
Younha sedang berkacak pinggang didepan cermin besar di kamarnya sambil memasangkan baju sederhana yang cocok dilihat saat pagi hari. Ia menyingkap satu persatu pakaian di lemari gantung enam pintu yang kesemuanya sudah terbuka lalu menghembuskan nafas tidak lega, ia bingung sebab semua pakaiannya terlalu berlebihan dan glamor tidak ada baju santai rumahan yang elegan.
Maklum, Younha wanita karir yang jarang di rumah. Pakaiannya kebanyakan stel kantoran dan dress acara.
Hingga senyum puasnya terukir lebar saat ia menemukan satu set pakaian yang ia harapkan, kemeja wanita sederhana dengan sedikit renda di lehernya. Warnanya juga apik, abu abu soft yang cocok dipadukan dengan celana kasual Navi. Tiba-tiba Younha tertawa sendiri, apa yang sedang ia lakukan? Batinnya. Hanya karena Jihoon mau datang dan menjemput anak-anak Younha berdandan seperti ini?
Drrttt... Drrttt...
Saat sedang asik bercermin, telefon masuk ke ponsel Younha yang berada diatas ranjang. Younha menghampiri, dan senyumnya makin lebar begitu tahu jika Jihoon yang menelfon.
"Sudah mau menjemput?" mulai Younha duduk dibibir ranjang masih menghadap cermin. "Anak-anak sudah siap."
"Ya, aku sedang perjalanan." Jawab Jihoon dari dalam mobil. Sebenarnya ia belum jalan, kini sedang diam diam menelfon Younha sembari menunggu Hyejin mengambil tasnya. "Hari ini kamu ada acara?"
"Kamu telfon hanya ingin bertanya itu?"
"Ya, hm, tidak.." Jihoon kelu, padahal ia ingin mendengar suara Younha. "Apa kamu santai?"
Mendengar pertanyaan ini Younha sedikit sombong. Apa Jihoon akan mengajaknya juga, tapi kemarin pria itu berkata ingin mengajak anak-anak, dan tidak menawarinya. Younha mencoba tenang, tidak ingin bertanya itu. "Sebenarnya June—"
"Jangan pergi dengannya." Decak Jihoon judes.
"Kenapa kamu sewot sekali?" Younha sedikit sebal walau bibirnya tersenyum. "Aku juga ingin berkencan dan punya teman tidur. Bosan sendirian terus."
"Hei!! Dijaga mulutnya." Jihoon meninju kemudinya sambil mengernyit. Ingin sekali membungkam mulut Younha yang tidak punya rem saat berkata. "Apa pantas wanita berkata seperti itu?"
"Apa urusanmu Pak Direktur? Aku tidak mencibirmu. Lagian siapa tahu June-ssi mau jadi ayah baru anak-anakku 'kan?"
"Younha!!" Geram Jihoon menaikkan suaranya. "AKU AYAH MEREKA JADI JANGAN COBA-COBA CARI AYAH YANG LAIN. MENGERTI!!."
__ADS_1
Tutt....
Jihoon memutus sambungannya sebelum mendengar omong kosong Younha lagi. Tiba-tiba hatinya ngilu, walau ia tahu Younha hanya bercanda tapi Jihoon benar benar tidak suka. Entah mengapa sulit untuk melepaskan Younha walau kini mereka memang sudah berpisah. Jihoon merasa bodoh lalu memakai dirinya sendiri.
Sedang dari pantulan cermin besar itu, Younha tiada henti senyum senyum sendiri. Sebagai mantan suami bersikap seperti itu bukankah aneh? Younha hanya bercanda tapi Jihoon nada bicaranya terdengar serius dan geram. Apa haknya melarang Younha untuk punya suami yang lain sedang dia dengan seenaknya bercumbu dengan kekasihnya?
Younha berfikir sejenak, apa Jihoon cemburu? Bukankah itu konyol?
...*****...
Lima belas menit Younha menunggu di lobi apartemen bersama Yeonjun dan Seojun. Anak-anak itu sudah rapi dengan pakaian santai untuk bermain, sedang Younha berpakaian sederhana elegan karena ia tidak ikut pergi. Tak berapa lama, sebuah mobil hitam mewah memasuki gerbang masuk apartemen. Sambil menggendong Seojun, ibu dua anak itu menata pakaiannya juga senyum terbaiknya.
Mobil berhenti tepat didepan mereka. Jihoon keluar dari dudukan supir, membuka kacamata hitamnya lalu melambai pada Yeonjun.
"Ayah!!" Seru Yeonjun memeluk sang ayah yang berjongkok. "Kata mama, ayah sibuk ya? Ayah jangan sibuk sibuk. Yeonjun rindu."
