
"Ah da**" ucapnya sambil pergi.
Raya kembali ke apartemennya, karena merasa lelah ia meninggalkan mobilnya.
Ia memilih mencari taksi.
Gio yang ditinggalkan sendiri berdiri terpaku.
Ia memanggil pelayan dan memesan minuman beralkohol.
Gio mulai meminumnya, baru dua gelas ia teguk membuat kepalanya pusing.
Gio yang tak pernah minum alkohol langsung mabuk.
Ia berteriak-teriak memanggil Raya.
"Raya, Raya..." teriaknya sambil meminum langsung dari botol.
Tega kamu Ra..
*****
Didalam taksi yang ditumpanginya, Raya gelisah teringat perkataan Gio padanya.
"Pak, tolong putar balik ke tempat tadi" ucapnya memberi perintah.
"Iya nona" jawab pak supir memutar kemudi.
"Pak, tunggu sebentar ya" ucap Raya sopan.
"Iya nona" jawabnya sambil mengangguk.
Raya masuk kembali ke tempat semula, ia mencari Gio apa masih berada di sana atau tidak.
Raya mendekati meja yang ia tempati sebelumnya dan menemukan Gio mabuk berteriak-teriak memanggil namanya.
__ADS_1
Raya menghela napas, kemudian mendekati Gio memegang tangannya.
Ia menoleh saat ada tangan yang menyentuhnya.
"Ra, kau kembali" rancaunya sambil tertawa.
Raya mengangkat dan memapah tubuh Gio yang berjalan sempoyongan.
Mereka keluar dan meninggalkan tempat itu.
Raya membuka pintu, ia masuk ke dalam taksi yang menunggunya sejak tadi.
"Jalan pak" ucap Raya memperlihatkan alamat yang akan dituju.
"Baik nona" jawabnya sambil mulai menjalankan mobil.
Sesampainya ke alamat yang dituju, Raya memberikan uang lebih pada sopir taksi itu.
Ia dibantu security memapah Gio sampai lantai 10.
"Terimakasih pak, sudah membantu" ucapnya sopan.
Raya memasukkan password apartemen Gio, dengan susah payah membawa masuk ke kamar.
Merebahkan tubuh Gio ke ranjang dan melepaskan alas kakinya.
Ia juga menganti pakaian Gio yang terkena muntahannya.
"Ra, jangan tinggalkan aku." racaunya tak bisa diam. Ia menarik tangan Raya hingga terduduk di samping ranjang Gio.
Raya mengelus kepalanya hingga Gio tertidur dengan nyenyak.
Raya membuka ponselnya dan mengetik pesan sebelum akhirnya terkirim.
Melihat Gio yang sudah nyenyak, Raya segera turun menuju ruang tamu.
__ADS_1
Ia duduk memainkan ponselnya bertepatan pintu dibuka dari luar.
Nampak lelaki yang sering bersama dengan Gio, Raya menundukkan kepalanya.
Saat akan berdiri Raya melihat ada lelaki lain yang berada di belakangnya tanpa berkedip, ia merasakan jantungnya berdetak dua kali lipat seperti mengingat sesuatu yang tak asing dari lelaki tersebut.
Lelaki itu Rayden, dia melihat Raya menatapnya tanpa berkedip.
"Ehem" dehemnya membuat Raya tersadar.
Secepatnya ia memalingkan pandangannya dan langsung berjalan ke arah pintu.
Raya berpamitan pulang saat itu, Ben melarangnya karena hari sudah larut.
Raya menolak karena akan ada yang menjemputnya.
Ben pun tak bisa mencegahnya lagi.
Raya berjalan melewati Rayden dengan napas tertahan, begitu juga dengan Rayden yang menahan debaran saat Raya melewatinya.
Ben yang melihat Rayden terdiam menjadi heran.
"Kenapa muka lu Ray, tegang banget?!" ucapnya menggoda menaik-turunkan alisnya.
"Ga pernah lihat gadis cantik ya?" godanya lagi.
"Apaan sih, rese amat" jawabnya dingin.
"Jangan bilang lu tertarik ma gebetan Gio, bisa gila dia ntar!" ucapnya tertawa.
"Kasian juga Saski udah lama naksir, malah lu PHPin aja" tawanya meledak memegang perutnya.
Rayden langsung melempar bantal sofa yang ada di dekatnya ke arah Ben yang sedang menertawakannya.
Raiden kembali termenung, ia terdiam sejenak berpikir gadis itu sekilas mirip dengan adiknya waktu kecil.
__ADS_1
Senyum samar yang terlihat Rayden, benar-benar mirip adiknya Rara.
*****