
Mereka berjabat tangan pada dua orang kolega saat sampai didepan pintu kemudian pamit dengan ucapan terimakasih dari pemilik restoran. Jihoon dan Younha melanjutkan perjalanan ditengah terik kota Busan menuju rumah nenek Jihoon di kawasan pesisir pantai Haeundae. Untung dua kolega proposal jaraknya berdekatan sehingga tidak menghabiskan banyak waktu.
Setelah satu setengah jam lebih perjalanan, mereka sampai pukul tiga sore, dengan langit penuh gumpalan awan cantik dan sinar mentari menembus sela selanya—namun keindahan alam hari ini tidak bisa mempresentasikan perjalanan mereka yang penuh ketegangan dalam diam. Jihoon sesekali membuka obrolan dengan canggung, seperti menawari jajanan saat mereka mengisi bensin atau mengajak Younha istirahat sejenak sembari makan saat tiba di rest area terdekat. Younha lebih banyak diam, sangat berbeda ketika bertemu kolega tadi. Dia juga tidak banyak merespon, anggukan dan kata iya sudah cukup mewakili.
Mobil Jihoon terparkir didepan rumah sang nenek. Rumah dengan halaman asri dan sejuk dekat pantai Haeundae. Jihoon menyeret kopernya menuju pekarangan rumah dan diikuti Younha walau dengan langkah berat—menyiapkan keberanian dan senyum palsu untuk menghadapi sang nenek yang sudah melambaikan tangan di beranda rumah.
"Jihoonnie cucuku sudah sampai." Wanita lanjut usia itu memeluk Jihoon erat dengan tangan keriputnya. "Kamu sehat?"
"Jihoon sehat, Nek. Bagaimana dengan nenek sendiri?" Tanya balik Jihoon sembari melepas pelukan itu. Younha hanya melihat dalam diam, sambil merasakan angin pantai menyapu kulitnya.
"Seperti yang kamu lihat. Nenek sangat baik."
"Tapi aku pegal-pegal nek, aku menyetir dari Seoul ke Busan." Adu Jihoon yang malah mendapat pukulan dari sang nenek.
"Ih, kamu ini sudah tua 'kah? Begitu saja mengeluh."
Younha mengusuk lengannya dengan hembusan nafas, berapa lama lagi ia harus melihat drama nenek dengan cucunya. Dia juga lelah, pinggangnya pegal karena sejak pagi duduk rapat bersama kolega.
"Dan Younha, kemarilah." Wanita itu sedikit terhenyak saat sang nenek memanggil. Younha memajukan langkah dan langsung mendapat pelukan tanpa bertanya. "Bagaimana juga dengan kabarmu? Kita sudah lama tidak bertemu. Nenek merindukanmu."
Younha mengerjap. "Ah, aku juga baik Nek. Maaf Younha baru berkunjung sekarang."
Sang nenek merenggangkan pelukan lalu memegang kedua bahu Younha. "Kamu makin manis saja, Nenek jadi teringat Seojun. Bagaimana kabar cicit cicitku. Mereka juga baik 'kan? Seojun sudah bisa berjalan?—dan ya, Yeonjun pasti tambah besar sekarang. Mereka pasti sangat menggemaskan."
Wanita berambut putih itu meraih telapak tangan Younha kemudian, menggenggamnya erat dengan helaan nafas sebelum berkata lagi. "Pasti sulit untuk kalian."
Younha sedikit bingung, bertukar tatap dengan Jihoon yang berekspresi sama. Lalu pria itu mendengus dan memotong ucapan sang nenek dengan sopan sebelum merambat kemana mana.
"Nek, persilahkan kami masuk dulu. Kasihan Younha kedinginan begini." Lerainya.
"Astaga, kamu benar." Sang nenek menyapu rambut Younha lalu memberi jalan masuk menuju rumah. "Ayo masuk, nenek sudah masak banyak untuk Younha."
__ADS_1
"Hanya Younha?" Protes Jihoon. "Bagaimana denganku."
"Kamu mancing sana terus masak sendiri."
"Kejam." Gerutu Jihoon, walau tahu neneknya memang suka bercanda.
...*****...
Jihoon memiliki janji dengan teman remajanya di restoran Seafood dekat pesisir pantai Haeundae. Pantai yang menjadi kenangan indah masa remajanya saat pusing dengan urusan keluarga. Jihoon dan teman temannya adalah circle anak yang menanggung beban keluarga—mereka sudah dibebani tanggung jawab perusahaan sejak muda.
Sambil membalikkan tentakel gurita yang masih menggeliat di alat pemanggang dari restoran Seafood yang langsung berhadapan dengan pantai, sesekali Jihoon melirik Younha yang sedang asik berjalan dengan kaki telanjang di pinggiran pantai, membawanya ikut tersenyum dalam getir.
