
Siapa dia?" gumamnya dalam hati. Apa ia orang yang sama?.
Tapi aku merasa tak punya masalah dengannya.
Atau ada yang menyuruhnya?.
Rayden berdiri meninggalkan ruang kerja menuju kamarnya.
Ia...
*****
Ia berjalan ke kamar lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Tak perlu waktu lama ia keluar hanya memakai celana boxer dan bertelanjang dada.
Ia merebahkan tubuhnya yang lelah setelah aktifitas seharian.
Matanya terpejam dan akhirnya terlelap.
Di apartemen, Raya memantau ponselnya yang menghubungkan kamera apartemen sang pengacara yang ia pasang .
Ia dapat melihat tatto yang berada di bagian punggung Rayden.
Saat gambar itu si zoom, ia seakan tak percaya jika kakaknya masih hidup.
Raya bahagia, menangis terharu saat mengetahui kebenaran.
Raya tak sabar ingin segera menemuinya, menunggu matahari datang.
Ia merebahkan tubuhnya, memejamkan matanya tak lama Raya membuka matanya.
Ia tak bisa terlelap hanya berguling-guling di ranjangnya, walaupun saat ini ia merasakan sakit kepala, ia menahannya.
Mungkin ini efek dirinya tak memakai atau menyuntikkan obat ke dalam tubuhnya. Pikirnya lama kelamaan ia tertidur.
__ADS_1
Pagi menjelang
Rayden terbangun saat ponselnya berdering, ia mengangkat panggilan dari Ben.
"Ok, seperti biasa" ucapnya lalu memejamkan matanya.
Ia masih memikirkan kejadian semalam, tidak mungkin wanita yang menutupi sebagian wajahnya menggunakan masker itu masuk ke apartemennya hanya diam saja.
Karena Rayden tidak menemukan barangnya ada yang hilang.
Apa yang sebenarnya ia cari disini ?
Rayden bangun setelah lama berpikir, ia bersiap akan mengunjungi kafe setelah berkutat dengan iPad nya dan mencari sesuatu di sana tapi tak menemukannya.
Raya berada di parkiran basemen apartemen kakaknya.
Ya, ia sudah tak sabar ingin memeluk kakaknya, mengobati kerinduan yang selama ini tak dirasakannya.
Raya tak menyangka kakaknya masih hidup.
Raya mengurungkan niatnya menemui Rayden.
Ia mengikuti mobil kakaknya dan berhenti disebuah kafe.
Rayden turun dan masuk kedalam kafe untuk berkumpul dengan para sahabat.
Raya keluar dan langsung mengejar kakaknya, ia berteriak tak peduli orang disekitarnya.
"Kakak, kak Ayden sambil memeluknya dari belakang !".
Di saat Raya memeluk Rayden di sudut ruang, Gio yang habis dari toilet melihatnya.
"Apa-apaan mereka?" umpat Gio mengepalkan tangannya melihat Raya yang memeluk Rayden membuatnya cemburu.
Ia tak tahu apa yang Raya lakukan terhadap Rayden.
__ADS_1
Gio mendekati mereka yang tidak menyadari kehadirannya.
Gio berhenti saat Raya mengucapkan sesuatu pada Rayden.
"Kakak, kak ayden ini Rara kak adikmu!" ucapnya lirih sambil meneteskan air mata.
Rayden terdiam, masih mencerna apa yang didengar.
Rayden melepas pelukannya dan membalik badannya dihadapan Raya, ia tak langsung mempercayainya.
Rayden menarik tangan Raya membawanya di sebuah lorong yang terhubung dengan ruangan VIP. Gio diam-diam mengikuti mereka.
Tanpa melepaskan tangan Raya, ia bertanya untuk memastikan apa yang ia dengar barusan.
"Apa maksudmu?" tegas Rayden tak percaya.
"Kak Ayden, ini Rara adik kecilmu!".
Rara membuka kancing bagian atas, ia menggulung rambutnya ke atas dengan asal dan memperlihatkan sesuatu di belakang bagian leher nya ke Rayden.
Gio yang melihat apa yang dilakukan Rara ke Rayden terkejut mendengarnya.
Rayden melihat ada tanda dibelakang lehernya, tanda yang sama yang adiknya miliki.
Rayden langsung memeluknya erat dan menangis.
"Rara adikku!" ucapnya sambil mencium keningnya.
Ia tak percaya adiknya masih hidup.
"Kak ayden, iya ini Rara adik kecilmu kak" ucapnya menangis terharu membalas pelukan sang kakak.
Gio diam, meneteskan air matanya.
*****
__ADS_1