
hallo keluarga onlineku semuanya, apa kabar? semoga sehat ya. aku mau promo aja nih tentang ceritaku LET MEE FREE. menceritakan tentang duchess Alisia sama Grand Duke Nox albrataz ya, sekarang udah episode 35 lho. ayo ikuti kisah mereka ya.
bab 33
Nox gelisah menunggu Alisia saat mengetahui Alisia bertemu dengan putri celsia. Perasaannya tidak enak takut putri celsia menyakiti gadisnya.
Kereta kuda berlambang albrataz memasuki halaman, hingga turunlah pangeran Albert mengendong alisia di pelukannya, dia tertidur, kebiasaan buruknya itu masih belum berubah. Nox maju ingin mengambil alisia tapi seolah pangeran Albert tidak ingin memberikannya.
"Apa yang kau lakukan?" Ucap nox dingin.
"Kau sendiri, apa yang kau lakukan?" Balas pangeran Albert dingin.
"Dia istriku!!" Nox menegaskannya.
"Wah, wah, wah apa aku harus memberinya selamat padamu?" Sindir pangeran albert.
Elle turun dari kereta menepuk punggung pangeran albert dan memberi isyarat menggelengkan kepala untuk menyuruh pangeran Albert mengalah saja.
Akhirnya pangeran Albert menyerahkan alisia, melihat nox membawa Alisia masuk.
"Aku punya selama waktu 10 tahun" lirihnya.
"Seharusnya aku merebutnya ketika ada kesempatan" lanjutnya menyesalinya.
"Tapi waktu 10 tahun sudah berlalu, mengulang kembali belajar belum tentu ada yang berubah" Elle menepuk pundak pangeran Albert kembali.
"Kamu benar" pangeran Albert tertawa lalu mengacak rambut Elle.
"Oh iya Anna mengundangku untuk minum bersama apa kamu ingin ikut?" Ucap Albert.
"Tidak" jawab Elle.
"Yakin?" Tanya pangeran Albert.
"Kita tidak sedekat itu untuk minum bersama" tegas Elle.
"Hei bukannya kita berteman, seharusnya kamu bangga mempunyai teman setampan diriku" balas albert percaya diri.
"Katakan sekali lagi maka aku dengan senang hati akan menebas lehermu" sahut Elle serius sambil berlalu.
"Ayolah aku serius, kamu belum aku jadikan kesayanganku masih aman, bukan?" Albert mengejar Elle, membujuk Elle.
***
Nox menghembuskan nafas pelan, apalagi yang Alisia alami, sesuatu yang menyakitinya dan nox tetap tidak bisa berbuat apapun untuk itu.
"Nox?" Panggil Alisia saat membuka matanya.
"Ya aku disini" jawab nox mengelus rambut alisia.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak tidak bilang padaku bahwa menemui putri celsia?" Tanya nox tapi tidak di jawab Alisia.
"Perceraian itu...." Kalimat itu yang keluar dari mulut alisia.
.........sebaiknya mari kita lakukan" lirih Alisia.
Membuat nox terdiam, tangan Alisia menggenggam nox tapi hati terluka.
Kalimat itu........
Nox mengedipkan matanya seolah tidak percaya, lalu memandang Alisia penuh tanya. Sesuatu menyerangnya, merusak dirinya, bukan dengan pedang bukan juga dengan senjata tapi dengan kalimat yang mengerikan.
"Aku sudah dengar..." nada suara alisia pelan.
"Jenderal besar, para komandan militer dan orang-orang yang selama ini berpihak padamu berbalik arah ikut membencimu karena kamu bersamaku, aku memang seharusnya tidak bersamamu" lirih Alisia.
"Mereka menolak berbicara padamu, merendahkan dan mencoretmu dari kemiliteran kekaisaran karenaku" lanjut Alisia.
Aku tahu semuanya, nox bekerja keras bahkan mengorbankan nyawanya hanya untuk mendapatkan dirinya sendiri. kerja kerasnya selama 10 tahun akan hilang karenaku, sebab dia memilihku.
"Aku mohon jangan memilihku, pilihlah mereka, buatlah pilihan yang lebih baik, karena itu.......
.........ceraikan aku" suaraku tersedat, menangis menunduk sesegukan, hatiku terluka tapi ada yang lebih penting dari ini.
Brukk, nox menahan tubuhku, dia di atasku, membuatku mau tak mau memandangnya.
"Kenapa..." Suaranya bergetar, aku tahu dia merasa gelisah.
"Kamu bilang aku adalah pemeran utama di dalam novel itu, bukan?" Nox memajukan wajahnya mencium leherku, menghisapnya dan menggigitnya sedikit.
"Tapi kenapa....." Dia berpindah tempat menciumku membuatku merasakan nafasnya di setiap sentuhannya.
"Kenapa...kenapa kamu tidak membiarkan aku memutuskannya sendiri..." Tangan kirinya memegangi kedua pergelangan tanganku sedangkan tangan kanannya menarik bajuku menyingkir segala yang menurutnya menganggu.