"Doyoung sudah lama pindah ke Swiss, Junkyu sedang tidak di Busan. Kamu juga mau datang kesini tidak bilang bilang. Untung penerbanganku ke Sydney masih tiga hari lagi—setidaknya kita bisa saling menyapa setelah sekian lama berpisah." Kata Seungmin menggoyangkan satu kaleng cola di tangannya.
"Kita saling sibuk, ya." Jihoon menjawab. "Apalagi Junkyu yang kini mempersiapkan pernikahan. Huh, bocah itu bahkan tidak sempat membalas pesanku."
"Kamu juga sama, apalagi setelah punya dua kurcil saat itu." Goda Seungmin diikuti kekehan kecil. "Ah, ternyata kau bajingan ya. Jika tahu akan seperti ini lebih baik biarkan saja Younha bersamaku, aku yang akan merawat wanita dengan hati selembut salju sepertinya."
"Aku mendengar dari Woojin, jika kamu akan menikah dengan sepupunya sekaligus putri komisaris perusahaan ayahmu itu?"
"Aku dan Hyejin belum merencanakan sejauh itu, sebenarnya." Sela Jihoon. "Menikah bukan perkara gampang."
"Memang tidak gampang jika hatimu masih tersangkut pada Younha, Ji." Seungmin menyahut sewot. "Jika kamu serius dengan Hyejin, maka percepatan pernikahan itu agar hatimu mantap dan tidak mudah oleng. Jangan hanya beri harapan apalagi kamu sudah sering menidurinya?" Seungmin merotasikan bola mata. "Brengsek sekali, harusnya nikahi dulu dia."
"Kupikir itu urusan pribadi."
"Memang urusan pribadi tapi bagi orang sepertimu harus disadarkan. Sekarang jelaskan, kenapa kamu datang ke Busan dengan mantan istrimu?" Nada bicara Seungmin menjadi dingin. "Berdua saja tidak masuk akal Ji untuk perjalanan bisnis. Atau kamu berniat rujuk dengannya?"
"Aku tidak tahu."
"Tidak tahu?" Seungmin mendelik. "Kukira aku akan mendapat jawaban mutlak seperti tidak yang mantap—tapi tidak tahu? Hei, sadarlah Jihoon apa yang kamu katakan."
__ADS_1
Jihoon menghela nafas panjang, apa dia juga harus bercerita bahwa selama dua tahun terakhir ini tidurnya tidak nyenyak dan selalu kepikiran hal yang ia rasa telah hilang. Namun semakin dia mengingatnya, hal itu tidak hilang ataupun pergi darinya—Jihoon merasa jika dia yang melepaskan dengan suka rela dan itu membawa penyesalan, mungkin.
"Menurutmu bagaimana dengan Younha?" Jihoon berkata lesu.
"Jika kau bertanya maka akan ku jawab, wanita baik dan cantik memang banyak di dunia." Pria itu berkata lirih untuk menyadarkan Jihoon. "Tapi, wanita sepertinya hanya ada satu. Younha sendiri."
"Jadi, kau bisa menjaga Younha?"
Seungmin tersedak minumannya, lalu memicingkan mata pada Jihoon yang menatapnya penuh arti. "Kau bercanda?"
"Aku cukup serius jika itu yang terbaik untuk Younha." Tukas Jihoon serius, namun ditanggapi dengan tawa kecil oleh Seungmin.
"Aku tidak mengerti, bodoh." Seungmin berdecak. "Katakan saja dengan gamblang, jangan berbelit seperti ini. Apa yang membuatmu masih menghawatirkan wanita itu dan peduli padanya padahal kalian sudah berpisah. Aneh sekali."
"Cinta dari Younha." Tukas Jihoon. "Aku begitu dalam dicintai, tapi ku sia siakan hingga aku sadar bahwa tidak ada yang hilang di hidupku —tapi aku yang membuangnya. Aku tidak menghargai cinta yang wanita itu korbankan untukku saat dia memilih berpisah dari Jinan dulu."
"Maksudmu, sekarang kau menyesal?" Satu alis Seungmin menukik.
"Bolehkah aku merasa begitu?" Jihoon semakin sendu. "Bolehkah aku merasa menyesal, Min?"
"Menyesal atau tidak, kini sudah tak berarti. Kau juga tidak akan bisa kembali padanya." Seungmin menggeleng. "Jangan lakukan kesalahan yang sama dua kali. Jika kau kembali pada Younha, itu sama saja menyakiti Hyejin seperti kamu menyakiti Younha waktu itu. Apa sekarang keahlianmu menyakiti hati orang yang mencintaimu?"
"Hyejin, aku mencintainya?" Gumam Jihoon dengan tatapan kosong.
"Jangan membuatku ikut bingung, Jihoon." Tegur Seungmin.
"Bagaimana aku mengatakannya?"
"Apa?"
"Hyejin itu...... meski aku mencintainya. Dia tidak bisa membuatku terbiasa."
__ADS_1
...*****...