2Hati 1Cinta

2Hati 1Cinta
20. Sadar


__ADS_3

"Saya saja dokter, apa bisa?" ucap Gio.


"Maaf tuan, kita bisa memeriksanya terlebih dahulu?" jawab sang dokter.


"Golongan darah saya Golden Blood Rhesus null dok" ucap Gio.


*****


Dokter terperanjat saat mendengarnya.


"Baiklah tuan, kita cek dulu" ucap dokter.


Mari ikuti saya untuk memeriksanya, kalau memenuhi persyaratan maka kita langsung bisa lakukan transfusi untuk pasien.


Gio yang mendengar penjelasan dokter hanya mengangguk paham dan mengikutinya.


Setelah dicek dan memenuhi syarat untuk menjadi pendonor, Gio melakukan transfusi untuk mengambil darahnya.


Dua kantong darah sudah terisi, Gio langsung menuju ruang perawatan VVIP tempat Raya dipindahkan.


Ia duduk disebelah bed Raya dan menggenggam tangannya.


Melihat kondisinya yang masih pucat , ia masih tertidur karena efek obat bius saat operasi.


Bersama Ben dia berada di ruangan itu, mereka menempatkan anak buahnya di beberapa tempat dan pengawal untuk menjaga ruangan itu.


"Aku tak bisa percaya, gadis ini bukan orang sembarangan?" tanya Ben.


"Apalagi aku" gumam Gio lirih.


Apakah ia sebatang kara ? apa gadis ini punya musuh hingga bisa tertembak ? dimana keluarganya ? dalam hati Gio hanya berucap.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong soal golongan darah, Rayden juga sama mempunyai golongan darah yang bisa dibilang langka" ucap Gio.


"Benar Gio" Ben membenarkan perkataan Gio.


"Terus, selanjutnya apa rencana kita?" tanyanya lagi.


Gio hanya melihat Ben dan mengangkat bahunya.


Kita tunggu sampai dia sadar, aku tak akan melepaskannya.


Kata dokter dia seorang pemakai yang sudah kecanduan, aku akan membawanya untuk rehab.


"Kenapa dia bisa tertembak? Siapa musuhnya?" tanya Ben pada Gio.


"Kaki tanganmu belum mencari informasi Ben?" tanyanya.


Belum ada laporan masuk, tapi aku sudah memberi perintah.


Aku sudah menghubungi Rayden, hanya dia yang bisa kita andalkan saat ini.


Rayden juga yang tau persembunyian dia.


Kita tak menyangka Rayden ada lawannya, seorang gadis kecil.


Benar apa katamu Ben, Rayden yang membuat program untuk sistem keamanan di perusahaan saja bisa ia bobol.


"Ia juga meninggalkan cek kosong untukku" kenang Gio sambil tersenyum.


Aku rasa aku jatuh cinta padanya, aku menyukainya dan nyaman saat berada di dekatnya.


Berbeda saat bersama Michelle, aku muak dengan sikapnya yang penuh dengan kepura-puraan. Jelas Gio.

__ADS_1


Ya, aku bisa melihatnya dari matamu.


Kamu selalu menatapnya tanpa kedip, kamu sekarang juga banyak tersenyum dan ada kepedulian mu buatnya. Ungkap Ben.


Setelah sadar, aku akan bicara pada dokter. Kita akan membawanya pulang ke Indonesia.


Kita sudah tau siapa yang menyebabkan perusahaan merugi, kita juga tau siapa dalang yang masuk ke markas kita.


Jadi kita tak perlu berlama-lama disini.


Kamu nanti urus anak buah mu Ben untuk selalu memantau markas persembunyian musuh.


Selama mereka tak mengusik markas, kita biarkan dulu mereka.


Saat waktunya tiba, kita akan menyerangnya.


Kita meminta bantuan Rayden saja.


"Gio tersenyum membayangkannya".


"Baiklah" ucap Ben sambil mengangguk.


"Aku pergi dulu, aku urus semua" ucap Ben langsung berdiri dan meninggalkan ruangan.


Gio yang merasakan lelah langsung naik ke ranjang Raya, ia ikut merebahkan tubuhnya menyamping dan menatap gadis cantik ini.


Gio tersenyum dan perlahan menutup matanya.


Dua jam tertidur, ia terbangun saat merasakan pergerakan di sampingnya.


Gio memencet tombol samping bed, beberapa saat dokter beserta perawat datang memeriksa kondisi Raya.

__ADS_1


*****


__ADS_2