About You : Cinta & Pengorbanan

About You : Cinta & Pengorbanan
Terkadang Pilihan Juga Sulit Dipilih


__ADS_3

"Pak Jihoon memang sering kelelahan akhir-akhir ini Bu Younha, beliau juga beberapa kali mendapat suntikan infus dan vitamin akibat terlalu lemah." Dokter pribadi Jihoon memberitahu Younha setelah keluar dari kamar.


"Terimakasih, Dok."


Younha membungkuk saat sang dokter pamit, setelah mengantar sampai pintu Younha segera masuk ke konter dapur hendak menyiapkan semangkuk es batu untuk mengompres Jihoon. Sambil tangannya bekerja, wanita itu mengalihkan perhatiannya pada Yeonjun dan Seojun yang duduk rapi di sofa sambil menautkan tangan mereka—raut wajah kedua anaknya terlihat begitu khawatir.


"Mama, apa kita bawa Ayah ke rumah sakit saja?" Tanya Yeonjun.


Younha tersenyum menenangkan. "Ayah hanya demam kok, cukup di kompres saja. Tadi juga Dokter sudah kesini dan memberikan obat, Ayah pasti cepat sembuh. Kakak dan Seojun jangan khawatir ya, selagi Mama merawat Ayah—kalian bisa jadi anak yang baik, 'kan?"


"Kami anak baik, Mama." Jawab Yeonjun manggut-manggut.


"Good." Younha menghampiri kedua putranya dan memberi kecupan masing-masing di pipi. "Tunggu disini, ya?"


Younha segera kembali ke kamar dan sempat terdiam saat melihat Jihoon sudah duduk sambil memegangi kepalanya, lagi-lagi pria itu melepas jarum infus sendiri hingga punggung tangannya berdarah karena sobek. Tungkai kecil Younha mendekati ranjang, duduk dipinggir dan menimbulkan pergerakan—mengalihkan atensi Jihoon.


Tanpa basa-basi Younha mengambil tangan Jihoon dan mengelap darah yang masih mengalir itu dengan tisu. "Sekali saja tolong pedulikan dirimu sendiri, jangan cabut infus hanya karena kamu tidak nyaman Jihoon."


Pria itu meringis ketika Younha menekan punggung tangannya, lalu beralih tatap pada wanita didepannya. Senyum Jihoon terulas tipis dari bibir pucat itu, menelisik wajah cantik di depannya seolah memastikan bahwa ini nyata, bukan mimpi belaka.


"Tiduran saja, aku akan mengompres dahimu." Younha menyuruh tapi Jihoon tidak menurut dan malah menarik tangan mungil itu untuk digenggam.


"Kita bisa bicara sekarang?"


"Lalu, kamu pikir aku sedang bicara dengan siapa sekarang?" Younha mendengus. "Jangan ngawur dan rebahkan tubuhmu segera."


"Aku mencintaimu." Tandas Jihoon tiba-tiba.


Younha memejamkan mata sejenak, napas panjangnya terhembus untuk menahan emosi.


"Selama ini aku terasa hidup tapi mati saat memikirkanmu. Aku tidak bisa makan dan tidur begitu teringat semua yang terjadi diantara kita dan aku hampir menyerah untuk semua itu, tapi—" Jihoon menggenggam tangan Younha makin erat, memaksa mata cantik wanita itu untuk menatapnya. —aku tahu hari seperti ini akan datang dan menjelaskan semuanya."


Younha menarik tangannya cepat lalu menggeleng. "Kamu tidak mencintaiku, Mas. Cinta yang kamu maksudkan itu hanya bentuk rasa bersalahmu padaku. Kamu merasa kalau kamu mencintaiku karena ingin menebus kesalahan yang kamu perbuat. Kamu salah jika berkata itu adalah cinta karena faktanya semua itu hanya rasa menyesal, bukan cinta."


"Hanya aku yang tahu bagaimana aku jatuh hati." Suara Jihoon semakin lirih. "Hanya aku yang tahu bagaimana jantungku berdetak kencang saat memikirkan orang yang aku cintai dan hanya aku yang tahu—bagaimana jantung ini berdetak saat bersamamu."


