2Hati 1Cinta

2Hati 1Cinta
28. Dapat


__ADS_3

Rayden kembali termenung, ia terdiam sejenak berpikir gadis itu sekilas mirip dengan adiknya waktu kecil.


Senyum samar yang terlihat Rayden, benar-benar mirip adiknya Rara.


*****


POV Raya


Saat melewatinya, ia melihat sosok kakak lelakinya yang selalu melindungi saat kecil dulu.


Saat membuka pintu, Raya berhenti dan menengok belakang.


Walaupun 10 tahun tak pernah bertemu, tapi ia merasakan kehangatan walau hanya sesaat mendekat.


Raya menuju ke dalam mobil yang menjemputnya, pengawal yang Uncle Rio kirim membukakan pintu belakang dan mempersilahkan Nona mudanya masuk.


Raya hanya diam dan memikirkan bagaimana cara mengungkap identitasnya.


Ia yakin kalau lelaki yang ditemuinya tadi memang kakaknya.


"Paman kita ke alamat ini" perintahnya pada sopirnya.


"Baik nona " jawabnya sambil mengangguk.


"Halo, kirim kamera kecil yang bisa dihubungkan dengan ponsel sekarang, aku kirim alamatnya!" ucapnya tegas.


Raya mengetik sesuatu lalu mengirimnya.


Tiga puluh menit perjalanan untuk sampai ke apartemen Rayden.


Raya turun, ia menyuruh pengawalnya untuk kembali ke mansion utama.


Raya menemui orang suruhannya dan mengambil barang yang ia minta.

__ADS_1


Raya segera naik ke lantai 9, ia memasukkan password dan Bip pintu terbuka.


Sebelum bergerak Raya mematikan kamera tersembunyi di apartemen itu.


Dia mencari ruang kontrol yang terhubung pada CCTV tapi tidak ada, Raya mendekati laptop yang ada di ruang kerja.


Ia meretas dan memanipulasinya.


Raya meletakkan kamera tersembunyi yang ia bawa di beberapa tempat yang mencakup satu ruangan.


Tak lupa ia juga meletakkan kamera di ruang kerja ini, Raya dengan rasa ingin tahu yang tinggi membuka semua laci dan berkas yang ada dimeja.


Ia mengingat kakaknya orang yang teliti dan cermat, jadi apa yang Raya ambil dia akan meletakkan kembali seperti semula tanpa merubah tata letaknya.


Raya keluar ruang dan mencari kamar tidur.


Ia meletakan satu didalam kamar satu lagi di walk in closed.


Ia ingin memastikan kalau lelaki itu sang kakak tersayangnya.


Masih tinggal satu kamera, ia meletakkan diruang tamu.


Raya beranjak keluar dan menyembunyikan di tempat yang aman dari pandangan mata.


Saat selesai, terdengar pintu dibuka dari luar. Raya bersembunyi di dinding pembatas antara dapur dengan ruang santai.


"Ck, decaknya" umpatnya berpikir kenapa ia malah pulang.


Ia menghirup napas dalam dan mengeluarkan dengan sangat perlahan.


Tak terdengar gerakan kaki, Raya mengintip dan bugh.


Hampir Raya terkena pukulan yang tiba-tiba diarahkan ke wajahnya kalau ia tidak menghindar.

__ADS_1


Raya mundur, mancari ancang-ancang untuk menendangnya.


Rayden berhasil menghindar.


Mereka pun adu jotos, hingga berlangsung 15 menit tanpa henti.


Raya memukul perut Rayden tapi tangan Raya ditangkapnya dan Rayden mengunci gerakan Raya.


Raya yang memekik saat gerakannya dikunci sedikit berteriak kesakitan.


Rayden mendengarnya dan langsung melepaskannya.


Dalam keadaan gelap, ia tak menyangka akan bertarung dengan seorang wanita.


"Siapa kamu?" tanyanya geram.


Raya melihat ada kesempatan tak menyia-nyiakannya.


Ia langsung berlari menuju pintu dengan cepat.


Rayden tidak mengejarnya, karena percuma yang dia lawan seorang wanita.


Rayden menuju ruang kerja dan menghidupkan komputernya di meja kerja.


Ia menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


"Siapa dia?" gumamnya dalam hati. Apa ia orang yang sama?.


Tapi aku merasa tak punya masalah dengannya.


Atau ada yang menyuruhnya?.


Rayden berdiri meninggalkan ruang kerja menuju kamarnya.

__ADS_1


Ia...


*****


__ADS_2