About You : Cinta & Pengorbanan

About You : Cinta & Pengorbanan
Tentang Kebahagiaan


__ADS_3

Empat bulan kemudian...


Younha memegang tangan Yeonjun yang memegang sebuket bunga, sambil terus menyusuri rerumputan pendek dan melihat satu persatu nisan yang tertanam rapi. Beberapa kali bocah itu bertanya tentang apa itu kematian? Apa mereka akan berkumpul di surga dan bersama di kehidupan selanjutnya? Younha menjawab hati-hati dan masuk akal di pikiran anak kecil.


Beberapa kali juga bocah itu bertanya pada Woojin yang menggendong Seojun di samping Younha. Tapi jenis pertanyaan Yeonjun agak nyeleneh dan membuat Woojin frustasi—seperti apa orang mati akan bangkit sendiri dari kuburannya dan menjadi zombie? Atau arwahnya akan menjadi Malaikat seperti yang ada di buku dongeng?


Yeonjun memang suka hal-hal seperti itu, namun melihat bagaimana anak berusia lima tahun melayangkan pertanyaan aneh itu jadi cukup mengerikan.


Langkah kaki kiri Younha menjadi penutup saat sipitnya menangkap eksistensi dari punggung seorang pria yang kini sudah berada di samping makam sang Ayah—yang sudah bersih dengan satu buket bunga Lily diatasnya. Tanpa perlu menoleh pun Younha tahu siapa sosok pria itu.


Pegangan tangannya makin mengerat di tangan Yeonjun, ia bahkan sedikit memundurkan langkah hingga membuat Woojin sadar apa yang sedang Younha lihat.


"Ayah...?" Yeonjun bersuara lirih, matanya itu menyipit untuk memastikan. "Itu Ayah 'kan, Mama?"


Younha memandang kedua anaknya bergantian. Bagaimana raut bersemangat itu terlihat memohon untuk segera memeluk sang Ayah setelah hampir lima bulan tidak bertemu apalagi saat Yeonjun menarik narik bajunya dengan pingpong memohon, meminta izin agar dapat menerjang pria yang kini sudah menatap mereka dari samping makam.


Mendadak Younha kembali bingung, perasaannya campur aduk.


"Tidak boleh ya, Mama?" Yeonjun merengut, bahunya merosot. "Apa kita pulang saja?"


"Younha-ya." Woojin menepuk sebelah bahu Younha lalu memberikan gestur anggukan. "Dia Ayah anak-anak. Percuma kamu menjaga mereka jika pada akhirnya mereka bertemu juga. Tak apa, Younha-ya."


Younha tampak ragu. Dia ingin egois, namun kenyataan bahwa darah Jihoon mengalir di tubuh Seojun dan Yeonjun tetap tidak bisa dibantah. Dengan berat hati, Younha melepaskan tangan Yeonjun.


"Pergilah, temui Ayah."


Bocah itu berlari sambil merentangkan tangan dan langsung mendapat balasan pelukan yang lebih erat dari Jihoon. Betapa leganya hati Jihoon bisa melihat anak-anaknya kembali bahkan kini diberi kesempatan untuk berpelukan—semakin membuatnya erat mendekap putra sulungnya.


"Yeonjunnya Ayah." Bisik Jihoon sedikit menahan rasa sesak. "Bagaimana kabarnya, baik?"


"Baik!" Yeonjun menjawab riang. "Adek Seojun sudah bisa berlari! Kemarin kakak lomba lari sama adek."


"Ayah rindu sekali sama kakak." Jihoon mengusuk rambut putranya.


"Kakak juga rinduuu sekali sama Ayah." Bocah itu makin mendusel ke leher Jihoon. "Oh, Ayah sakit? Kenapa badan Ayah panas?"


"Ayah tidak apa-apa." Jihoon tersenyum simpul. "Rasanya Ayah sangat rindu dengan kalian. Ayah pikir tidak akan melihat senyum kakak lagi."

__ADS_1


Younha dan Woojin sampai didepan keduanya. Jihoon segera bangkit dan memandang Younha yang menunduk dan membuang pandangan darinya lalu melirik Seojun yang berada di gendongan Woojin. Ingin rasanya Jihoon memeluk bayi gemasnya, namun melihat Younha murung—dia tidak mau membuat rasa sesak Younha bertambah.


"Kakak, ayo ikut om Woojin!" Pria itu sengaja membawa Yeonjun dan Seojun pergi dan membiarkan Younha berbicara dengan Jihoon.


Jihoon mengikuti arah kemana anaknya pergi dengan tangan Yeonjun yang melambai padanya. Kemudian meneleng untuk melihat wajah Younha dari samping—yang tampak redup sembari mengusap makam sang Ayah.


