
“Kita tidak pernah setegang ini sebelumnya. Aneh, kenapa masalah sepele menjadikan persahabatan kita seolah terhalang tembok besar?”
Woojin berkata sambil menatap tautan tangan Jihoon dan Younha di atas meja. Sekarang mereka sedang berada di kafe terdekat apartemen Younha untuk berbicara hal serius ini. Mereka bertiga berada di satu meja yang sama, Woojin berhadapan dengan Jihoon dan Younha disamping pria itu yang terus berusaha menarik tangannya dari cengkeraman Jihoon. Sementara anak-anak diemong bibi Saewa di taman.
“Aku tidak mengerti masalah mana yang kamu anggap sepele itu.” Kata Jihoon. “Jadi, bisa jelaskan?”
“Jihoon—“ Younha berusaha menarik tanganya lagi, tapi tetap gagal.
“Daripada menjelaskan, kenapa kita tidak saling bertukar cerita saja? Astaga, sudah berapa lama kita tidak berbicara seperti ini.” Woojin tersenyum. “Bisakah kalian melepaskan tangan, membuatku iri saja. Kamu terlalu sentimen Jihoon.”
Jihoon melepaskan cengkeraman tangannya perlahan, lalu Younha mengerakkan pergelangannya yang memerah sebab terlalu kuat dipegang.
“Kenapa aku terlihat paling mengenaskan disini?” Ujar Woojin. “Padahal aku datang untuk bertemu dengan Younha tapi kamu malah datang, Ji. Mengganggu saja.”
“Bicara seperti itu lagi, bogemanku siap melayang ke wajahmu.” Kata Jihoon menggebu-gebu, dia bahkan sudah mengangkat tangan sambil mengepalkannya. “Ku sarankan kamu pakai aplikasi pencari jodoh, agar tidak sembarangan mencuri pasangan orang lain.”
“Aku benar-benar akan mencuri Younha jika kamu tidak tobat dan datang lagi!” Woojin menunjuk wajah Jihoon.
“Astaga, anak ini perlu dijitak ternyata!”
“Sebentar!!” Younha memotong, dia menatap Jihoon dan Woojin seolah tidak percaya yang sedang dibicarakan dua pria itu. Kenapa Younha merasa sedang berada di lingkaran manusia gila? Younha pikir mereka akan bertengkar dan saling adu mulut, tapi melihat omongan keduanya yang sama-sama freak—Younha bingung mau takut atau bagaimana?
Dua orang ini tidak terlalu waras sepertinya.
“Ada apa dengan kalian?” Lanjutnya. “Apa yang barusaja kulihat?”
Woojin menghela napas kemudian tersenyum lebar penuh kelegaan. “Aku bersyukur kalian berbaikan dan kembali lagi. Masa depan Yeonjun dan Seojun akhirnya terselamatkan.”
“K-Kak Woojin tidak bercanda ‘kan?” Tanya Younha ragu.
“Tentu saja tidak.” Pria itu menautkan kesepuluh jemarinya diatas meja. “Sebenarnya aku datang untuk berpamitan. Hyejin akan kembali ke Korea besok, setelah itu kami akan mengembangkan perusahaan Ayah Hyejin di Jepang.” Woojin memicingkan matanya pada Jihoon. “Dia tidak ingin bertemu bajingan ini lagi katanya.”
“Aku cukup tersanjung.” Tukas Jihoon datar.
“Kalau begitu—aku boleh memeluk Younha ‘kan?” Seketika Jihoon dan Younha melotot pada Woojin yang sudah bangkit dari duduknya. “Aku ingin berpamitan.”
Jihoon mengangguk dan Woojin langsung meraih tubuh Younha untuk dipeluk erat sebelum pergi.
“Hiduplah dengan baik, Younha, berbahagialah di masa mendatang. Maaf karena aku pernah menjadi beban untuk hatimu. Aku akan sangat merindukanmu—"
Jihoon melepas tautan keduanya dan mengganti dengan tubuhnya. “Ya, aku juga akan merindukanmu.”
Dua sahabat itu saling mencubit dan memukul main-main sembari berpamitan dengan cara mereka. Younha ikut tersenyum melihatnya, setelah ini maka masalah diantara mereka telah tuntas dan terhapuskan. Bungkukannya pada Woojin menjadi wujud maaf saat melihat senyum miris pria itu, yang menahan hatinya sendiri antara rela dan terpaksa.
...*****...
__ADS_1
“Kamu masak banyak lagi?”
Jinan bertanya tanpa melepas fokus pada talenan, dia sedang memotong bawang Bombay tapi terlalu serius hingga dahinya berkerut. Mirae ikut gemas melihat suami yang biasanya memegang pistol atau laptop kini mengiris bawang dengan pisau kecil dan pelan sekali.
“Apa kamu mengundang rekanmu untuk makan bersama di apart kita?” Jinan bertanya lagi.
“Tidak.” Mirae terkekeh. “Aku masak semua ini sebagai permintaan maafku.”
Tangan Jinan seketika berhenti lalu menoleh pada sang istri. “Kenapa? Aku tidak merasa kamu berbuat salah. Minta maaf untuk apa?”
Mirae tidak menyahut. Dia menghela napas panjang sambil menyusun kalimat yang tepat untuk menjelaskan.