Jihoon mengecup pipi Yeonjun bergantian, lalu mengusuk kepalanya gemas. "Ayah juga rindu sekali sama Yeonjun. Wah, jagoan ayah wangi sekali. Ganteng juga sama seperti ayah ya." Ucap Jihoon sambil melirik Younha, sedikit mengejeknya.
"O-Oh, kalian akan jalan bersama anak-anak?" tukas Younha sedikit gagu, ia berusaha menata perasaannya. "Aku barusaja ingin bertanya siapa yang akan momong Seojun." lanjutnya tertawa sumbang. "Ternyata ada Hyejin, aku jadi tidak perlu khawatir tentang Seojun."
Jihoon mengulum bibir bawahnya canggung, sedang Hyejin kini berdiri di sampingnya sambil tersenyum manis seolah tidak ada masalah. "Maaf, tidak memberi tahu kalau—"
"Aku merindukan anak-anak." Sahut Hyejin cepat. "Apalagi si kecil Seojun ini, bolehkah aku menggendongnya?"
Younha hanya mengerjap cepat, tidak membalas ucapan Hyejin dan hanya menyerahkan Seojun tanpa ekspresi. Melihat bayinya digendong Hyejin dan Jihoon disampingnya, Younha mengerjap sendu. Mereka terlihat seperti keluarga bahagia, ia merasa bersalah jika berkeinginan untuk kembali pada Jihoon. Pria itu sudah punya kehidupan baru yang lebih baik, apakah Younha punya hak untuk merebutnya?
"Agak telat ya? Aku dan anak-anak menunggu agak lama."
"Ya, maaf." Tukas Jihoon datar. "Sejak pagi Hyejin mual dan pusing. Hormonnya juga tidak stabil. Dia kurang enak badan sebenarnya, tapi memaksa ikut karena rindu dengan Yeonjun dan Seojun."
__ADS_1
Hyejin tersenyum tipis pada Younha kemudian mengalihkan perhatian pada Seojun di gendongannya seolah mempresentasikan ucapan Jihoon. Lain dengan sisi Younha, mendengar kabar jika Hyejin mual dengan hormon tidak stabil membuat hati Younha seolah berteriak ricuh, pikirannya juga terbang kemana mana.
Younha mengulum bibirnya diam diam, perlahan pandangannya jatuh ke perut Hyejin yang masih rata, tertutupi dengan pakaian tebal. Apa mungkin mereka akan punya bayi?
"Oh, begitu ya." Patah Younha dengan kekehan sumbang. "Harusnya mas Jihoon ajak Hyejin istirahat saja, untuk bermain dengan anak-anak bisa diundur."
"Tak apa Younha." Hyejin berkata lembut. "Aku masih kuat kok jika menggendong Seojun seharian."
Younha semakin lemas, kalimat "Masih kuat" itu seolah mengisyaratkan jika Hyejin sedang berbadan dua. Ditambah kini Jihoon mengelus punggung Hyejin benar benar membuat dada Younha sesak. Tidak bisakah mereka melakukan itu saat tidak ada Younha? Ini terlalu jelas.
"Ayah!! Ayo berangkat!!! Yeonjun menekan klakson mobil Jihoon tidak sabar.
"Kami permisi dulu ya."
Younha hanya mengangguk. "Hati hati ya, Jangan pulang kemalaman—Yeonjun mudah mengantuk." Ucap Younha memberikan satu tas kecil perlengkapan bayi pada Hyejin. "Maaf jika Seojun rewel, ia sering bangun malam hari. Mungkin kamu akan lelah hari ini."
"Tidak perlu sungkan, aku sudah menyiapkan diri begitu tahu Yeonjun ingin menginap. Ada beberapa maid di apartemenku, mereka akan membantu." Hyejin tersenyum simpul. "Lagipula, Seojun juga anakku."
Deg! Kalimat itu menusuk jantung Younha, senyum getirnya sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Senyum Hyejin terlihat sangat tulus dan itu membawa kekhawatiran dibenak Younha.
Dengan hati tak karuan, Younha tetap menunggu mobil itu keluar dari kawasan apartemen sambil berdadah pada Yeonjun yang menyembulkan kepala lewat pintu mobil tengah. Lalu klakson mobil dibunyikan bersama tertutupnya jendela itu.
Setelah memastikan mobil itu benar-benar pergi, Younha berbalik menuju apartemennya lagi dan saat itu juga ponsel yang ia pegang bergetar karena satu pesan masuk. Dari Jihoon, bagaimana bisa pria itu mengetik pesan sambil mengemudi?
"Jangan berfikir lebih, Hyejin tidak hamil, hanya masuk angin dan kelelahan. Dia pakai kontrasepsi."
Younha tersenyum kecut, bermonolog sendiri. "Kenapa harus klarifikasi? Dasar bodoh!!"
Younha menghembuskan nafas panjang, walau sedikit lega tetap saja hatinya sesak. Tuhan, tolong beri kekuatan bagi hati kecil Younha.
__ADS_1
...*****...