
" Selamat membaca
" Semoga kita semua sehat selalu
*
*
*
Hidupku memburuk!!
itulah yang terjadi saat ini pada diriku, kehidupan perkuliahan di kampus yang akan aku pikir lebih baik dari pada kejadian-kejadian di masa lalu. si Alexander playboy otak mesum terus menerus menerorku, selalu ada saja dia di semua tempat yang aku datangi seperti perpustakaan,lapangan basket,kantin dan bahkan pernah hampir masuk lagi ke dalam kosku jika aku tak bergegas masuk ke kamar.
__ADS_1
Siang ini, saat kebanyakan mahasiswa melihat pelombaan basket antar kampus untuk memberikan dukungan dia malah di kantin yang sama denganku. "Lo nggak mau ngasih dukungan juga buat pemain basket kita?! dia datang tanpa permisi menarik kursi dan duduk di depanku memperhatikanku yang sedang mengunyah bakso.
Hei...Lo dengar gue ngomong nggak sih?!! ujarnya, aku memutar bola mata dengan malas, "none of your business...." aku mengikuti kalimatnya beberapa hari yang lalu. Dia tersenyum miring, mau keluar bareng nggak?! tanyanya dengan tidak tau malu.
" Apa Lo pikir gue mau?! aku menggeser tubuhku ke arah kipas angin yang berputar di sampingku.
Dia malah tertawa, "enggak!!" jawabnya.
"Halo....." suara alexander bergema di dapanku bersamaan dengan suara "here's your perfect" yang berhenti. Aku melongo tidak percaya, jadi nada dering di ponsel kita sama, "here's your perfect" dari jemie Miller. Mataku masih tak berkedip memandangnya sedangkan dia tampak acuh saja karena percapakan di telfonnya.
"Lagi.....sama siapa......sendirian...?!" diam-diam aku memperhatikan raut wajahnya yang tegang. "Oke, aku kesana sekarang mematikan ponselnya sebelum matanya beralih menatapku dengan bingung. why?! what wrong?! dia mengedikan bahu mungkin merasa aneh karena menatapnya tanpa berkedip. "Lo nguping pembicaraan gue di telfon?! ujarnya. Dengan reflek aku menggeleng dan buru-buru membuang muka, no..nothing jawabku.
Dia tertawa, Oke!! mungkin hari ini gue nggak bisa ngajak lo jalan-jalan tapi gue pastikan suatu saat nanti gue akan berhasil ngajak lo pergi lalu dia beranjak dari duduknya. aku sih pura-pura nggak dengar biar dia pergi cepat-cepat. Bagas, Samuel lets go!! serunya mengajak ke dua temannya yang duduk di pojokan kantin dari tadi sambil melangkahkan kaki keluar kantin.
__ADS_1
Huff...aku menghela nafas lega, setidak hari ini aku tidak akan di ganggu dia lagi karena aku masih ada perkuliahan hingga sore nanti. Tak menunggu waktu lama, aku mengambil ponsel dan handset memasangkan di telingaku menajamkan mata meresapi lagu-lagu yang di putar ponselku, hingga akhirnya tepukan tangan menepuk pundakku.
"Intan, bisa minta tolong?! wajah ramah itu tersenyum padaku, begini tolong antarkan buku-buku ke qiana, aku nggak bisa ke sana karena aku menjadi panitia pertandingan basket sedangkan dia membutuhkan buku-buku ini sekarang kata inggit teman sekelasku saat dia menepuk pundakku beberapa waktu yang lalu.
Kita memang bukan sahabatan namun tak ada salahnya kan bagiku untuk menolongnya mengantarkan buku-buku tersebut ke rumah qiana karena toh aku juga lagi nggak sibuk juga. Dan sekarang, berbekal secarik kertas berisi alamat yang di berikan inggit padaku tadi aku menyusuri satu persatu perumahan elit. Rumah no 31 dengan bercat coklat dan yes ketemu!!!
Tanpa menunggu lama aku memencet bel kemudian pintu pagar berbahan kayu itu terbuka dan qiana muncul dari dalam. "Haii..intan.." i am so sorry...sudah ngerepotin kamu, aku pun tersenyum dan menyerahkan kardus berisi buku-buku tebal untuk qiana itu. No problem, gue lagi free kok jawabku, hmm..masuk dulu yuk ajak qiana kemudian. Aku menggeleng, enggak usah udah sore deh qi soalnya aku mau ngerjain tugas statistik tolakku halus.
"Hai kakak, baca maraton terus ya ceritaku, mohon dukungan ya..
Ragga D'Lory🥰🥰
terima kasih
__ADS_1