya kesempatan untuk kabur, pikirnya.
Apa kabar Raya Aurora Chaniago? Ucap Nick tegas dan tersenyum sinis.
Baik, sangat baik ucap Raya tanpa rasa takut.
Diruang itu terdapat Nick, Leon dan 4 orang anak anak buah Nick yang membawanya tadi pagi.
Wow, 3tahun tidak bertemu kamu semakin cantik saja.
Pasti uncle, aku cantik seperti bunda ku dan mata ku ini mirip dengan ayah ku kan uncle. Apa uncle ingat, "sindir Raya" sambil tersenyum sinis.
Nick menahan kesal dan menampar Raya hingga sudut bibirnya keluar darah.
Ck, Raya tertawa.
Apa segini saja kekuatan uncle sekarang? , uncle benar-benar lemah sekarang.
Raya berkata sambil mencoba membuka ikatan di belakangnya.
Kamu ? "geram Nick ingin menamparnya lagi.
Pukul lagi uncle, itu tak akan membuatku mati.
Nick mengurungkan niatnya yang ingin menamparnya lagi, ia mengambil pistol dari anak buahnya dan menodongkan senjata itu ke kepala Raya.
Leon yang melihatnya langsung berteriak, "no uncle" sambil menahan tangan Nick.
__ADS_1
*****