
Rayden langsung memeluknya erat dan menangis.
"Rara adikku!" ucapnya sambil mencium keningnya.
Ia tak percaya adiknya masih hidup.
"Kak ayden, iya ini Rara adik kecilmu kak" ucapnya menangis terharu membalas pelukan sang kakak.
Gio diam, meneteskan air matanya.
*****
Rayden melepas pelukannya, ia menatap Rara lalu ia bertanya.
"Tapi gimana kamu tahu dek kalau aku kakakmu ?" tanyanya heran tak percaya kalau adiknya bisa mengenalinya.
"Kakak ingat semalam yang kakak hadapi itu adalah aku." ucapnya sambil cengar-cengir menghapus air matanya.
"Ya ampun Ra ternyata ga berubah, selain tambah cantik hebat juga !" ujar Rayden bertepuk tangan.
"Rara memasang beberapa kamera kecil di ruangan kakak" ujarnya.
"Really" ucap Rayden tak percaya.
"Yupz"
Rara mastiin aja kak, ada tatto yang pernah Bunda tunjukkin dulu.
Waktu pertama bertemu, Rara merasa tak asing dengan wajah kakak walaupun tambah ganteng sih tapi melihat mata kakak mirip mata Bunda Rara yakin itu kak Ayden.
Rara dari semalam bingung, gimana caranya ngomong kalau Rara ini adik kak Ayden.
Ucapnya panjang lebar sambil memeluk kakaknya.
"Ya ampun Ra, cerdik Banget sih!" ucap Rayden bangga sambil mengacak-acak rambut Rara.
"Iya dong, Rara hebat kan kak" ucapnya menyombongkan diri.
Rayden kembali memeluk erat, ia bahagia saat mengetahui adik kandungnya masih hidup.
__ADS_1
Kak, ada sesuatu yang pengen Rara omongin tapi jangan disini ya.
Kita ke mansion utama kak, Bagaimana ? tanya Rara sambil menautkan tangannya ke tangan Rayden.
"Mansion?" tanyanya sedikit heran.
"Iya, kakak ga ingin bertemu Uncle Rio?" ucap Rara pelan.
Uncle pasti senang, dia mencari informasi saat tak sengaja melihat kakak setiap hari berada di jalan ujung depan mansion.
Kakak itu seolah tak tersentuh, uncle tak bisa mendekati kakak.
"Ck, kakak merasa belum saatnya saja Ra, jika tiba waktunya kakak juga mau menemui uncle" ucapnya lirih.
"Ayolah kita kesana, ada yang ingin kakak sampaikan ke uncle!" ajaknya sambil merangkul Rara.
"Baiklah kak, let's go" ucapnya semangat.
Mereka berjalan keluar, saat keduanya berbalik Ben juga Saski sudah di depan mereka.
"Ehem ehem "teriak saski terlihat cemburu melihat kemesraan yang dilakukan Rayden.
"Apa ga ada yang harus dijelaskan?" ucapnya melihat Rayden.
Ben yang mendengar Saski cemburu hanya menahan tawanya.
Dia pun heran, sejak kapan Rayden sedekat itu dengan gadis yang Gio suka, pikir Ben dalam diam.
Rara bingung melihat kakaknya terdiam dihadapkan pada situasi ini.
Rayden sendiri hanya bersikap datar membuat Saski memajukan bibirnya dan menghentakkan kakinya.
Sedangkan Gio yang awalnya cemburu, setelah mengetahui kebenaran ia segera menghampiri.
Gio langsung memeluk Rara.
Rayden heran kenapa tiba-tiba dia memeluk adiknya.
"Apakah ia sedekat itu dengan Rara ?" gumam Rayden dalam hati hanya memicingkan matanya.
__ADS_1
Rayden yang mendengar omelan Saski langsung menutup mulutnya dengan bibirnya membuat Saski terdiam dan matanya membulat sempurna.
Jantung mereka berdebar lebih cepat.
Mereka bertiga melihat sikap Rayden hanya bisa terpana menyaksikannya.
Mereka semua berdehem.
Saski tersadar dan menarik baju Rayden untuk menghentikannya.
Rayden pun tersadar akan kelakuannya dan menghentikan ciumannya.
Mereka jadi salah tingkah dan bersikap canggung.
Rayden mengajak Rara pergi, ia menarik tangannya tapi Gio menahannya.
"Biarkan dia bersamaku" ucap Gio posesif.
"Apaan sih?!" jawabnya sambil menarik tangan Rara.
"Biar Rara sama Gio kak" lirih Rara mengelus tangan Rayden.
Mereka berjalan keluar meninggalkan kafe.
Hingga ponsel Rara berdering dan menghentikan langkahnya.
Gio yang berada didekatnya juga ikut berhenti.
Ia melihat no baru dan ia mengangkatnya.
"Halo Raya, kamu bahagia sudah bertemu kakakmu Rayden Chaniago atau Rayden Putra?!" ucapnya tertawa keras.
"Ucapkan selamat tinggal karena sebentar lagi kakakmu akan menyusul kedua orang tuamu" sambungnya tertawa lagi dan dor.
Sambungan terputus.
Rara panik dan mengejar kakaknya yang sudah berjalan keluar.
*****
__ADS_1