
"Maksudmu Carter grup perusahaan mu?" tanya Raya terkejut.
Gio tersenyum, lalu mengangguk.
Kita ke Indonesia saat kondisimu pulih.
Raya hanya melongo mendengarnya.
*****
"Bagaimana bisa terkena peluru?" tanya Gio penasaran.
Raya hanya tersenyum tanpa menjawab. Ia tak mau melibatkan orang lain dalam masalahnya.
"Kenapa kamu bisa menemukan ku" tanyanya pada Gio.
Ia mengalihkan pembicaraan agar Gio tak bertanya lebih tentang masalah yang dialaminya.
"aku mencari mu!" jawab Gio.
Aku datang kesini mencari orang yang berusaha menghancurkan perusahaan ku. Tak taunya orang yang aku cari berada dekat denganku.
"Maaf" ucap Raya menyesal.
Aku hanya menjalankan pekerjaanku tapi aku bisa memperbaikinya jika kamu mengijinkan ku.
Sudahlah sebaiknya kamu istirahat, jangan pikirkan itu lagi.
"Aku akan menjagamu" bisik Leon mengecup bibir Raya sekilas.
Raya yang terkejut refleks langsung memukul dada ya.
"Akh sakit Ra !" ucapnya sambil mengelus dada.
Tiba-tiba hidung Raya mengeluarkan darah lagi, ia mulai merasakan sakitnya lagi.
Gio yang melihat langsung panik dia ingin memencet tombol, tapi tangan Raya mencegahnya.
"Aku baik-baik saja" ucapnya pelan
"Tapi Ra kamu berdarah lagi!" ucapnya panik.
__ADS_1
Aku bisa menahan, aku juga ingin bersih terbebas darinya.
Tak apa aku menahan sedikit sakit ini.
Mendengar itu Gio menurut dan bergegas naik ke bed, ia langsung masuk kedalam selimut yang Raya pakai.
Gio memeluk tubuhnya, memasukkan kepalanya ke dalam ceruk leher Raya.
Raya merasakan sedikit ketenangan dan menghangat tubuhnya. Ia mulai memejamkan mata saat berada di samping Gio.
Lima hari setelah dirawat, keadaan Raya mulai membaik walau masih menyisakan nyeri di bagian perutnya.
Gio membawa serta Raya untuk kembali ke Indonesia.
Raya menurut saat dibawanya, karena memang tujuan Raya menyusul Kesya dan iapun juga merindukan kampung halaman.
Gio tidak tau bahwa Raya asli dari sana.
Tiba di Jakarta, mereka dijemput oleh pengawal pribadi.
"Langsung apartemen" ucapnya tegas pada pengawalnya.
"Indonesia, aku kembali" ucapnya dalam hati.
Raya hanya diam memperhatikan mereka.
Raya melihat pemandangan dari luar jendela mobil, samar-samar ia mengingat masa kecilnya.
Jalan yang dilaluinya menuju apartemen Gio, melewati jalan mansion keluarganya.
Aku rindu Ayah, Bunda, Kak Ayden. Ia meneteskan air mata buru-buru ia menyekanya agar gio tak mengetahuinya.
Gio menggenggam tangan Raya dan mengelusnya.
Raya menyandarkan kepalanya di dada Gio lalu tangannya masuk ke pinggang Gio dan memeluknya.
Gio pun mengecup keningnya.
Hingga tiba di apartemen mewahnya, ia menggendongnya menuju kamar atas.
"Turunkan aku Gio" rengek Raya malu.
__ADS_1
"Biar aku gendong sampai atas" jawabnya lembut.
Gio menurunkan Raya begitu sampai kamarnya.
Aku siapkan air hangat dulu, Gio beranjak menuju toilet.
"Gio aku bisa sendiri" ucapnya sambil mengerucut.
"Biar aku memakai shower" lanjutnya lagi.
Lagipula aku sudah sembuh.
"Baiklah" ucap Gio mengalah.
"Aku sudah menyiapkan semuanya di sana !" katanya sambil menunjuk.
"Iya" ucapnya sambil mengangguk.
Ia melangkah menuju toilet untuk membersihkan diri.
Gio ke balkon menghubungi seseorang.
Bagaimana? sudah ada penyelidikan?.
Lakukan sesuatu secepatnya, tegasnya sambil menutup ponselnya.
Ia bergegas turun untuk memasak sesuatu di dapur.
Gio hanya menyuruh orang untuk membersihkan apartemennya saat ia bekerja.
Ia tak ingin privasinya diganggu.
Gio lebih memilih tinggal di apartemen daripada di mansion keluarga ataupun mansion miliknya.
Raya yang mencium bau masakan, langsung turun menuju dapur. Perutnya menjadi lapar ingin segera diisi.
Begitu turun, ia melihat Gio yang sedang memasak. Ia tersenyum melihatnya.
Melihat perlakuan lembut yang diberikan Gio selama ini membuatnya bisa jatuh cinta.
*****
__ADS_1