2Hati 1Cinta

2Hati 1Cinta
24. Tak Sengaja


__ADS_3

Aku bisa membantu, jika kamu mau." ucap Rayden tak tega melihatnya.


"Benarkah?" tanyanya seakan tak percaya.


Gio langsung berdiri mendekati Rayden dan memeluknya.


"Aku mau" ucap Gio semangat.


*****


"Aku mau lihat rekaman cctv di apartemen" ucapnya pada Gio.


Gio mengambil iPad yang berada di meja kerja lalu memberikannya ke Rayden.


Rayden melihat dan mengamati gadis yang membuat sahabatnya bisa sekacau sekarang.


Deg..


Rayden diam, didalam hatinya ia merasakan jantungnya berdetak dengan cepat. Ia merasa ada sesuatu saat melihat gadis itu.


Ben dan Gio yang melihat Rayden melamun, menepuk pundaknya hingga Rayden tersadar kembali.


"Ray, kenapa kau diam jangan berpikir kamu tertarik dengannya?" gumamnya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Dia milikku" tambahnya lalu merebut iPad yang dipegang Rayden.


"Apaan sih Gio?" jawabnya kesal main ambil iPad dari tangannya.


"Mau dibantu mencarinya gak?" ucapnya tak mau kalah.


"Iya mau, tapi lihatnya biasa aja" ucapnya dengan sinis.


"Ish, apaan sih ga jelas banget" balasnya tak kalah seru.


Ben yang melihat mereka berdua jadi heran, kalian kenapa?.


Jangan kekanakan gitu, ayo kita duduk dan kamu Ray cepat bergerak.

__ADS_1


"Baiklah" jawab mereka serempak.


Apartemen Kesya.


Saat ini Raya dan Kesya berada dalam unit apartemen nya, mereka sudah memiliki rencana sejak awal.


Raya yang tahu Perusahaan Chaniago saat ini mengalami masalah, mereka langsung bergerak cepat.


Kesya menghubungi ponsel Rio asisten pribadi ayahnya Raya.


"Selamat siang Tuan Rio bisa kita bertemu, ada hal penting yang ingin saya sampaikan" ucap Kesya sopan.


"Maaf nona anda siapa? saat ini saya sibuk!" jawab Rio malas.


"Ini menyangkut masalah Perusahaan yang saat ini anda pimpin, temui saya di cafe XX jam 12 siang ini" ucap Kesya tegas sambil mengakhiri panggilannya.


"Bagaimana kak?" tanya Raya penasaran.


"Ah, uncle mu itu sok sibuk" jawabnya asal. Tapi yang pasti aku sudah memberitahukan tempat kita ingin bertemu dengannya.


***


Tepat pukul 12, Rio beserta sekretarisnya menuju cafe tempat yang disebut penelpon tadi.


Rio berjalan mengamati seseorang, hingga ada pelayan yang memanggilnya.


"Tuan Rio " ucap pelayan menunduk.


"Iya benar, jawabnya pada pelayan itu.


"Maaf tuan anda sudah ditunggu, mari saya antar" ucapnya lagi sambil mempersilahkan.


Rio beserta sekretarisnya mengikuti pelayan menunju ruang VIP.


Bertepatan Rayden beserta asistennya yang keluar dari ruangan usai menemui kliennya.


Mereka berpapasan, Rio melihat Rayden sekilas. Dia berhenti berjalan dan menatap Rayden.

__ADS_1


Rayden yang tahu bahwa unclenya menatapnya hanya menunduk dan jalan tanpa melihatnya.


Maaf uncle, aku belum bisa menemui mu.


Rayden tau Perusahaan keluarganya mengalami masalah, diam-diam ia juga mengetahuinya dan membantu mencari bukti kecurangan yang dilakukan karyawan uncle nya.


"Tuan Rio" panggilnya sambil membukakan pintu membuat ia tersadar.


"Ah iya, terimakasih nona" jawabnya sopan.


Rio mengedarkan pandangan saat melihat ada dua wanita yang masih muda. Ia menatap seorang gadis yang mirip dengan anak Tuannya yang sudah tewas 10 tahun lalu.


Ehem..


"Kenalkan saya Kesya" ucapnya sambil mengulurkan tangannya.


Rio pun menyambut uluran tangan Kesya.


"Rio" ucapnya memperkenalkan diri.


"Mari silahkan duduk Tuan Rio" cicitnya ke Rio.


Ia tak menyangka asisten ayah Raya seorang lelaki tampan.


"Ah iya" balasnya datar.


"Sebelumnya saya minta maaf Tuan, bolehkah kita berbicara empat mata saja" ucap Raya tegas.


Rio menyuruh sekretarisnya keluar ruangan, dan Kesya menyusul dibelakangnya.


Tinggallah Rio dengan Raya, hening sejenak dan Raya berhambur ke pelukan Rio.


Rio terkejut..



__ADS_1


__ADS_2