About You : Cinta & Pengorbanan

About You : Cinta & Pengorbanan
Rasa Rindu


__ADS_3

"Ayah sudah menjemput Ibu untuk kembali ke Korea bersama, dia ingin bertemu denganmu." Hyejin mengeratkan pelukannya di pinggang Jihoon, dari belakang. "Ibu ingin mengenal calon menantunya, Mas."


"Hmm." Jihoon mengangguk, menatap tautan tangan Hyejin di perutnya lalu dielus pelan. "Kamu sudah memaafkanku?"


"Aku tidak bisa marah padamu, aku takut."


Jihoon membalikkan badannya, menatap wajah manis Hyejin yang mendongak untuk mencuri atensi iris kelamnya.


"Aku baru sadar jika selama ini, tidak pernah sekalipun aku mengatakan hal yang seharusnya aku katakan." Hyejin meraih tangan Jihoon untuk digenggam. "Maaf, kata yang tidak pernah aku ucapkan adalah Maaf Jihoon. Benar katamu jika aku tidak ingin sedetikpun fokusmu hilang dariku, bukannya aku bermaksud untuk membuatmu terkekang—tapi rasa takutku, entah mengapa aku selalu takut kamu pergi meninggalkanku. Maaf Jihoon."


Jihoon tampak kasihan, irisnya menjadi redup saat ingin merengkuh tubuh Hyejin dan mengusap punggungnya. Namun, keraguan Jihoon sudah diambang dan hampir saja menyerah dalam hubungan ini. Sementara Hyejin sendiri tidak terlalu yakin, tapi dari tatapan Jihoon saja membuatnya paham kalau itu hanya binaran kasih sayang dan rasa iba. Hyejin tidak tahu, tapi dia tidak bisa melihat cinta yang sesungguhnya dari mata Jihoon.


"Oh ya, aku juga ingin mampir ke apartemen kak Woojin hari ini." Hyejin menarik tangannya lalu mengganti topik pembicaraan saat dirasa situasi mereka mulai canggung dan saling menutupi. "Tapi kalau kamu ada jadwal kantor, aku bisa sendiri."


"Tidak, hanya rapat tim biasa, June bisa mengatasi." Sela Jihoon cepat yang membuat Hyejin tersenyum lebar.


"Baiklah, kalau begitu bisa kita mampir ke toko roti dulu?"


"Uhm." Angguk pria itu. "Ingin bawakan apa untuknya?"


"Mungkin dessert box dan tequila? Kak Woojin suka kue tart." Jawab Hyejin. "Kalau begitu, aku akan bersiap."


Wanita itu pergi untuk berbenah. Jihoon menunggu di sofa ruang tamu sambil memeriksa report karyawan dari tablet tipisnya. Selama meneliti beberapa laporan itu, dahi Jihoon terus berkerut merasa ada yang tidak enak dengan hatinya.


...*****...


Woojin memungut pakaian Younha yang berserakan di lantai konter dapur dan menaruhnya keatas kursi. Dia bejalan kearah kulkas sambil tersenyum, memikirkan kegiatan semalam yang sangat bergairah, bagaimana Younha beberapa kali ingin mengendalikan tubuhnya dan melepaskan de*ahan paling indah yang tak pernah Woojin dengar sebelumnya. Hingga Woojin bangun tidur lebih dulu, ia masih mendapati wajah cantik Younha tertidur menghadap kepadanya dengan tangan yang masih memeluknya.


Dding! Ddong!


Pria itu melirik jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh pagi, dia sudah menyampaikan pesan pada seorang karyawannya bahwa dia izin tidak ke kantor hari ini. Tidak menyangka akan dapat tamu, jarang sekali ada yang datang ke unitnya karena dia lebih sering berjumpa kolega di luar. Dengan langkah gontai, pria itu melangkah dan membuka pintu—lalu tersentak saat langsung bersitatap dengan Jihoon, dia bahkan tidak memerhatikan Hyejin yang tersenyum kepadanya.


"Selamat pagi kakak Woojin." Sapa Hyejin menyodorkan satu bungkusan plastik berisi desert box dan tequila. "Wah, kamu terlihat berantakan—seperti habis bersenang-senang. Apa kami mengganggu?"


"Ya, sangat mengganggu." Jawab Woojin bercanda. "Ada apa datang pagi-pagi Hyejin-na?"


"Aku dan Mas Jihoon ingin bertemu Ibu, kemarin baru datang ke Korea bersama ayah. Tapi kami sengaja mampir dulu kesini."


Woojin mengangguk kecil.