“Maaf karena aku terlalu egois dan menjauhkanmu dari Younha. Harusnya aku tidak perlu berlebihan seperti ini, aku salah jika menganggap suami yang tulus mencintaiku ini akan pergi hanya karena rasa cemburu.”
Jinan meletakkan pisau dan menggeser tubuhnya tepat di samping Mirae, kedua tanganya bertumpu pada meja bar dengan kepala miring menatap wajah cantik itu dari samping.
“Kamu tidak perlu minta maaf, aku yang salah karena tidak mengerti perasaanmu. Harusnya aku tahu batasan sehingga orang yang paling ku cintai ini tidak terluka.” Jinan menarik tangan Mirae tiba-tiba dan meletakkan di dadanya. “Pukul saja aku.”
Mirae tertawa gemas dan mendaratkan pukulan manjanya di dada sang suami yang makin lebar menyengir.
“Aku masak banyak untuk dibawa ke apartemen Younha.” Kata Mirae dan Jinan langsung melongo. “Kamu ingin ikut?”
“H-Hah?!”
“Oke, berarti kamu di rumah saja.”
“Merindukan mereka atau Mamanya?” Sindir Mirae dengan bercanda.
“Mamanya juga sedikit.” Jinan langsung tersentak ketika Mirae meraih pisau di tatakan dan mengarahkan padanya.
“Katakan sekali lagi!”
“Aku mencintaimu, hehe.”
...*****...
Yeonjun menggelitiki perut adiknya sampai terguling di karpet saking gemasnya. Barusaja menonton kartun hewan kanguru dan keduanya langsung berdebat, Seojun sewot jika kanguru punya empat kaki sedang sang kakak berkata jika kanguru punya dua tangan dan dua kaki. Selagi suara cekikikan itu bersahutan, bell unit terdengar dan membuat sepasang saudara itu bingung. Lalu mereka buru-buru berlomba siapa yang akan membuka pintu lebih dulu.
Setelah pintu terbuka dan manik kembar mereka langsung berbinar sebab yang pertama kali dilihat keduanya adalah wajah tampan Om yang paling mereka sayangi.
“OOM JINAN!!” Seojun berteriak.
“HEI BOCIL!!” Jinan balik berteriak, membuat Mirae mengusap telinganya yang tiba-tiba pengang.
“Ojun rinduuuu sama Oom Jinan!”
__ADS_1
“Wah, sama dong.”
“Suaramu kencang sekali.” Mirae menyela. “Hai, kakak Yeonjun!”
“Bibi Mirae!”
Mirae berlutut untuk memeluk Yeonjun dengan lembut sangat berbeda dengan Jinan yang langsung menggendong Seojun dan mengajak anak itu berbicara tentang dinosaurus atau planet lain, random sekali memang.
“Kakak apa kabar?”
“Baik,” Yeojun menunjukkan rendetan giginya. “Kenapa bibi Mirae tidak pernah mampir lagi?”
“Maaf ya, belakangan ini bibi Mirae sibuk.” Mirae tersenyum sumbang selagi mengusap rambut Yeonjun.
Wanita itu bangkit dan setelahnya sempat tertegun saat bersitatap dengan wajah datar Younha yang mematung diatas kakinya. Ekspresi Mirae segera melunak, apakah memutuk kontak selama satu minggu rasanya seperti bertahun tahun? Dia agak rindu.
“Hai, Younha.” Sapa Mirae kikuk, mungkin saja Younha juga marah padanya tapi yang wanita itu lakukan malah memeluknya erat-erat.
“Kenapa kalian mengabaikanku? Apa aku merepotkan? Kupikir kalian tidak mau bertemu denganku lagi.” Rentetan pertanyaan keluar begitu saja dari mulut Younha.
“Kamu tidak merepotkan sama sekali.” Mirae mengusap punggung Younha untuk ditenangkan. “Maaf telah mengabaikanmu.”
“Aku juga disini kalau kamu tidak lihat.” Tiba-tiba Jinan menyahut sewot.
Younha terkekeh sambil menyeka air mata yang keluar sendirinya. Dia tertawa tapi bibirnya melengkung ke bawah menggambarkan dua emosi yang bersatu. Younha meninju bahu Jinan dan memeluknya sejenak.
“Kupikir kamu mati!”
Jinan mendengus. “Kamu terlalu banyak berpikir.”
Mirae tertawa melihat Younha yang masih saja terkekeh tapi air matanya mengalir terus meski sudah ditepis beberapa kali.
“Ayo masuk.”
“Akhirnya dipersilahkan juga.” Jinan menghela napas lega. “Kukira kita akan reunian di lorong apartemen saja. Jihoon—ada?” Tanya Jinan celingukan mengintip kedalam unit Younha.
“Barusaja pulang. Kami tadi juga habis reunian dengan Woojin.”
“Kenapa tidak mengajakku?”
Mirae langsung mencubit lengan suaminya agar terdiam. “Banyak sekali pertanyaanmu! Ayo Younha kita masuk, aku sudah masak banyak untukmu.”
Mereka masuk bersama akhirnya. Jinan mengajak bermain tebak-tebakan hewan dengan Yeonjun dan Seojun sementara Mirae membantu Younha menyiapkan makanan.
Dalam hati, Younha bersyukur tiada tara, perlahan Tuhan memberikan Younha kesempatan untuk berbahagia setelah ujian Cinta-Nya.
__ADS_1
...*****...