
flashback
Raya yang samar-samar mendengar pembicaraan dokter dengan Gio mengenai kondisinya saat ini.
Dokter menyarankan rehabilitas, dan memberikan resep obat yang harus ditebus.
Dia berpikir bagaimana cara meninggalkan rumah yang ternyata villa milik Gio, ia tak tau bahwa pria ini ternyata orang yang berkuasa.
Terlihat dari kamar yang ditempatinya dan banyak penjagaan di sekitarnya.
Raya terlelap setelah lelah berpikir untuk kabur dari villa ini.
Raya terbangun saat merasakan tubuhnya menggigil, ia mematikan suhu ruangannya.
Ia merasa gelisah dan merasakan kesakitan.
Dua hari Raya tak memakai barang itu, membuatnya benar-benar tersiksa.
Raya mencoba mencari sesuatu dikamar yang ditempatinya, semua barang diobrak-abrik.
Tapi nihil, gak ada yang dicarinya.
Ia melihat vas kecil di meja dan memecahkannya, ia langsung mengambilnya.
Melihat pintu yang terbuka, Raya dengan cepat menyembunyikan dibelakang tubuhnya.
Gio yang melihatnya langsung menghampirinya.
Ia mendekati Raya dan langsung memeluk, merebut pecahan vas itu dan mengambilnya.
Raya yang tak mempunyai tenaga lagi hanya bisa pasrah.
Gio mengetahuinya lewat kamera tersembunyi yang berada di kamarnya.
"Apa yang kamu lakukan girl ?" tanyanya lembut.
Raya menatap wajah Gio, membalas pelukan hangat dan menyandarkan kepalanya di dadanya.
Gio kembali merasakan debaran, jantungnya berdetak lebih cepat membuat Raya tersenyum dalam pelukan Gio.
__ADS_1
"Aku tersiksa, rasanya benar-benar sakit" ucap raya pelan. Bisakah kamu menemaniku malam ini ? tanyanya lagi.
"Baiklah" jawab Gio tersenyum.
*****
Raya hanya diam saat senjata itu diarahkan ke kepalanya.
Nick dan Leon melihat dan mengernyit heran melihat Raya tak ada rasa takut.
Ikatan Raya sudah terbuka, dengan gerakan cepat Raya berdiri dan merebut senjata yang Nick pegang.
Raya mengunci gerakan tangan Nick dan berganti posisi dengan mengarahkan senjata yang direbutnya ke arah jantung Nick.
Semuanya terkejut dan sesaat mereka terdiam melihat Raya.
Uncle, kau sudah tua dan tenaga mu berkurang banyak.
"Apa yang kalian lakukan?" geram Nick tak menyangka Raya menjadi hebat sekarang.
"Habisi dia" teriaknya lagi pada anak buahnya.
"Jangan salahkan aku uncle jika timah panas ini tembus ke jantung uncle" ancam Raya.
"Kau pasti hanya menggertak saja, mereka pasti akan menghabis**u" ucap Nick menekankan.
"Aku tak akan mati sebelum uncle menyusul kedua orang tuaku dan juga kakak ku" ucapnya keras.
Hahaha...
Nick tertawa lepas, tanpa mereka sadari Raya sudah melepaskan tembakannya ke anak buah Nick.
1 2 dan 3 langsung tewas seketika, 1 anak buah Nick berhasil lolos.
Sebelum Raya kabur, ia menembak satu kaki Nick.
Dor.
Darah segar mengucur, Nick menekan kakinya agar terhenti darahnya dan langsung membuka ikat pinggangnya lalu mengikatnya.
__ADS_1
Sedangkan Leon, ia sudah bersembunyi saat Raya melepaskan tembakan tadi.
Leon tertegun melihat Raya saat ini sudah banyak berubah.
Melihat Raya yang berhasil kabur membawa mobil.
Anak buah yang tersisa langsung memacu kendaraan dengan kencang.
Mereka berhasil mengejar Raya.
Menabrakkan mobilnya ke mobil yang di kendarai Raya, ia seperti Dejavu.
Raya berhasil menghindar dan langsung tancap gas.
Ia keluar dari mobil dan bersembunyi di balik pohon pinggir jalan.
Ditempat lain..
Anak buah Gio yang ditugaskan mengikuti Raya melaporkan apa yang terjadi dengannya.
Sedangkan yang lainnya mencari persembunyian orang ke alamat yang diberikan Rayden pun sudah berhasil melacak dan menemukan apa yang mereka cari.
Gio terkejut dan tak menyangka ternyata yang dia cari adalah gadis yang bersamanya.
Ia bukannya marah tapi tersenyum lebar mengetahuinya.
Gio kagum dengan gadis nakal itu, ia benar-benar senang.
Ben melihatnya dan hanya menggelengkan kepalanya.
Ben melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, Gio merengek seperti anak kecil memaksanya untuk cepat-cepat menemukannya.
Hingga tak lama mereka mendengar suara tembakan.
Deg.
Perasaan Gio semakin gelisah mendengarnya.
*****
__ADS_1