
"Younha-ssi!"
Suara familiar, nada yang menyenangkan dan tidak asing lagi di telinga Younha. June—sekretaris Jihoon menghampirinya yang sedang menunggu salinan berkas di depan mesin fotocopy.
"Hai, June-ssi." Sapa Younha ramah. "Sedang apa? Tidak menemani Pak Jihoon?"
"Aku kebetulan lewat, habis dari pantry." June tersenyum tipis. "Oh, Pak Jihoon—aku diusir setelah Bu Hyejin masuk ruangannya."
"Hyejin?" Younha menanggapi dengan senyum muram.
"U-Uh ya." June mengangguk kikuk, agak heran mengapa Younha bisa seakrab itu memanggil putri Komisaris. "Kamu dekat dengan Bu Hyejin?"
Younha berdecih. "Tidak, tuh."
"Oh, kupikir kalian dekat karena menyebut namanya begitu saja."
"Hyejin, Hyejin, Hyejin." Younha sengaja mengulang tiga kali. "Memangnya kenapa kalau aku menyebut Hyejin?"
June menggeleng, tidak ingin melanjutkan pembicaraan tentang putri komisaris. Pria itu mengusuk tengkuk sebelum mengatakan sesuatu,
"Younha-ssi, sebenarnya aku—"
"Younha-ssi!"
Keduanya sontak menoleh pada asal suara yang memotong omongan June. Seorang dari devisi yang dipimpin Hyejin, wanita berambut sebahu yang menjadi tangan kanan Hyejin melangkah dengan angkuh dan ekspresi dingin mendekati mereka. Younha dan June memberi hormat. Sebelum Younha sempat bertanya, wanita itu berkata lebih cepat.
"Bu Hyejin menunggumu di Greenhouse lantai 14. Lima menit, tidak lebih."
Wanita itu pergi setelah berkata, benar-benar menyebalkan. Dalam hati Younha menebak nebak, tidak ada urusan yang lebih penting dari bertengkar jika berhadapan dengan wanita itu. Tapi kenap Greenhouse? Ah, Younha baru ingat bahwa tempat itu tidak memiliki CCTV—kiranya apa yang ingin Hyejin katakan?
"Wah, Greenhouse?" June tertawa kecil. "Kalian akan minum teh dan ngobrol santai? Aku iri sekali."
"Ngobrol santai?" Sahut Younha dengan nada sinis. "Aku penasaran, akan sesantai apa nanti?"
__ADS_1
...*****...
Younha melangkah tanpa ragu, memasuki ruangan yang penuh tanaman hijau dan bunga di atas lantai 14, netranya langsung menatap punggung seorang wanita yang membelakangi pintu menghadap jendela kaca menembus penjuru kota. Younha tidak berniat mengucapkan permisi, ketukan sepatu hak tingginya cukup memberitahu bahwa dia telah sampai.
"Enam menit, apa kau karyawan yang tidak patuh pada perintah atasan?"
Younha mengumpat dalam hati, tidak merasa takut ataupun terintimidasi dari perkataan Hyejin walau ia sudah menduga jika hal tidak menyenangkan akan terjadi. Hyejin berbalik badan menghadap Younha, wanita dengan stel kantor abu-abu itu menyeringai kecil lalu memajukan langkah hingga tersisa jarak setengah meter dari mereka.
Hening, mereka hanya saling bersitatap untuk sesaat.
Plakkk!!!
Suara nyaring mungkin tidak seberapa, tapi rasa panas yang menjalar setelahnya dari pipi Younha merambat sampai kepala hingga terasa kebas untuk sesaat. Younha memegangi pipi merahnya yang baru saja kena hantam tangan kecil Hyejin—Younha berdecih, menatap balik manik kembar yang sedang menghakiminya dengan pelototan.
"Sekarang apa lagi? Cih, kamu sengaja memilih tempat tanpa CCTV demi menyembunyikan kebejatanmu untuk menyakiti karyawan?" Mata Younha berkilat menahan perih.
"Apa yang kau lakukan bersama kekasihku selama di Busan?!" Kalimat Hyejin penuh penekanan.
Hyejin mencengkeram kerah baju Younha dan mendorongnya hingga bertabrakan dengan meja di sampingnya. Wanita itu menatap Younha penuh dendam.
"Jangan menantangku, Younha!!"
"Kalau begitu tanyakan langsung pada kekasihmu itu! Jangan membantaiku seperti ini. Kenapa kau selalu memojokkanku seolah aku yang salah?" Younha menyingkirkan tangan Hyejin dengan kasar. "Kau pikir atas kemauan siapa ini terjadi? Lee Jihoon!! Harusnya kau mengajarinya agar tidak menyalahgunakan jabatan."