"Katakan padaku Alisia..." Nox masih terus menciumku, membuatku sedikit mendesah.
Apa lagi dengan liarnya dia mencium dadaku, kedua puncak payu*daraku, menggigitnya dan memberi bekas kemerahan di mana-mana.
"Apa yang harus aku lakukan?" Nox kembali mencium bibirku sekilas lalu melanjutkan penjelajahannya menempelkan bibirnya di semua area tubuhku.
Menciumnya lalu menggigitnya dan menghisapnya serta memakanku dengan caranya membuat aku merasakan sensasi yang luar biasa.
"Apa yang harus aku lakukan padamu agar kamu tidak menceraikan aku?" Nox membuka kemeja putihnya memperlihatkan badan kekarnya, dadanya yang 8 kotak, ototnya yang tangguh membuatku...ugh...sedikit terangsang.
Sekuat apapun aku mendorongnya menjauh aku akan selalu menginginkannya. Aku lalu duduk di antara pahanya merasakan dirinya dalam jarak sedekat ini.
"Katakan kamu mencintaiku, katakan kamu hanya menginginkanku, katakan kamu tidak akan meninggalkanku.
"Ayo katakan semua itu" aku terus menangis, terisak-isak. Sekuat apa aku menahanya, sebesar apa aku bertindak, sejauh mana aku berpura-pura tidak terluka tapi aku tetaplah manusia biasa.
__ADS_1
Nox mengenggam erat tanganku, mencium lama tanganku lalu melihatku dengan tatapan...
"Aku mencintaimu" ucapnya.
"Aku hanya menginginkanmu" nox mencium bibirku.
"Aku tidak akan meninggalkanmu" nox menghisap leharku.
Lalu tangan bergerak membuka resleting gaunku membuatku te*lanjang sepenuhnya dan aku benar-benar merasa malu.
"Tolong percayalah padaku bahwa kamu satu-satunya yang aku mau di hidupku" ucap nox mengelus pelan pipiku. Aku tahu apa yang dia katakan saat ini adalah sesuatu yang ingin dia katakan dengan sungguh-sungguh.
Nox mencium bibirku untuk kesekian kalinya, memberikan jejaknya di badan polosku. Nox sedikit berdiri membuka cela*nanya lalu menarik celana da*lamku, mencium be*tisku, pa*haku, dan sedikit bermain disana membuatku kehilangan kata-kata.
Seluruh tubuhku memanas, setiap kali dia menyentuhku, menciumnya, mengigitnya, meninggalkan jejak menegaskan dia pemiliknya.
Wajah nox memanas karena hasrat, dia tidak bisa di hentikan, hasrat dan nafsu yang besar untuk memilikiku seutuhnya.
"Alisia....." Ciuman nox berhenti. Dia menatap mataku langsung dan mengelus rambutku.
"Ini kesempatan terakhirmu..." Bisiknya di telingaku.
"Tolak aku, dorong aku, menjauh dariku" lanjutnya. " Lakukan sekarang, sebelum....." Kalimatnya terhenti.
......sebelum aku tidak akan pernah melepaskanmu selamanya"
Aku melingkarkan tangan di lehernya, memajukan tubuhku, membiarkan kedua tubuh te*lanjang kami bersentuhan.
......jangan lepaskan aku" giliran aku yang berbisik di telinganya.
Membuat apa yang di bawah sana Teran*sang naik, ingin memasukiku secepat mungkin.
"Sial" suara nafas nox memberat. Nox langsung kembali menciumku, meraih payu*daraku memainkan dengan ahli membuatku kehilangan akal sehat hingga membuat bagian bawahku, basah sebasahnya.
Dia mencoba memasukiku pelan-pelan dan hati-hati, aku mende*sah dan kali ini agak sedikit keras hingga aku sedikit mencakar punggungnya, sakit, setetes air mataku keluar karena aku tidak tahu akan sesakit ini, nafasku dan nafasnya tidak beraturan. Kepala nox bersandar di pundakku seluruh tubuh kami mengeluarkan keringat serta mengeluarkan uap panas yang merang*sang segalanya.
Tubuhku sedikit gemetaran, nox menyadarinya dan dia tersenyum apalagi melihat sedikit darah yang keluar dari selang*kanganku.
"Kamu tahu.......
........malam ini masih panjang" ucapnya lalu tubuhnya bergerak, gerakan itu tidak sesederhana yang aku duga. Nafas dan de*sahan kami saling bersahut-sahutan.
Ini masih sedikit sakit, tapi anehnya aku sangat bahagia.
Nox kembali menciumku, berulang kali seolah dia tidak pernah akan berhenti. Nox kembali mengangkat tubuhku dengan mudah, apa dia tidak lelah?
"Alisia...aku mencintaimu, sangat mencintaimu" lirihnya.
Itu sebuah janji, aku tahu itu bukan pernyataan tapi sebuah janji, janjinya padaku.
__ADS_1
"Aku juga" balasku sambil mengikuti gerakan-gerakan liar dan tak terkendali dari nox.
Ah...nox benar. Malam ini masih sangat panjang.