2Hati 1Cinta

2Hati 1Cinta
19. Menemukanya


__ADS_3

Deg.


Perasaan Gio semakin gelisah mendengarnya.


*****


Ditempat Raya..


Raya menembak anak buah Nick tepat sasaran, tapi peluru Raya tinggal satu.


Ia harus bisa membidik Nick, ia tak punya urusan dengan Leon jadi ia tak akan melukai Leon.


Nick mengambil senjata anak buahnya dan menembak asal agar Raya keluar dari tempat persembunyiannya.


Ia keluar sambil mengendap-endap agar tak ketauan dan ia langsung menendang Nick hingga tersungkur.


Senjata yang dipegang Nick jatuh di dekat Leon.


Nick yang kesakitan hanya bisa terduduk.


Leon mengambilnya dengan tangan gemetar.


"Habisi dia Leon?" ucap Nick padanya.


Raya yang berdiri menodongkan senjata ke arah Nick hanya melihat Leon dan tersenyum miring ke arahnya.


"No uncle, aku masih mencintainya" jawab Leon padanya.


"Kamu bisa dapatkan wanita yang lebih dari dia" ucapnya lagi.


"Akan kuberikan saham di perusahaan ku" ucap Nick memastikan.


"Jadikan aku ketua di organisasi Uncle" jawab Leon menawar.


"Baiklah" ujarnya pada Leon.


"Benarkah? Uncle tidak bohong kan" tanya Leon memastikannya.


"Iya benar" ucapnya mencoba memastikan.


"Cepat tarik pelatuknya" ucapnya yang sudah tak sabar lagi.

__ADS_1


Ia mengangguk dan menarik pelatuknya.


"Caca maafin aku" ucapnya penuh sesal.


Ia menembak asal Caca.


Leon yang tidak pernah memegang senjata pun menembak mengenai perut kiri Caca.


Dor, dor bersamaan Raya yang menembak Nick meleset hanya mengenai bahunya saja.


"Ah" pekik Nick.


Ia memegang bahu yang terkena tembakan, walau hanya menyerempet ia meringis kesakitan.


Leon menembak lagi ke arah Caca, beruntung peluru Leon habis.


Raya mendekati Leon dengan memegang perutnya yang terluka, Leon mundur ke belakang.


Raya langsung menendang aset Leon dengan keras, ia kesakitan tak bisa berdiri dan Raya mencengkeram kerah bajunya lalu mendorongnya ke belakang.


"Nikmati deritamu" ucap Raya.


Ia berdiri menekan perutnya yang banyak mengeluarkan darah.


Ia berjalan mencari mobil yang lewat, saat dari jauh ia melihat mobil lalu berjalan ke tengah untuk menghentikannya.


Sebelum mobil mendekat ia sudah jatuh tak sadarkan diri.


Didalam mobil Gio melihatnya dan berteriak.


"Awas Ben" ucap Gio khawatir.


Ben langsung menginjak rem mendadak hingga berbunyi.


Ckitt...


Hampir saja, ucap Ben sambil mengelus dadanya.


Mereka keluar dari mobil dan melihatnya, saat didekati Gio terkejut.


Mereka menemukannya, tapi gadis itu terkena luka tembak dan mengeluarkan banyak darah.

__ADS_1


Gio mengangkat tubuhnya dan langsung membawanya masuk ke mobil.


Ben yang tanggap langsung segera meluncur ke RS terdekat.


Sampai RS, Gio yang dibantu Ben dan petugas meletakkannya ke brankar menuju ruang operasi untuk mengambil peluru yang bersarang diperutnya.


Dua jam menunggu, akhirnya pintu ruangan terbuka.


"Bagaimana operasinya dok?" tanya Gio.


Mari ikut ke ruangan saya Tuan, Gio mengikuti dokter keruangan nya.


Sebelum melangkah ia berbalik dan memerintahkan Ben untuk menjaganya.


Ia tak mau kejadian sebelumnya terulang lagi.


Setelah masuk ruangan dokter, Gio duduk didepan dokter


"Bagaimana kondisinya dok?"


Operasi pasien berhasil, kami berhasil mengeluarkan peluru di dalam perutnya.


Tapi peluru itu mengenai bagian organ penting dan mengakibatkan pendarahan.


Saat ini pasien membutuhkan donor, di rumah sakit ini golongan darah yang dibutuhkan menipis.


Kami pihak RS sudah berkoordinasi dengan RS lain jika ada persediaan darah yang tersedia, tapi saat ini memang sedang kosong.


Kami membutuhkan paling tidak lima kantong darah saat ini tersedia tiga dan masih membutuhkan dua kantong lagi.


Pasien membutuhkan golongan darah AB Rhesus negatif.


"Apakah ada pihak keluarga atau kerabatnya yang bisa menjadi pendonornya?" ucap dokter bertanya.


"Saya saja dokter, apa bisa?" ucap Gio.


"Maaf tuan, kita bisa memeriksanya terlebih dahulu?" jawab sang dokter.


"Golongan darah saya Golden Blood Rhesus null dok" ucap Gio.


*****

__ADS_1


__ADS_2