"Kau bisa menolaknya—"
"Dia akan memecatku, walau terdengar seperti lelucon." Sahut Younha geram. "Aku tidak sekaya dirimu hingga tidak khawatir akan dapat uang dari mana. Hanya pekerjaan ini yang menghidupiku dan anak-anak."
Suara Hyejin tercekat di tenggorokan, matanya bergerak tak tahu arah.
"Aku juga bingung dengan sikap Mas Jihoon dan kau terus memperlakukanku seperti ini membuatku tertekan." Helaan nafas panjang Younha terdengar jelas bersama kerjapan matanya yang mulai melunak. "Aku tidak membencimu karena kamu orang yang dicintai Jihoon. Aku berharap kamu dapat bahagia bersamanya dan menjalani hidup lebih baik dan benar. Jangan ganggu aku lagi, kumohon—aku sudah menderita karena kalian selama lima tahun ini. Jadi, biarkan aku hidup dengan tenang dan anggaplah semua ini tidak pernah terjadi di antara kita."
Mereka terdiam beberapa saat, Hyejin mengepalkan tangannya menahan amarah.
__ADS_1
"Jauhi Jihoon!" Katanya menggebu-gebu. "Jaga jarak dengannya, jangan berbicara ataupun menjawab telepon, dan jangan temui dia saat datang ke rumahmu untuk melihat Yeonjun dan Seojun. Atau larang saja anakmu bertemu dengannya. Putuskan semua kontakmu dengan Jihoon, kalian harus menjadi orang asing!"
Dahi Younha mengerut. "Aku bisa melakukan semuanya kecuali melarang Mas Jihoon bertemu dengan anak-anak. Jihoon ayah mereka! Aku tidak bi—"
"Aku tidak mau tahu!!" Hyejin menyentak. "Turuti perkataanku atau mungkin aku perlu mengancam lewat anak-anakmu?"
Pupil Younha melebar seketika, ia meraih tangan Hyejin yang berjalan melewatinya. "Mereka tidak ada sangkut pautnya dengan masalah kita. Jangan seret mereka dalam permainan licikmu, brengsek!!"
Hyejin tersenyum miring. "Terserah, aku hanya mengingatkan."
"Hyejin!!"
Teriakan Younha tidak dihiraukan oleh Hyejin yang pergi sambil menenteng tas mahalnya, meninggalkan Younha dengan perasaan cemas. Tatapan dan ancaman Hyejin terlihat nyata untuk dikatakan sebagai angin belaka. Tanpa terduga, wanita itu mungkin menyuruh orang lain untuk mencelakai Yeonjun dan Seojun.
Younha harus berhati-hati.
...*****...
"Aku menunggumu untuk menyerah lebih dulu tapi, kamu malah mengatakan cinta itu pada orang lain!"
Kalimat itu terus menghantui di setiap pergerakan Jihoon, membawanya untuk terus larut pada rasa bersalah yang tidak akan pernah termaafkan. Jihoon mengusap layar ponsel yang menunjukkan fotonya tengah dipeluk Younha dengan erat—dengan senyum tulus yang selalu ditunjukkan oleh wanita itu, seolah menyayat hatinya yang terus berharap jika hari untuk kembali itu masih ada dan mau menerima perasaan busuknya.
Jempol tanganya bergerak ke kanan dan kiri membelai lembut wajah cantik Younha yang kini tak bisa ia sentuh lagi. Dengan senyum getir, pria itu menyampaikan sejuta rasa sayangnya tanpa kata, ingin memberitahu bahwa Jihoon mencintainya. Namun, kenyataan menamparnya telak bahwa selama ini dia sering membuat Younha kesepian. Dia selalu meninggalkan Younha sendirian.
Harusnya dia siap jika hari ini, Younha lah yang akan pergi meninggalkankan untuk menemui pria lain yang bisa memberikannya perhatian penuh—dan menemaninya setiap hari.
Satu lembar kertas lagi, Jihoon ingin menuliskan sesuatu untuk Younha dalam satu lembar kertas yang masih bersih. Setelah menyelesaikan satu surat yang kini telah ia kemas dalam amplop putih—tidak tahu Younha akan membaca dan menerimanya atau malah merobek kertas itu tepat didepannya. Jihoon pasrah.
Sementara lembar berikutnya, pria itu akan mengirimkan langsung ke apartemen Younha dengan satu buket bunga Lily putih kesukaannya. Hanya seperti kejutan, bunga dan surat itu tanpa nama hingga secarik kertas yang terselip amat kecil namanya di pojok paling bawah tepat setelah kalimat penutup.
Untuk Younha-ku, Jihoonnie.....🥀
...*****...
__ADS_1