"Jadi, kami tidak dipersilahkan masuk, kak?" Hyejin mengintip kedalam unit Woojin karena pria itu memang hanya membukanya sedikit sekali.


"Ah, ya. Masuklah."

__ADS_1


Woojin membuka pintu lebar-lebar, membiarkan dua orang terdekatnya masuk. Saat berbalik setelah menutup pintu, Woojin baru sadar jika Jihoon malah terdiam sambil terus menatap sneakers putih kombinasi biru di dekat rak sepatu Woojin. Pria itu mengernyit karena merasa tidak asing dengan sepatu itu lalu balik menatap Woojin dengan satu alis terangkat seolah bertanya. Namun, Woojin pura-pura tidak tahu, lalu melangkah lebih dulu untuk mengamankan pakaian Younha di konter dapur.


"Duduk dulu saja, akan aku siapkan minum." Woojin menunjuk ruang tamunya.


"Ah, kak Woojin ini seperti sama siapa. Santai saja, kak. Tidak perlu repot-repot." Komentar Hyejin, duduk bersisihan dengan Jihoon.


"Kalian sudah seserius itu?" Tanya Woojin sambil menuangkan jus kotak kedalam gelas. "Sampai ingin bertemu Paman dan Bibi."


"Tentu, Ibu sangat penasaran dengan Mas Jihoon. Mungkin kami juga akan membicarakan tentang pernikahan."


"Kalian langgeng sekali."


"Do'akan yang terbaik ya, Kak."


"Tapi, kamu akan menikah dengan Jihoon apa sudah bisa mengambil hati Yeonjun dan Seojun? Bagaimanapun kalian akan menjadi keluarga, harus dekat dan saling menyayangi bukan hanya ayahnya saja." Lanjut Woojin.


Hyejin tersenyum kecut. "Aku dan anak-anak bisa dikatakan dekat, Yeonjun bahkan sudah mau memanggilku bunda. Tapi akhir akhir ini kami tidak bisa saling menyapa. Younha melarang Mas Jihoon untuk bertemu mereka. Egois sekali."


Woojin tertawa. "Kamu tidak bisa mengatakan Younha egois Hyejin-na. Harusnya kalian sadar dengan apa yang sudah kalian lakukan terhadapnya. Pikiran bagaimana rasanya jadi dia, kamu pasti juga akan mengerti."


Hyejin terdiam seketika, tapi tetap tidak merasa bersalah. Dia sudah terlalu benci pada Younha.


"Aku tidak memihak siapapun." Kata Woojin yang dihadapkan untuk Jihoon.


"Jihoon, kamu yakin akan menikahi Hyejin? Jangan sampai kamu menyakitinya kelak."


"Kak Woojin jangan aneh-aneh deh. Mas Jihoon tidak akan menyakitiku." Hyejin menyahut gemas.


"Aku yakin menikahi Hyejin, jangan khawatir." Jihoon tersenyum tipis.


Woojin mengangguk, irisnya menatap lurus Jihoon dengan senyum kecil namun terangkat sedikit dari sudut bibirnya.


"Kak Woojin—"


Semua mata teralih pada panggilan serak suara dari lorong kamar, reaksi yang mereka bertiga berikan sama, melotot dan terkejut setengah mati. Terutama Jihoon yang terasa seperti dihantam beban beribu ton lalu disiram air es, hatinya ngilu dan sakit saat melihat Younha.....


Younha dalam kondisi kacau, kemeja Woojin di tubuhnya dan kaki telanjang penuh hickey mengotori mulusnya.


Jihoon tidak pernah tahu rasanya patah hati sebelum bersitatap dengan raut terkejut Younha disana. Melihat kondisi fisik wanita itu seolah mengejeknya yang hanya bisa merindu dalam diam dan jauh—disaat dia berbagi rindu dengan pria lain.


Tungkai kiri Jihoon menjadi pertama kali yang melangkah dari sofa, mendekati Younha yang juga seperti terpaku di lantai marmer dengan kaki yang sulit digerakkan.


Tautan mata mereka sama sekali tidak terputus, sampai Jihoon meraih pergelangan tangan Younha hati-hati untuk digenggam erat. Mereka berhadapan dan saling menatap dalam diam. Perlahan Younha dapat mencium aroma maskulin mantan suaminya yang kembali membangkitkan memori.

__ADS_1


"Kenapa kamu disini?" Bisik Jihoon dengan senyum menyedihkan penuh sendu. "Younha, kamu tidak tahu arah jalan pulang?"


Younha mulai tersadar, sambil berusaha menarik pergelangan tangannya dari cengkeraman pria menjijikkan itu.