Jemari Jihoon mengusap sebelah pipi Younha yang kini mulai mau menyusup pada pupil kelamnya. Bagaimana mata itu bergetar menahan rasa yang terendam di hati, bagaimana mata itu mengungkapkan dalam diam rasa yang sebenarnya. Jihoon dapat melihat itu, tatapan Younha penuh hal tersembunyi tapi Jihoon tetap bisa membacanya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Younha-ya."


"Tidak, kamu mencintai Hyejin. Jangan berbohong pada hatimu sendiri."


Kelopak mata Jihoon berkedip menahan perih melihat wajah Younha yang memerah karena juga menahan dirinya agar tidak menangis. Hatinya menjadi sensitif setiap berbicara dengan Jihoon dan segala omong kosong tentang cinta antara mereka.


"Kamu mencintai Hyejin, Jihoon-na." Younha memperjelas.


Lirih suara Younha masuk ke gendang telinga Jihoon yang sedikit pengang, iris mereka terhubung seolah bisa membagi afeksi dari hati masing-masing. Younha menjatuhkan air mata pertamanya yang langsung ditepis jempol Jihoon.


"Kenapa kamu menangis?" Tanya pria itu dari jarak yang sangat dekat. "Mata indahmu memberitahuku semua isi hatimu, lalu mengapa bibir ini berbohong? Padahal ada rasa tidak rela yang mencekikmu dari dalam. Aku tahu semuanya."


Younha terdiam sambil mengulum bibir bawahnya.


"Katakan saja yang ingin kamu katakan Younha-ya, katakan yang sebenarnya. Hatimu akan menerima itu, rasanya akan sangat menyenangkan." Jihoon berusaha menuntun kemana hati Younha akan tergerak. "Kamu boleh menyatakan cinta sekarang karena aku juga melakukan hal yang sama."


Younha menggeleng. "Sudah berakhir, tidak ada lagi kita."


Jihoon menepikan helaian rambut Younha lalu kembali menatap monolidnya penuh harap, menunggu bibir mantan istrinya terbuka untuk mengucapkan kalimat yang sudah ia nanti-natikan. Namun Younha malah menangis dan memegangi dadanya yang terasa sesak dan terhimpit, ia menghela napas panjang berpikir mungkin rasa mencekik itu akan hilang dengan sendirinya tapi ternyata Younha salah, semakin dia mengabaikan keinginan hatinya semakin dalam rasa sakit itu menyiksanya.


"A-Aku mencintaimu." Younha membuka mulutnya dengan bola mata bergerak gusar. "Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu—aku tidak tahu, aku hanya tidak bisa berhenti mencintaimu."


Jihoon mengangkat dagu Younha. "Aku juga mencintaimu, sangat."


Bibirnya mendarat lebih dulu di belah ranum milik Younha yang langsung dibalas tanpa menunggu, kedua lengan rantingnya mengalungi leher Jihoon sambil memperdalam ciuman yang sama-sama mereka rindukan. Younha tidak ingin memikirkan hal lain dulu, hanya fokus untuk menikmati momen bersama Jihoon dalam dekapannya dan membawa cumbuan itu menjadi lebih dalam dan intens.


Tangan Jihoon mengusuk punggung sempit Younha, kemudian merebahkannya ke ranjang—tidak peduli dengan mangkuk es yang jatuh ke lantai berhamburan. Mereka hanya terus menyalurkan rindu dalam bibir yang sama-sama tidak mau mengalah.


...*****...


Orang mungkin tidak tahu jika Jihoon hilang kewibawaan saat tidur, seperti bayi yang tidak berdosa. Younha melihat dalam diam, sedikit mengulas senyum tipis selagi dia memainkan telunjuknya di hidung Jihoon—dari pangkal tulang hingga ujung.


Jihoon tertidur sejak tiga puluh menit yang lalu. Dari pengaruh obat, demam dan rasa lelah membawa kantuk.