"Kenapa kamu datang kesini?" Kata Younha tanpa menoleh.


"Mengirim do'a untuk Ayah."


"Ayah? Dia bukan Ayahmu, jadi kamu tidak perlu datang ke makamnya lagi." Younha berkata ketus. "Ayah pasti juga tidak ingin dikunjungi oleh orang sepertimu, jangan persulit Ayahku di alam lain."


"Tidak bisakah kita bicara baik-baik?" Jihoon tampak frustasi.


"Apa yang mau dibicarakan?" Younha mendengus gemas. "Jangan buat dirimu sengsara dengan cara seperti ini, berbahagialah Lee Jihoon."


"Benar, mungkin selama ini aku memang tidak bahagia sampai kamu berkata bahwa aku harus bahagia."


Younha melirik kecil, agaknya mulai menerima apa yang mantan suaminya ingin katakan.


"Jihoon, bicaramu sudah aneh." Younha menyela.


"Tak semua orang memiliki hidup yang mudah bahkan jika sudah berusaha. Adakalanya dunia ini tidak mengizinkan bahagia." Lirih Jihoon menatap lurus makam didepannya, merasakan hembusan angin bersama omongan yang mengalir dari dalam dirinya.


"Hidup ini tidak seperti matematika, tidak ada jawaban dan cara menghitung yang paling benar. Kita hanya diberi soal lalu penyelesaiannya terserah kita."


"Kebahagiaanku." Jihoon melanjutkan, senyum miris terlihat dari bibir pucatnya. "Aku tidak tahu bagaimana menyelesaikannya."


Younha benar-benar menoleh dan menelisik wajah mantan suaminya. Tatapan kebencian beberapa saat yang lalu perlahan berubah jadi iba.


"Kamu salah."


"Kenapa?"


"Tidak penting."


Jihoon mengendus pelan. "Kamu barusaja menyalahkanku tapi tidak memberi jawaban yang benar?"

__ADS_1


"Kamu sudah selesai dengan kebahagiaan itu, hanya saja kamu tidak merasakannya." Ucap Younha. "Sebelum membuat orang sekitarmu bahagia, carilah kebahagiaanmu lebih dulu. Egois tidak selalu buruk. Egoismu bersama Hyejin adalah wujud kebahagiaanmu. Mungkin kamu terlalu bahagia bersamanya hingga lupa membuat bahagia pada orang lain di sekitarmu."


Younha terdiam sesaat.


"Kamu sudah bahagia, Jihoon."


Jihoon mengangguk kecil tapi dahinya terus berkerut, perkataan Younha selalu mutlak dan membuatnya kalah dengan segala yang sudah pria itu perbuat. "Selama empat bulan ini, aku tidak bisa tidur nyenyak karena terus memikirkan sesuatu yang kuharap dapat dimulai dari awal. Aku menunggu kesempatan." Jihoon berkata sesuai yang dituntun hatinya, dengan intonasi rendah yang memilukan.


"Aku tidak penasaran."


"Bersamamu."


"Berhentilah membual Jihoon!" Geram Younha dengan intonasi rendah.


"Aku menunggu kesempatan Younha-ya—"


"Aku hamil."


Bulu mata Jihoon bergerak lambat bersama pupil yang agak melebar. Senyum yang terukir tipis di wajahnya perlahan memudar ditiup angin pemakaman.


"Kamu tahu jika kesempatan kedua hanya omong kosong untuk merasa kecewa lagi? Manusia boleh menyesal, tapi mereka tidak akan mendapatkan kesempatan yang sama seperti dulu." Younha melanjutkan. "Kamu sedang melakukan hal yang sama sekarang. Menyia nyiakan orang yang ada di sisimu. Apa kamu mau menyesal dua kali? Jangan seperti itu. Perlakukanlah Hyejin dengan baik—" Younha sedikit melirik Jihoon. "—yang tidak pernah kamu lakukan pada orang sebelumnya."


"Apa..... anak Woojin?" Jihoon berkata dengan tatapan kosong.


Younha meremas ujung bajunya. "Ya."


"Kalian sudah sejauh itu?"


"Ya." Suara Younha tercekat. "Jadi, jangan bicara omong kosong dan tidak berguna lagi. Kamu sudah bahagia bersama Hyejin dan aku akan menyusul kalian. Bukankah ini hal yang bagus?"


Iris mereka bertaut, tanpa emosi, tanpa pertanyaan, dan tanpa keraguan. Hanya saling bertukar lihat dalam kelam.


"Selamat Younha-ya, kamu harus bahagia bersama Woojin."


Pria itu pergi tanpa kata lagi, meninggalkan Younha yang kini tersungkur di samping makam sambil menangis—hampir tidak percaya bahwa mereka benar-benar saling melepaskan.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2