"Harusnya kamu memberitahuku jika tidak tahu jalan pulang, Younha-ya." Manik Jihoon berkaca-kaca lalu melanjutkan bisikannya. "Aku akan mengantarmu."


"Lepaskan aku, Lee Jihoon!!" Desis Younha merasa marah.


"Kamu pasti lupa jalan pulang 'kan?"


"Berhentilah bicara omong kosong!" Younha berhasil menarik pergelangan tangannya saat Jihoon lengah. "Suatu kesialan melihatmu lagi!"


Saat Younha berbalik hendak kembali ke kamar Woojin, pergelangan tangannya pun diraih hingga tubuh kecilnya berhadapan lagi seperti semula—Jihoon bisa merasakan semuanya, dari iris dan kulit yang saling bersentuhan. Semua memori kelam itu kembali hadir.


Mengingat apa yang telah ia lakukan kepada Younha, saat waktunya habis tanpa mau menghargai segala afeksi yang wanita itu berikan, bagaimana caranya berpura-pura tersenyum dan mencari alasan untuk bertemu dengan yang kedua. Bagaimana caranya bersikap seolah-olah peduli untuk menutupi akting buruknya. Hingga dimana hari perpisahan itu tiba—Younha tidak berubah. Dia merawat dan mengurus Jihoon dengan tulus seperti biasanya tanpa rasa marah ataupun dendam.


Mereka tidur seranjang tapi saling membelakangi. Tidak ada lagi rengekan yang selalu Jihoon dengar setiap malam karena Younha ingin memelukknya sampai pagi. Tidak ada lagi keluh kesah dari bibir Younha sebagai pengantar tidur. Tidak ada lagi usapan kecil saat Younha bangun tengah malam karena mimpi buruk, lalu minta ditemani bangun hingga pagi. Tidak ada lagi cerita lucu tentang anak-anak yang bisa membuat lelah Jihoon hilang seketika.


Jihoon baru merasakannya sekarang, saat semuanya sudah hambar. Dia baru merasa semua kebahagiaan kecil Younha saat mereka menikah dan sisanya hanya penderitaan yang memenuhi batinnya.


Semua memori itu memaksa Jihoon untuk sadar dan merenungi apa yang sudah ia lakukan.


"Maafkan aku." Air mata jatuh dari netra Jihoon, untuk pertama kali. "Aku menyesal."


Alis Younha yang menukik perlahan lunak dengan mata ikut berkaca-kaca. Melihat bagaimana pria itu menangis, membuat Younha tidak tahan untuk memeluknya. Namun, hati yang sudah terlampau sakit mengubah segala iba itu menjadi rasa muak. Bola matanya bergulir ke belakang tubuh Jihoon dan langsung bersitatap dengan manik penuh kebencian dari Hyejin disana—yang berdiri ke arah mereka dan menatap keduanya dengan getir.


"Menyesal pun tidak bisa memutar waktu." Bibir Younha bergetar. "Bahkan jika diberi kesempatan untuk memutar waktu kembali, aku akan memilih tidak pernah bertemu denganmu. Aku tidak akan mau—tidak pernah mau dicintai olehmu. Aku sangat bersyukur mesin waktu itu tidak benar-benar ada."


"Younha-ya—"


Tangan Jihoon mengendur perlahan, tapi Younha tidak berusaha menarik seperti semula.


"Aku tidak butuh—"


"Rasa rinduku." Jihoon menggeleng pelan, penuh kesedihan. "Kamu yang tidak ada di sampingku menimbulkan lubang hitam yang sulit untuk disembuhkan. Aku merindukanmu, Younha-ya."


"Tidak ada artinya!" Younha menarik tangannya. "Pikirkan apa yang sudah kamu lakukan padaku dan anak-anak. Semua hal besar yang selalu kamu anggap kecil dan tak berarti. Jika sudah sadar—kamu akan mengerti kenapa kamu tidak pantas sama sekali untuk merindukan rumah lamamu. Pikirkan itu!"


Younha segera berbalik dan berjalan cepat menuju kamar Woojin. Ia sedikit pusing karena dihantam Hangover, dia baru ingat jika semalam mabuk tapi tidak melupakan apa yang ia lakukan bersama Woojin hingga bisa menggeser posisi Jihoon walau hanya sesaat.


Sementara Jihoon masih berdiri dengan pikiran kacau. Dia terlalu naif, harusnya dirinya sadar jika rindunya adalah hal paling menjijikkan.


Jihoon baru sadar jika sekarang—dia benar-benar kehilangan Younha-nya...

__ADS_1


...*****...


__ADS_2