"Aku tidak tahu setelah ini akan terjadi hal baik atau buruk, Mas." Younha menarik selimut Jihoon sampai dada.


Teringat akan anak-anak di ruang tengah, Younha melirik jam dinding sebelum menurunkan kaki ke lantai, melihat hujan deras dari jendela. Langkahnya perlahan menuju ruang dimana suara anak-anak tidak terdengar lagi, Younha sempat celingukan berpikir mungkin kedua putranya bermain di kamar. Namun ternyata dua bocil itu sudah terlelap di sofa sambil berpelukan. Younha tersenyum gemas kemudian memindahkan tubuh mungil itu ke kamar satu persatu.

__ADS_1


Hari sudah menjelang sore, Younha yang berniat untuk membuat sup asparagus beralih ke ruang tengah sejenak untuk mengambil ponselnya. Melihat beberapa notifikasi masuk dan ada satu pesan yang membuat dahinya mengernyit tiba-tiba.


Terdapat pesan dari Woojin di urutan ke tiga. Tidak ada basa-basi, hanya sebuah lokasi.


Kafe Gracious, dua puluh menit dari apartemen Sohyatt.


Awalnya Younha mengira itu hanya pesan iseng, namun dia tetap mengganti pakaian dan bersiap pergi. Younha juga sudah menelfon dua baby sister kepercayaan untuk menjaga Yeonjun dan Seojun jika sewaktu-waktu bangun, pun bibi Jarim untuk memasakkan sup dan menu makan malam.


Younha sampai di gerbang masuk apartemen dan menghentikan sebuah taksi yang lewat lalu mengatakan lokasinya, Kafe Gracious. Dia tidak mengerti kenapa menyusul Woojin kesana padahal Jihoon dan anak-anak ada di rumah sekarang.


"Dua jam yang lalu, bodoh banget sih kamu Younha." Ia memaki dirinya sendiri ketika sadar pesan yang Woojin kirimkan adalah dua jam yang lalu.


Namun, Younha tetap masuk dan melihat kafe mewah itu sedikit legang pengunjung. Younha mendekati meja pelayanan kemudian bertanya apa ada seorang pria bernama Woojin? Pelayan wanita itu mengangguk lalu mengantar Younha ke ruang VVIP dimana Woojin masih berada disana.


Tungkai ramping Younha berjalan mengikuti kemana dirinya diarahkan melewati anak tangga hingga sampai di lantai tiga kemudian menyusuri lorong-lorong yang dihiasi gemerlap lampu kecil. Mereka sampai didepan pintu dengan palang nama VVIP 1, pelayan wanita itu membuka pintu dan mempersilahkan Younha masuk.


"Kak Woojin?" Younha bersuara saat melihat punggung pria yang memakai kemeja biru itu berdiri di balkon sambil menyesap satu gelas Wine.


Woojin menoleh, berhadapan dengan Younha tanpa memajukan langkah.


"Kamu kesini?"


"Kamu yang share loc lebih dulu." Younha bersedekap. "Kamu ngapain sih disini?"


Woojin tersenyum miring, menyesap Winenya sekali lagi sebelum meletakkannya di meja kecil tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Harusnya kamu yang bertanya pada dirimu sendiri, Younha. Kenapa datang hanya karena aku share loc? Kenapa? Kamu mulai perhatian dan khawatir denganku?" Woojin berdecih, menjatuhkan tatapan ke bibir Younha. "Padahal kamu sedang bersama Jihoon 'kan?"


"Kak—"


Pria itu memajukan langkah untuk meletakkan dagunya di bahu Younha tanpa mengulurkan tangannya untuk menyentuh tubuh wanita yang sangat dihargainya itu.


"Bukan tanpa alasan kamu datang 'kan?" Bisik Woojin. "Kenapa, hm?"


Younha tidak menjawab, tidak juga berusaha menyingkirkan tubuh pria itu—yang membawanya ikut jatuh sebab Woojin pingsan dalam pengaruh alkohol.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2