
Mereka berjalan keluar meninggalkan kafe.
Hingga ponsel Rara berdering dan menghentikan langkahnya.
Gio yang berada didekatnya juga ikut berhenti.
Ia melihat no baru dan ia mengangkatnya.
"Halo Raya, kamu bahagia sudah bertemu kakakmu Rayden Chaniago atau Rayden Putra?!" ucapnya tertawa keras.
"Ucapkan selamat tinggal karena sebentar lagi kakakmu akan menyusul kedua orang tuamu" sambungnya tertawa lagi dan dor.
Sambungan terputus.
Rara panik dan mengejar kakaknya yang sudah berjalan keluar.
*****
Rara berlari, ia berhenti sejenak dan melihat dari atas gedung tinggi diseberang jalan ada penembak yang mengarahkan senjata ke arah kepala kakaknya.
"Kak Ayden, tidak" teriaknya berlari berhambur kearah Rayden.
Rayden terkejut mendengar teriakan Rara, ia berbalik saat Rara berhambur memeluk erat hingga mereka terdorong dan jatuh.
Gio yang tak sempat memegang tangan Rara ikut berlari, hingga akhirnya terdengar bunyi tembakan.
Dor..dor..
Mereka semua menunduk dan mencari tempat berlindung.
Ben menghubungi pengawalnya kirim bantuan kafe F4.
Rayden tak merasakan pergerakan sang adik, ia melihat dan tangannya menyentuh adiknya sudah bersimbah darah.
"Ra, bangun Ra jangan tinggalin kakak sendirian" ucapnya histeris menyentuh pipi mulus adiknya.
Saski yang melihatnya segera mengambil mobil dan mengendarai mendekati Rayden.
"Ray, cepat kesini" teriak Saski menyadarkannya.
__ADS_1
Rayden membopong masuk ke dalam mobil.
Saski langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Rumah Sakit.
"Siapkan ruangan" ucapnya saat panggilan diputuskan secara sepihak.
Saski menghubungi RS yang masih milik keluarganya untuk menyiapkan ruangan yang akan digunakan untuk operasi.
Rayden menekan perut sebelah kiri Rara agar bisa menghentikan darahnya.
Saat mendorong Rayden, Rara tertembak dibagian perutnya.
Kejadiannya begitu cepat hingga Rayden tak bisa melindungi adiknya.
Disisi lain, bantuan datang dan dengan cepat mereka berhasil mengejar mobil yang sudah menembak Rara.
"Tangkap hidup-hidup dan bawa ke markas." Perintah Gio pada pengawalnya.
"Selidiki semua, sisir tempat ini dan gedung yang berada di sebelah jalan. Beri aku laporan secepatnya." perintahnya dengan tegas.
Gio dan Ben langsung menyusul ke Rumah Sakit, Gio menyesal kenapa dia tidak memegang tangan Rara saat berlari.
Sesampainya di Rumah sakit Rayden membopong tubuh Rara dan meletakkan ke atas brankar yang sudah disiapkan.
Mereka lalu membawanya ke UGD.
Rayden menarik tangan Saksi, ia memeluknya.
"Tolong selamatkan adikku" pintanya dan mengusap air matanya yang keluar.
"Akan aku usahakan, kamu yang kuat Ray" lirih Saski sedih melihat Rayden saat tak berdaya.
Saski langsung kembali memeluknya dan mengusap halus pundak Rayden.
Ia masuk ke dalam dan mempersiapkan diri untuk melakukan operasi.
Selang dua puluh lima menit, Gio dan Ben datang dengan berlari lari menuju UGD. Mereka melihat Rayden yang berjalan mondar-mandir di depan ruangan.
Gio menepuk pundak Rayden pelan, Maaf Ray aku tidak bisa melindungi Rara.
__ADS_1
"Tapi aku janji akan menangkap pelakunya" ucapnya penuh sesal.
"Tidak Gio, ini salahku tak bisa menjaganya" isaknya kembali meneteskan air matanya.
Dua jam menunggu, tapi lampu belum berubah warna.
Pintu terbuka seorang perawat datang menghampiri, "Dengan keluarga pasien?" tanya nya melihat kami semua.
"Iya suster kami keluarganya, ada apa ya" ucap kami serempak.
"Pasien banyak kehilangan darah dan saat ini membutuhkan pendonor, apakah ada yang bersedia?!" tanyanya lagi.
"Saya saja sus, periksa aja golongan darah saya sama dengan pasien" ucap Rayden semangat.
"Baiklah mari ikut saya" jawabnya.
Setelah menunggu lima jam, lampu operasi berubah menjadi hijau.
Pintu terbuka dan Saski keluar dengan raut wajah yang lelah.
"Saski gimana adikku" cecarnya tak sabar.
Mereka membawa brankar Rara untuk dipindahkan ke ruang perawatan intensif.
"Ayo ke ruangan ku semua" jawabnya datar.
Mereka mengikuti Saski masuk ke dalam ruangannya.
Mereka duduk dan mendengar penjelasan Saski.
Saski mengatur napasnya pelan saat akan berbicara.
"Aku berhasil mengeluarkan pelurunya, saat ini keadaan belum stabil. Pelurunya tidak mengenai bagian vital dan beruntung kandungan Rara masih bisa diselamatkan walaupun sangat lemah" ucapnya panjang lebar.
"Apa, Rara hamil Saski?" ucap Gio tak percaya.
Aku jadi seorang Ayah, ungkapnya bahagia.
*****
__ADS_1